uztads, motor dan kopi

Kritik, bagaimanapun pahitnya sdh selayaknya diterima dg lapang dada.

Hanya itulah salah satu cara ampuh utk meningkatkan kesempurnaan diri melalui perbaikan tiada henti. Kapanpun, dimanapun, dan kritik oleh siapapun.

Terlalu sering hati kita sedih, haru, dan juga kesal menyaksikan betapa banyak petinggi, penguasa atau selebritas yg tidak mau “walks the talk!”. Mereka tidak mau dikritik, tetapi berlagak hebat dan sempurna ketika bicara di layar kaca.

Kemaren ketika bertemu dg seorang teman lama yg berbeda agama, segera saja topik meninggalnya uztads kondang mendominasi pembicaraan kami.

Ujungnya ia berkomentar ringan, ngapain ya kok uztads kita pecicilan. Meski saya bukan orang Jawa, saya paham maksudnya.

Semoga sentilan teman saya ini bisa membuka mata kita agar berani memberikan peringatan atau nasehat kepada kawan, saudara, atau rekan kerja kita jika memang sdh diperlukan.

Solidaritas dan kebersamaan tidak harus melumpuhkan nalar utk sekedar menasehati kawan dekat utk kembali ke jalur yg benar/logik!

Sawangan, sepulang kantor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: