Gas Kota. Ini yang dari dulu harus diperbanyak.

Gas Kota Jadi Solusi

Pemerintah Petakan Jalur Distribusi Gas

JAKARTA, KOMPAS — Pembangunan jaringan gas kota bisa menjadi solusi jangka panjang di tengah tren peningkatan permintaan elpiji. Tahun ini, pemerintah akan membangun pipa gas sepanjang 24 kilometer. Namun, pola distribusi tertutup perlu segera dilakukan mengingat pembangunan infrastruktur gas kota memakan waktu cukup lama.

Pengamat energi dari Universitas Trisakti, Jakarta, Pri Agung Rakhmanto mengatakan, pemerintah harus bertindak cepat menerapkan pola distribusi tertutup elpiji 3 kilogram (kg). Seharusnya, sejak program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg direalisasikan, distribusi tertutup sudah mulai dijalankan secara konsisten.

Selain pola distribusi, lanjut Pri Agung, pembangunan infrastruktur gas kota juga menjadi solusi jangka panjang atas berbagai persoalan terkait ketersediaan dan penyelewengan elpiji 3 kg. Namun, pembangunan infrastruktur gas kota memerlukan waktu lama dan biaya besar.

”Belum lagi persoalan jangkauan gas kota, terutama di lokasi-lokasi terpencil dan medan berat. Selain memakan waktu lama, biaya investasi juga besar. Namun, sembari jaringan gas kota disiapkan, pola distribusi tertutup tetap harus segera diterapkan,” kata Pri Agung, Rabu (4/3), di Jakarta.

Soal distribusi tertutup, sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) Sudirman Said mengatakan, hal itu sedang disiapkan. Distribusi tertutup belum bisa diterapkan tahun ini karena memerlukan anggaran dan pendataan yang tepat (Kompas, 4/3).

Menurut Pri Agung, perbedaan harga yang cukup lebar antara elpiji 3 kg dan 12 kg berpotensi menimbulkan penyelewengan. Saat diputuskan untuk menaikkan harga elpiji 12 kg, saat itu pula harus disiapkan langkah antisipasi terhadap masalah yang akan timbul, seperti penimbunan dan pengoplosan gas.

Sudirman Said mengatakan, pemerintah sedang memetakan secara utuh segala hal terkait gas, seperti letak sumber gas dan jalur distribusi, termasuk soal alokasi. Menurut rencana, akan disusun cetak biru gas mulai dari wilayah barat sampai timur Indonesia.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM IGN Wiratmaja mengatakan, tahun ini pemerintah membangun jaringan pipa gas sepanjang 24 kilometer. Jaringan pipa itu kelanjutan dari pembangunan pipa gas tahun lalu sepanjang 20 kilometer untuk menghubungkan jalur gas dari Cirebon, Jawa Barat, ke Semarang, Jawa Tengah.

”Selain infrastruktur gas untuk industri dan rumah tangga, kami merencanakan membangun 22 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) tahun ini. Sampai itu terbangun semua, akan ada 47 SPBG. Tahun ini anggaran untuk infrastruktur gas dari APBN Rp 1,6 triliun,” ujar Wiratmaja.

Pelanggaran niaga

Tim Polda Sulawesi Tengah mengungkap praktik pelanggaran niaga elpiji di Palu, Sulteng, Jumat, pekan lalu. Pemilik usaha mengalihkan elpiji 3 kg ke tabung elpiji 12 kg yang merupakan produk nonsubsidi. Praktik itu diduga berlangsung enam bulan terakhir.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sulteng Ajun Komisaris Besar Utoro Saputro menyatakan, polisi menetapkan Ramly Al Gifhiri sebagai tersangka. ”Ramly membeli elpiji 3 kg lalu disalurkan ke tabung elpiji 12 kg yang kosong. Elpiji 12 kg itu lalu dijual dengan harga Rp 105.000-Rp 120.000,” katanya. Meski menjual jauh di bawah harga eceran Rp 146.000, Ramly tetap untung. Harga elpiji 3 kg hanya Rp 16.000. (APO/VDL/PRA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: