Gula Darah Terkendali Cegah Komplikasi

JAKARTA, KOMPAS — Pengendalian kadar gula darah adalah kunci untuk menghindari atau memperlambat munculnya berbagai penyakit komplikasi diabetes melitus. Namun, pengendalian gula darah itu masih sulit dilakukan sebagian besar penyandang diabetes di Indonesia.

Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Achmad Rudijanto, di Jakarta, Sabtu (25/4), mengatakan, rata-rata kadar gula darah selama 1-3 bulan (HbA1c) penderita diabetes di Indonesia pada 2012 mencapai 8,36 persen. Padahal, pada 2008 baru 8,16 persen. “Pasien diabetes Indonesia sulit menurunkan kadar gula darah HbA1c di bawah 7 persen sesuai ketentuan Perkeni,” ujarnya.

Makin tinggi kadar gula darah penyandang diabetes, itu berarti kian tinggi pula risiko mereka menderita sejumlah penyakit komplikasi, seperti buta, stroke, jantung, ginjal, dan kaki diabetes. Penyakit komplikasi itu akan mengurangi kualitas hidup dan meningkatkan risiko kematian.

Menurut Rudijanto, kesulitan pengendalian kadar gula darah umumnya disebabkan rendahnya kepatuhan dan kemandirian pasien mengontrol gula darah. Pemicunya, banyak terjadi kesalahpahaman tentang diabetes dan penatalaksanaannya.

Munculnya komplikasi juga memperbesar biaya perawatan. Di Indonesia, pada 2010 komplikasi meningkatkan biaya perawatan hingga 22,5 kali dibandingkan penyandang diabetes tanpa komplikasi.

Sebagai gambaran, penyandang diabetes yang mengalami gagal ginjal harus menjalani cuci darah minimal 2 kali seminggu. Biaya satu kali cuci darah Rp 500.000-Rp 700.000 dan di sejumlah tempat bisa lebih mahal. Artinya, satu pasien diabetes butuh Rp 52 juta-Rp 73 juta setahun hanya untuk cuci darah.

Ginjal diabetes

Sebelumnya, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Sri Ayu Vernawati, pekan lalu, menyatakan, kerusakan ginjal akibat kadar gula darah tinggi tak menimbulkan keluhan pada tubuh penderita. Padahal, kerusakan ginjal itu mulai terjadi setelah 5 tahun kena diabetes.

Namun, banyak orang tidak tahu sejak kapan mereka terkena diabetes. Enam dari 10 penderita diabetes di Indonesia tak sadar jika terkena diabetes. “Kerusakan ginjal hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan urine lengkap di laboratorium,” ujarnya.

Karena itu, kata Vernawati, saat seseorang terdiagnosis positif terkena diabetes, pemeriksaan menyeluruh terhadap semua organ yang terdampak tingginya kadar gula darah harus dilakukan, termasuk pemeriksaan urine lengkap. Mereka yang terkena diabetes dianjurkan periksa urine setiap 2-3 bulan. Namun, yang belum positif diabetes cukup dilakukan sekali setahun.

Keluhan akibat ginjal rusak biasanya muncul pada stadium 5 atau stadium tertinggi penyakit ginjal diabetes. Stadium tersebut biasanya terjadi 10-15 tahun setelah kena diabetes. Saat itu, pasien harus menjalani cuci darah.

Keluhan yang muncul umumnya berupa rasa mual akibat kadar ureum tinggi atau lemas akibat anemia. Selain itu, volume air kencing juga jauh berkurang.

Beberapa riset menunjukkan, memburuknya kondisi ginjal biasanya diikuti penurunan kondisi jantung penderita diabetes. Penyakit jantung dianggap sebagai tahap akhir berbagai komplikasi diabetes. Sebanyak 8 dari 10 penyandang diabetes meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.(MZW)

Sumber: http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150426kompas/#/9/ 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: