Kisah Seorang Pemberontak yang Sial

Sejarah ditulis oleh para pemenang. Pahlawan atau penjahat bergantung pada siapa yang menjadi pemenang. Dalam sejarah nasional kita, ada sejumlah tokoh kontroversial yang dianggap pengkhianat, tetapi sekaligus dikagumi diam-diam dan memiliki banyak pengikut. Salah satunya adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (1905- 1962).

Sepenggal kisah hidup imam besar Darul Islam yang berupaya mendirikan sebuah negara teokrasi di Indonesia itu menjadi sorotan dalam buku puisi terbaru Triyanto Triwikromo, Kematian Kecil Kartosoewirjo (2015). Buku ini merupakan sebuah buku puisi utuh dengan satu kesatuan tema dan kisahan, bukan kumpulan sejumlah puisi dengan beragam tema seperti umumnya kumpulan puisi yang beredar dalam khazanah sastra kita. Ada 52 puisi di dalamnya yang berkisah tentang episode akhir kehidupan Kartosoewirjo sejak ditangkap oleh pasukan pemerintah pada 4 Juni 1962 di lereng Gunung Geber, Kabupaten Bandung, hingga saat eksekusi mati di Pulau Ubi, Jakarta, 4 September 1962.

Karno dan Karto: kawan atau lawan?

Sesungguhnya, pada mulanya Kartosoewirjo adalah kawan seperjuangan, bahkan teman serumah bagi Soekarno, proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia. Keduanya adalah murid salah satu pelopor pergerakan nasional Tjokroaminoto, sang guru bangsa yang pernah dijuluki ”Raja Jawa Tanpa Mahkota”. Salah satu ajaran Tjokro yang termasyhur adalah trisakti ”setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”. Dia juga berpesan kepada para muridnya, ”Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah sepertiwartawandan bicaralah sepertiorator.”

Kedua wasiat itu diamalkan baik oleh Karno maupun Karto. Keduanya tumbuh menjadi pemimpin yang fasih menulis dan berbicara. Bedanya, Karno tumbuh menjadi seorang pejuang nasionalis, sedangkan Karto kelak menjelma pemimpin Islam radikal.

Namun, kedua kawan itu lalu berpisah jalan. Saat Karno menjadi presiden pertama Republik Indonesia pada 1945, empat tahun kemudian Karto memproklamasikan Negara Islam Indonesia/Darul Islam (NII/DI) dengan didukung Tentara Islam Indonesia (TII) dan memberontak terhadap pemerintah yang sah.Ketika Karto tertangkap setelah belasan tahun bergerilya di hutan-hutan dan pegunungan Jawa Barat, dan Mahkamah Militer memutuskan hukuman mati baginya, Karno sebagai kepala negara harus menandatangani perintah eksekusi kawan lamanya itu.

Triyanto memotret dilema ini dengan cerdik dalam Prakisah buku puisinya.Menandatangani hukuman mati, misalnya, bukanlah pekerjaan yang memberi kesenangan kepadaku. Ambillah misalnya Kartosoewirjo. Di tahun 1918 dia kawanku yang baik. Di tahun 20-an di Bandung, kami tinggal bersama, makan bersama, dan bermimpi bersama-sama … Demikian Bung Karno menulis tentang betapa berat ketika dia harus menandatangani perintah eksekusi Kartosoewirjo.

Pemberontak yang sial

Ke-52 puisi dalam Kematian Kecil Kartosoewirjo dibagi dalam tiga fase: Awal (”Penangkapan”), Antara (berisi 50 puisi), dan Akhir (”Kesaksian”). Dalam puisi-puisi Triyanto, Kartosoewirjo tidak ditampilkan sebagai sosok ”penjahat” atau ”pengkhianat” seperti yang kerap disebut dalam sejarah. Dia disiratkan lebih sebagai pemberontak yang sial yang tak cukup beruntung memenangi perjudian takdirnya untuk mewujudkan impian membentuk sebuah ”Negara Islam Indonesia”. Yang makin membuktikan kesialannya, dia tertangkap secara tak sengaja oleh seorang tentara Siliwangi bernama Ara Suhara yang semula mengira dia seorang petani tua biasa. Ara yang diam-diam mengagumi sang pemberontak kemudian menamai anak lelakinya Sekar Ibrahim—dari nama depan Kartosoewirjo, ”Sekarmadji”, yang aslinya adalah Soekarmadji.

Melalui kata-kata Triyanto yang kadang bernuansa magis, Kartosoewirjo digambarkan sebagai manusia biasa yang punya rasa sedih dan dirundung harap-harap cemas, lengkap dengan sisi-sisi humanisnya, termasuk saat-saat getir ketika hendak menghadapi hukuman tembak mati di Pulau Ubi. Seperti tersurat dalam sebait puisi ini: Tetapi sungguh aku sedih. Aku tak tahu siapa nakhoda yang akan membawaku ke Pulau Kematian. Pulau di tepi surga yang dijanjikan. (”Nakhoda”). Di situlah Triyanto sanggup membuat kita merasa ikut sedih.

Tersirat simpati sang penyair kepada sang pemberontak yang sial. Sosok Kartosoewirjo kerap ditampilkan sebagai seorang hamba Tuhan yang pasrah. Puisi-puisi yang dinisbatkan sebagai bisikan hati Kartosoewirjo dikaitkan dengan beragam peristiwa historis dalam sejarah Islam yang menyebut-nyebut sang Nabi dan para khalifah semacam Abu Bakar. Misalnya dalam bait ini: Aku tak mendengar letusan itu. Aku bahkan tak merasa ada 12 penembak jitu mengacungkan senapan tepat ke jantungku. Sebagaimana Abu Bakar, aku justru mendengar pidato Nabi di mimbar. Kata Nabi, ”Ada seorang di antara hamba Allah yang diberi pilihan antara dunia ini dan pertemuan dengan-Nya, dan hamba tersebut memilih berjumpa dengan Tuhannya.” (”Aku Tak Mendengar Letusan Itu”).

Sementara, pada puisi berjudul ”Di Mobil Tahanan”, digambarkan Kartosoewirjo seakan berdialog dengan serdadu penjaga, mengisahkan riwayat hidupnya, bahkan kredo perjuangannya yang menjadi dasar perlawanan bersenjata terhadap kepemimpinan kawan lamanya, Soekarno, yang disebutnya ”Arjuna”: Bahkan embun pun harus berjuang untuk menegakkan Islam … Aku tak pernah ingin membunuh Sang Arjuna, kawan lamaku. Aku hanya ingin menyatakan padanya tanpa Islam negeri ini akan lemah.

Membaca buku ini, tersirat kegelisahan penulisnya atas sejarah kelam negeri ini yang kerap terkoyak pertikaian atas nama ideologi dan agama, dan upaya menyampaikan gugatan terhadap semua itu. Walau terkesan bersimpati kepada sosok sang pemberontak, Triyanto mampu menjaga diri sehingga puisi-puisinya tak terkesan sebagai propaganda dangkal atau sekadar pamflet yang sayu. Triyanto berupaya menyelami sisi batin Kartosoewirjo sebagai seorang manusia dengan berbagai seginya. Maka, buku puisi ini juga adalah semacam solilokui tentang kesepian, cinta, persahabatan, dan renungan spiritual. Berbeda dengan buku sejarah atau biografi yang cenderung kering, buku puisi ini bisa menampilkan sosok historis Kartosoewirjo dalam pendekatan yang berbeda dan kaya nuansa.

Seperti pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam satu esainya, setiap karya sastra sesungguhnya adalah autobiografi pengarangnya pada tahap dan situasi tertentu. Maka, ia adalah produk individu dan bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari sumbangan individu pada kolektivitas. Dalam hal ini, tugas sastrawan adalah melakukan gugatan kritis atas kemapanan di semua bidang kehidupan—termasuk membongkar historiografi resmi yang kerap menyembunyikan hal-hal kecil yang terabaikan; entah karena dianggap tidak penting atau sengaja dilupakan.

Sumber: http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150426kompas/#/27/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: