Memilih Berbagi, Melepas Gaji

Sekelompok orang ini memilih keluar dari zona nyaman. Mereka ikhlas melepas peluang gaji besar dengan segala fasilitas demi membantu kaum muda yang ingin berwirausaha. Bantuan itu dibutuhkan agar laju para wirausaha muda lebih cepat dan dapat menghindari kesalahan.

Yansen Kamto memberikan support berupa masukan dan saran bagi anak muda yang ingin berbisnis.

KOMPAS/RIZA FATHONIYansen Kamto memberikan support berupa masukan dan saran bagi anak muda yang ingin berbisnis.

Yansen Kamto (34) dikerumuni anak-anak muda yang antusias melontarkan pertanyaan seusai menjadi pembicara pada acara Creativepreneur Corner di Jakarta beberapa waktu lalu. Pada acara yang menampilkan sejumlah tokoh terkemuka itu, ia tampil satu sesi bersama Dian Sastrowardoyo, Vidi Aldiano, dan Andre Surya.

Yansen sejak tiga tahun lalu menggelar inkubator gratis bagi anak muda yang ingin berbisnis. Dalam program Startsurabaya yang digagasnya, ia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya yang memberi akses jaringan, radio swasta yang memberi spot iklan gratis, dan perusahaan pengembang yang meminjamkan kantor. Peserta yang lolos seleksi mendapat tiga bulan mentoring, berkantor gratis, dan kesempatan mendapat investor.

”Yang paling penting mereka bertemu peserta lain dari beragam latar belakang untuk berkolaborasi. Inovasi lahir dari kolaborasi. Misalkan, ada tiga orang, satu orang bisa nyanyi, lainnya bisa main musik dan bikin video. Jadi deh acara di Youtube,” kata Yansen yang bergerak lewat PT Kibar Kreasi Indonesia.

Program inkubator serupa ia gelar di Universitas Gadjah Mada. Yansen juga mengajar mata kuliah Technology Based Business di Institut Teknologi Bandung yang mendorong mahasiswa terjun ke dunia usaha. Ia ingin menciptakan ekosistem bagi para wirausaha muda. ”Saya meyakini,enterpreneurs are not naturally born. They are made, mereka dibentuk dan diciptakan,” katanya.

Dari hampir 300 orang yang mengikuti tiga program ini, ada 20-25 persen yang gugur di tengah jalan. Program inkubator tidak mengikat. Hanya saja menekankan, peserta ”membalas jasa” lewat sumbangsih kepada masyarakat. Setidaknya, membantu anak muda lain yang juga ingin berbisnis. Prinsipnya, wirausaha menelurkan wirausaha baru.

”Kami mau bantu mereka karena mereka mau bantu orang. Ada peserta yang punya ide bikin aplikasi untuk membantu anak disleksia, ada juga yang membuat aplikasi menghubungkan donor darah, PMI, dan rumah sakit. Jadi, kami mendorong ide bisnis itu lahir dari keinginan menjadi solusi sebuah masalah. Bisnis seperti itu pasti bertahan lama,” kata Yansen.

Keluar zona nyaman

Yansen yang pernah kuliah di Malaysia dan Australia pernah menjadi profesional di perusahaan periklanan. Ia pernah membantu orang membangun bisnis. Ia juga pernah merintis bisnis, pernah pula bangkrut karena ditipu orang. ”Saya pernah di berbagai posisi. Pengalaman ini ingin saya bagi. Saya meninggalkan pekerjaan yang bisa memberi saya gaji Rp 100 juta per bulan karena dengan seperti ini saya merasa bahagia dan merasa punya arti,” ujar Yansen.

content

Budi Satria Isman (53) juga lebih memilih melahirkan wirausaha muda lewat gerakan yang ia inisiasi, yakni One in 20 Movement. Ia menargetkan pada tahun 2020 tercipta satu juta wirausaha. Budi berusaha merangkul semua pemangku kepentingan, seperti pemerintah, institusi pendidikan, institusi keuangan, media, masyarakat, dan swasta.

Yasmin memberikan presentasi soal aplikasi untuk UKM.

KOMPAS/SRI REJEKI
Produk hasil  pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah binaan Budi Satria Isman.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Budi pernah memegang posisi kunci di sejumlah perusahaan besar, antara lain Direktur Utama PT Sari Husada, Tbk dan Direktur Grup Area Regional Coca-Cola Indonesia. Ia memutuskan pensiun sebagai profesional di usia 45 tahun. Masih banyak yang menawarinya sebagai presiden direktur dengan gaji Rp 500 juta per bulan. Namun, Budi lebih memilih untuk berbagi.

Kini, waktunya sebagian besar dicurahkan untuk Yayasan ProIndonesia yang didirikan tahun 2010 dengan kegiatan, antara lain mengembangkan wirausaha muda. Sisanya, ia menjadi pelatih bagi para direksi atau penasihat di berbagai perusahaan asing.

Budi merogoh kocek pribadi Rp 5 miliar-Rp 6 miliar per tahun untuk mendanai kegiatan pembinaan kewirausahaan. Ia membentuk komunitas Smartpreneur pada 2013, yang menelurkan gerakan One in 20 Movement. Pada 2014, ia menyelenggarakan kompetisi rencana bisnis di delapan kota yang diikuti 1.000 peserta.

E-Fishery, alat pemberi pakan ikan otomatis, dalam tahap pemrograman di Dago, Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/4). Alat berupa tabung yang dikembangkan oleh Gibran Huzaifah ini membantu  peternak ikan dalam menjadwal pemberian pakan.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOE-Fishery, alat pemberi pakan ikan otomatis, dalam tahap pemrograman di Dago, Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/4). Alat berupa tabung yang dikembangkan oleh Gibran Huzaifah ini membantu peternak ikan dalam menjadwal pemberian pakan.

Mereka dibina dua bulan oleh para pelatih bisnis yang lebih dulu disiapkan. Ada delapan pertemuan yang membahas mulai dari strategi menciptakan produk, merek, pemasaran, mengelola, hingga meningkatkan bisnis. Rencana bisnis setiap peserta lantas dinilai dan mengerucut pada 40 orang. Awal April lalu, dewan juri yang terdiri dari para praktisi dan direktur perusahaan besar memilih pemenang dari lima kategori, yakni makanan dan minuman, fashion, teknologi informasi dan kreatif, jasa, serta mahasiswa. Lima pemenang dijanjikan mendapat dana investasi total Rp 2 miliar.

”Tahun ini akan kami perluas ke 20 kota dan tahun 2020 menjadi 93 kota,” kata Budi yang menamatkan S-1 dan S-2 di Amerika Serikat.

Untuk ekosistem wirausaha di dunia maya, Budi menyiapkan infrastruktur berupa situs www.onein20.com yang terhubung dengan berbagai media sosial. Situs ini mewadahi berbagai pihak, seperti investor, perusahaan, dan wirausaha, selain juga menyediakan pusat belajar dan pasar untuk mempertemukan produsen dan konsumen.

Pola pikir

Menurut Budi dan Yansen, lingkungan dan pola pikir menjadi salah satu kendala terberat dalam upaya mencetak wirausaha. Di kota-kota utama, dorongan menjadi wirausaha di kalangan anak muda mulai tampak. Namun, tidak begitu di kota-kota kedua dan kabupaten. Sembilan puluh persen masih mendamba menjadi pegawai negeri sipil atau karyawan.

”Anaknya baru mulai wirausaha. Sampai di rumah ditanya, kamu dapat uang berapa, Nak? Jadi patah semangat,” kata Budi yang mendirikan PT Mikro Investindo Utama untuk pemberdayaan UMKM.

Jumlah unit usaha kecil dan menengah (UKM) mencapai 98 persen dari total unit usaha yang ada, sisanya usaha besar. Demikian pula dengan penyerapan tenaga kerja UKM yang mencapai 97 persen dari total tenaga kerja nasional. Meski kontribusi UKM terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional baru 57 persen, sektor ini memberi kesempatan lebih besar pada pemerataan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi.

Jumlah wirausaha di Indonesia saat ini baru 1,65 persen dari jumlah penduduk. Jauh di bawah Malaysia yang mencapai 5 persen dan Singapura 7 persen. Sosiolog David McClelland menyebutkan, suatu negara akan maju dan sejahtera bila minimal dua persen penduduknya menjadi wirausaha.

Diana Anggriani (29) yang membuat usaha berupa kosmetik dengan label envyMe menuturkan, mentoring diperlukan karena mentor lebih dulu sukses sehingga mereka punya jalur cepat berdasarkan pengalaman. Selain mentoring, mengikuti komunitas yang sesuai juga mendukung pengembangan bisnis. ”Kita bisa belajar dari kesalahan mereka. Jika kita butuh 10 tahun untuk sukses, dengan mentoring kita bisa percepat jadi tiga tahun, misalnya,” kata Diana yang keluar sebagai salah satu pemenang One in 20 Movement.

Indah Purwanti (28) juga merasakan pahit getir berbisnis karena belajar secara otodidak. Bisnis pertamanya, yaitu berjualan baju secara daring, bangkrut. Barang menumpuk lalu habis dipakai sendiri. Ia kemudian menjadi penjual (reseller) mutiara dari sebuah toko. Mutiara adalah produk unggulan di kampung halamannya, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dari situ, Indah mencoba membuat sendiri produk berupa gelang, cincin, bros, anting-anting, hiasan rambut, tas, hingga sepatu berhias mutiara yang mendapat respons positif pasar.

Saking identiknya dengan mutiara, ia lebih dikenal sebagai Indah Mutiara Lombok yang kemudian dijadikan label. Apa yang dilakukan Indah sederhana saja. Ia memberi nilai tambah dan sentuhan baru yang selama ini belum pernah muncul. Mutiara yang selama ini hanya diikat dengan cangkang logam, oleh Indah, dipadukan dengan bahan lain, seperti pita, brokat, payet, dan batu alam. Salah satu produk terlarisnya adalah ikat pinggang yang juga bisa difungsikan sebagai kalung seharga Rp 400.000 per buah. ”Harga jualnya bisa lebih tinggi ketimbang mutiara hanya dipasang dengan casting logam,” kata Indah yang pernah mendapat pelatihan bisnis saat mengikuti program Wirausaha Muda Mandiri.

Memulai usaha pada 2011, omzet usahanya kini mencapai Rp 5 miliar per tahun. Selain dipasarkan secara daring, Indah juga telah mampu membuka galeri di Mataram, NTB, dan Surabaya, Jawa Timur. Produknya juga dikirimkan secara berkala ke toko perhiasan di Lebanon, Belanda, Thailand, Singapura, dan Jepang. Penjualan terbesarnya melalui ratusan reseller, yakni ibu-ibu rumah tangga yang bermodal foto-foto produk Indah yang dipasang sebagai foto profil di media sosial.

”Kalau sejak awal mendapat mentoring, mungkin usaha saya bisa berkembang lebih cepat,” kata Indah.

Berbagi memang indah.

Sumber: http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150503kompas/#/25/

One Response

  1. Thanks info-nya?
    Bagaimana caranya untuk bisa ikut start surabaya ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: