Sari Kutbah Jumat 16 Oktober di Mesjid Kampus Poltek Batam

Sudah lama mataku tidak sembab dan basah. Jumat lalu ketika sedang bertugas dan selesai rapat di Hotel Mercure Batam, saya bersegera dengan pak Joko yang menjadi Direktur Poltek Batam menuju mesjid di lingkungan kampus yang beliau pimpin. Sebelumnya, dalam ketersediaan waktu yang sangat sempit saya menyempatkan melihat2 fasilitas yang telah diinstal di laboratorium jurusan elektro. Segera menjelang azan Jumat saya diantar oleh supir beliau ke mesjid kampus yang tidak terlalu besar, tetapi punya selasar yang bisa menampung seratusan orang jamaah yang kebanyakan adalah mahasiswa.

Kutbah dimulai dengan kisah raja Murad yang “blusukan” ke pelosok negerinya dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Raja yang bersahaja ini memang luar biasa dalam kepemimpinan dan tidak mau percaya hanya sama hulubalang semata. Ketika berjalan mengelilingi sebuah kampung, di daerah yang agak sunyi ia mencium bau busuk. Singkat cerita Sang Raja menemukan seorang gelandangan tidur di suatu tempat. Ia pun mendekat, semakin dekat ia curiga. Benar, ternyata seorang laki-laki yang tergeletak tadi sudah menjadi mayat. Meski ada beberapa orang yang lewat, mereka tidak peduli. Setelah melihat mayat kebanyakan orang-orang berlalu dan bergumam menyebut nama si Fulan.

Raja mengurus mayat itu dan seraya bertanya kepada orang yang baru saja melihat. Siapa mayat itu dan mengapa orang2 tidak mau mengurus. Bukankah kewajiban seorang muslim adalah mengurus kawan atau tetangga nya yang wafat atau siapapun yang meninggal.

Kegundahan raja Murad terjawab. Menurut orang2 yang lewat, si Fulan adalah orang fasiq yang selalu keluar masuk warung tempat penjualan minuman keras beralkohol. Juga kalau malam ia sering terlihat keluar masuk rumah pelacuran. Sebagai raja yang baik, Baginda Muradpun mengajak dan membujuk orang lain membantunya untuk mengantarkan jenazah itu kerumah istrinya.

Sesampai di rumah istri si FUlan, raja pun menanyakan kenapa orang2 dan tetangga sampai tidak mau mengurus jenasah suaminya. Istrinya pun menjelaskan ” Sebenarnya kami ini orang berkecukupan. Setiap malam ini suamiku keluar mengetuk pintu wanita nakal. Lalu uang hasil kerja kerasnya diberikan kepada wanita nakal itu. Dia akan menanyakan kepada wanita itu. Berapa tarifnya semalam? Kemudian diberikannya uang lebih kepada wanita nakal itu untuk satu hari penuh dan ia akan berpesan jangan buka pintu lagi. Kalau ada tamu anak muda, jangan bukakan. Terus ia lakukan seperti itu dari pintu ke pintu hingga uangnya habis. Selain itu suamiku juga sering ke kedai minuman dan memborong semua minuman keras lalu dibuangnya secara sembunyi-sembunyi. Saya sudah memberikan nasehat kepada suamiku dengan apa yang dilakukannya akan dianggap jelek oleh masyarakat dan memang setiap malam ini orang-orang selalu melihat suamiku yang sering masuk rumah wanita nakal dan kedai berisi minuman keras. Saya tanya kepada suamiku mengapa melakukan ini? Suamiku menjawab supaya bisa menyelamatkan generasi muda ini agar tidak terjerumus dari wanita penghibur dan minuman keras. Tapi saya takut jikalau engkau meninggal, nanti orang-orang tidak mau mengurus dan menguburkan jenazahmu. Lantas suamiku menjawab, Allah akan mengirimkan seorang Raja dan orang-orang soleh untuk merawatku,” demikian penjelasan istri FUlan.

Dan memang benar, seorang raja yang baik dan bijak akhirnya dikirim ALlah untuk menyelenggarakan jenazah FUlan.

Sampai cerita khotib disitu, sayapun sudah tidak sanggup lagi. Mata dan mulut tercekat. ALhamdulillah mata saya yang sudah lama kering membasah hari Jumat itu. Terima kasih ya Allah, telah mengirimku jauh-jauh ke batam dan pontang panting mengejar waktu untuk mendapatkan cerita indah ini langsung dari khotib di mimbar jumat.

Sang khotib pun menambahkan, begitulah seharusnya kita beribadah..harus (1) jauh dari ria. Sampai-sampai orang satu negeri mencap si FUlan sebagai penzina dan pemabok. (2) jangan soudzon (3) ketika berkuasa, merakyat seperti raja Murod dan (4) lebih baik diam jika tidak tahu permasalahan atau cara penyelesaian suatu masalah.

Khotib juga merujuk surat al hujurat, tapi tidak menjelaskan ayatnya.

Ria diibaratkan khotib (sudah sering kita dengar tapi cepat pula kita lupakan) sebagai semut hitam diatas batu hitam dan menjalar di tengah malam gelap. Ria mendatangi kita seperti kita memang tidak mampu melihatnya.

Sungguh saya malu setiap ingat cerita si FUlan yang merelakan dirinya disangka fasik, penzina dan pemabok, tetapi ia terus beribadah dan berbuat baik buat sekitarnya tanpa takut dikucilkan.

semoga bermanfaat.

Kampus Poltek Batam

Jumat 16 Oktober 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: