Moh Kasim Arifin yg fenomenal

Copas

Inspirasi 

Grup HA-IPB tengah membicarakan sosok Pak Kasim Arifin, mahasiswa IPB yang pergi ke Waimital Pulau Seram utk KKN lalu tidak pulang 15 tahun karena membangun daerah itu menjadi kawasan yg lebih makmur. Taufiq Ismail menuliskan puisi buat Kasim, sahabatnya ini (baca kisahnya di bawah setelah puisi). Bagi saya, puisi ini sama kuatnya dan menggetarkan dengan puisi Taufiq Ismail lainnya: Almamater. 

Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada hari ini pulang ke Almamaternya 


Dia mahasiswa tingkat terakhir 
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram 
untuk tugas membina masyarakat tani di sana. 
Dia menghilang 
15 tahun lamanya. 
Orangtuanya di Langsa 
memintanya pulang. 
IPB memanggilnya 
untuk merampungkan studinya, 
tapi semua 
sia-sia. 

II 
Dia di Waimital jadi petani 
Dia menyemai benih padi 
Orang-orang menyemai benih padi 
Dia membenamkan pupuk di bumi 
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi 
Dia menggariskan strategi irigasi 
Dia menakar klimatologi hujan 
Orang-orang menampung curah hujan 
Dia membesarkan anak cengkeh 
Orang kampung panen raya kebun cengkeh 
Dia mengukur cuaca musim kemarau 
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau 
Dia meransum gizi sapi Bali 
Orang-orang menggemukkan sapi Bali 
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah 
Orang-orang memasang dinding dan atapnya 
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka 
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika 
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi 
Kasim Arifin, di Waimital 
Jadi petani. 

III 
Dia berkaus oblong 
Dia bersandal jepit 
Dia berjalan kaki 
20 kilometer sehari 
Sesudah meriksa padi 
Dan tata palawija 
Sawah dan ladang 
Orang-orang desa 
Dia melintas hutan 
Dia menyeberang sungai 
Terasa kelepak elang 
Bunyi serangga siang 
Sengangar tengah hari 
Cericit tikus bumi 
Teduh pohonan rimba 
Siang makan sagu 
Air sungai jernih 
Minum dan wudhukmu 
Bayang-bayang miring 
Siul burung tekukur 
Bunga alang-alang 
Luka-luka kaki 
Angin sore-sore 
Mandi gebyar-gebyur 
Simak suara azan 
Jamaah menggesek bumi 
Anak petani diajarnya 
Logika dan matematika 
Lampu petromaks bergoyang 
Angin malam menggoyang 
Kasim merebah badan 
Di pelupuh bambu 
Tidur tidak berkasur. 

IV 
Dia berdiri memandang ladang-ladang 
Yang ditebas dari hutan rimba 
Di kakinya terjepit sepasang sandal 
Yang dipakainya sepanjang Waimital 
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering 
Awan tergantung di atasnya 
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang 
Ada bukit-bukit yang kini basah 
Dengan wana sapuan yang indah 
Sepanjang mata memandang 
Dan perladangan yang sangat panjang 
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu 
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya 
Bersama puluhan transmigran 
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang 
Dan air pun berpacu-pacu 
Delapan kilometer panjangnya 
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja 
Mengairi tanah 300 hektar luasnya 
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ
Muhammad Kasim Arifin, di sana, 
Berdiri memandang ladang-ladang 
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor 
Di padang rumput itu 
Rumput gajah yang gemuk-gemuk 
Sayur-sayuran yang subur-subur 
Awan tergantung di atas pulau Seram 
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya 
Dari pulau itu, dia telah pulang 
Dia yang dikabarkan hilang 
Lima belas tahun lamanya 
Di Waimital Kasim mencetak harapan 
Di kota kita mencetak keluhan 
(Aku jadi ingat masa kita diplonco 
Dua puluh dua tahun yang lalu) 
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca 
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi 
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku 
Ketika aku mengingatmu, Sim 
Di Waimital engkau mencetak harapan 
Di kota, kami … 
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah 
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang 
Kami memelukmu. 
1979 

Catatan: (dari Taufiq Ismail) Bagian IV puisi ini saya bacakan pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979, sesudah M. Kasim Arifin menerima gelar Insinyur Pertanian. Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang, tapi ternyata menanam akar di Waimital enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor. Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik. 

Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja, kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya. 
Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerumuninya selalu dan mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan. 

Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda. Baru sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya. Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya. Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa. Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya. 

#Terima kasih bang Ahmad Husein yang telah menulis ulang. 

Berdasarkan info yang baru saya dapat, beliau sang tauladan, abangda Muhammad Kasim Arifin telah menghadap Sang Khalik. Semoga surga bagi mu. 

Terima kasih

Copas dari status FBnya Prof Khairulrijal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: