Kritik Dulu, Maaf Menyusul (jika salah)

Bismillahirrahmanirrahiim.

Saya sempat membaca dan awalnya tidak percaya kalau Ketua KPU Husni Kamil Malik meninggal dunia. Karena itu ketika imam shalat subuh di Mesji Al-Ikhlas dikomplek kami menyampaikan informasi  akan akan ada shalat ghaib mendoakan almarhum Husni sebelum shalat dimulai saya maklum.

Segera setelah shalat subuh selesai, Imam membalikan badan mengumumkan akan ada shalat ghaib dan dengan cekatan membacakan alfatehah terlebih dahulu. Dalam hati saya merasa mantap dan tidak ada prasangka apa2. Saya yang berada agak diujun selatan Imam sempat mendengarkan arahan ringkas dari Imam yang akan memulai shalat ghaib. Namun sayup-sayup saya mendengar suaranya bahwa shalat ghaib 3 takbir.

Dalam hati saya merasa, Imam salah sebut saja karena selain imam juga ada beberapa pengurus DKM yang mumpuni ikut shalat jamaah pagi ini.

Takbir demi takbir berjalan lancar. Setelah Al Fatehah di takbir pertama, diikuti Shalawat untuk Nabi Muhammad SAW di rakaat kedua. Begitu pula saya membaca doa pertama “Allahumma firlahu warhamhu..dst”.

Celakanya ketika menunggu takbir keempat yang akan diiukti doa “Allahumma Latahrimna dst…” SAng Imam malah menyudahi shalat ghaib dengan membaca assalammualaikum yang juga diikuti makmum.

“Nah…kejadian deh ” pikir saya. Benar harusnya empat takbir Imam lupa atau salah hanya membaca tiga takbir. Tak berapa lama kami pun bergumam. Namun secara umum kami memakluminya, manusia memang tempatnya salah. Dan hampir sepakat untuk istigfar dan berhenti, tidak mengulangi lagi. Terjadi diskusi kecil antara bbrp kelompok dari jumlah jamaaah yang tidak penuh dua shaf karena sudah banyak yang mudik lebaran.

Memang kita manusia tempatnya khilaf. Namun belakangan Sang Imam mengaku juga jarang mengimami shalat jenazah atau ghaib. Imam kami termasuk yang sangat bagus bacaannya. Jadi kamipun percaya. Begitupula ada beberapa pengurus sebelumnya menyampaikan rencana shalat ghaib itu. Seyogyanya sudah ada persiapan.

Kenyataan terkadang memang berbeda dengan rencana atau isi pikiran kita.

Saya dalam perjalanan pulang mulai menyalahkan diri sendiri. Biasa, sikap kritis selalu muncul pada berbagai kondisi. Kenapa tidak dibantah ketika saya mendengar suara “3 takbir” sebelum shalat ghaib dimulai. BAtin saya berperang. Harusnya saya mengacungkan tangan dan mengkoreksi apa yang saya dengar. Setidaknya mempertanyakan. Belakangan saya dengar dari yang berdiri di belakang imam, sudah sempat diingatkan 4 takbir, tetapi suaranya pelan.

Kesimpulan saya, kritik, protes, ataupun koreksi yang dengan niat baik MEMANG HARUS SEGERA DISAMPAIKAN TANPA TEDENG ALING2 DAN TANPA HARUS MEMPERTIMBANGKAN INI ITU.

Karena jika tidak, rencana bisa saja tinggal rencana. Pikiran baik kita saja terkadang memang tidak cukup, meski niat juga sudah baik. Meskipun shalat ghaib tadi sunat adanya, dan juga fardhu kifayah, dilihat dari diri saya sendiri, maka saya tetap menyalahkan keengganan saya, kelambatan saya, dan unggah ungguh saya yang merasa ewuh pakewuh, tidak enak terhadap jemaah kalau harus tampil beda di dalam jamaah mesjid.

Saya hanya bisa menyesalkan diri sendiri yang tidak cepat bereaksi. Memang comfort zone bisa melenakan dan membawa kita sengsara nampaknya. Meski awalnya dimulai dari kejadian rada sepele dan bisa dimaafkan.

Semoga kita bisa lebih kritis lagi di masa datang, TANPA HARUS ADA PERASAAN TAKUT SALAH DAN INI ITU, karena jika ternyata kita keliru, inshaAllah masih tersisa ruang untuk meminta maaf.

Semoga kita memang bukan bangsa penakut, apalagi untuk kebenaran yang kita yakini.

Wassalammualaikum wrwb.

Sawangan, bada’ Subuh 3Syawal 1437 H, 8 Juli 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: