Silaturahmi…is the key!

​Lumayan buat bacaan pas perjalanan mudik….

Sorry kalau postingannya panjang bingits😊

BELAJAR DARI KOTA ROSETO
Keistimewaan kota Roseto di Pensylvenia Amerika terkuak pada tahun 1950-an ketika seorang dokter yang bersekolah di University Of Oklahoma, Stewart Wolf, diundang untuk berceramah di kota tersebut. Selesai memberi ceramah, seorang dokter Roseto mengundangnya minum. Saat itulah, si dokter berkata pada Wolf bahwa selama lima belas tahun kariernya di Roseto, dia tidak pernah menemui penduduk berusia di bawah enam puluh lima tahun yang mengidap penyakit jantung. 
Tahukah Anda apa hebatnya fakta itu?

Fakta itu mengejutkan karena pada masa itu menurut akal sehat mustahil ada dokter yang selama karirnya tidak menemukan pasien penyakit jantung! Kala itu, era 50-an, penyakit jantung menjadi epidemic di Amerika. Obat penurun kolestrol atau pencegah penyakit jantung belum ditemukan. Penyakit jantung menempati posisi penyebab utama meninggalnya pria di bawah usia enam puluh lima tahun.
Tentu saja ini membuat Wolf sangat heran dan penasaran. Segera dia adakan penelitian. Dia membentuk tim yang memeriksa catatan kematian penduduk Roseto, menganilis catatan dokter, membaca sejarah kesehatan dan geneanologinya. Penelitian itu sendiri diawali pada tahun 1961. 
Dan hasil dari penelitian tahap awal itu? Sama sekali tidak ditemukan ada penduduk yang mati karena serangan jantung dengan usia di bawah 55 tahun, bahkan sekedar menunjukkan gejala penyakit jantung saja tidak. Dan hanya sedikit yang meninggal karena serangan jantung pada usia di atas 65 tahun. Bahkan, yang meninggal karena berbagai penyebab sekitar 30 sampai 35 persen di bawah dugaan, ini adalah sebuah keajaiban di masa itu. 
Seorang sosiolog yang juga dilibatkan oleh Wolf dalam penelitiannya—John Bruhn, memberikan komentar kekagumannya atas hal ini: “tidak ada kasus bunuh diri, tidak ada penyalah gunaan alcohol, tidak ada kecanduan obat terlarang, dan sangat sedikit kejahatan…orang-orang ini meninggal karena usianya yang sudah udzur. Itu saja.”
Tidak puas dengan itu, Wolf beserta timnya memperdalam penelitiannya, memeriksa pola makan dan olah raga penduduk Roseto. Ternyata tidak berbeda dengan orang Amerika pada umumnya—menggoreng dengan minyak lemak babi, makan pizza dengan roti tebal ditambah pepperoni, salami, ham, kadang-kadang telur. 41 persen kalori warga didapat dari lemak. Merekapun jarang berlatih yoga, juga jarang lari pagi yang konsisten. Jadi, bukan pola makan dan olah raga rahasia keajaiban kesehatan penduduk Roseto.
Kemudian Wolf beralih pada kemungkinan lain, apakah ini factor genetic? Mereka pun memeriksa orang-orang Roseto yang tersebar di wilayah-wilayah lain Amerika Serikat, untuk mengetahui apakah mereka memiliki keunggulan kesehatan seperti saudaranya yang di Roseto. Ternyata tidak.
Belum putus asa, Wolf mencurigai factor lingkunganlah yang telah menghasilkan keajaiban ini. Roseto terletak di daerah perbukitan di Pennsylvania timur. Selain Roseto di sana terdapat kota-kota lainnya. Ternyata, kota terdekat ke Roseto dan memiliki geografis yang serupa, Bangor dan Nazareth, tidak memiliki anugerah yang seperti halnya Roseto. Lantas, jika rahasia kesehatan penduduk Roseto ini bukanlah karena pola makan atau olah raga, atau factor genetic atau lingkungan, maka apa?
Di sinilah kesadaran yang luar biasa itu datang. Dalam masa kunjungannya, Wolf dan Bruhn mendapati bagaimana penduduk Roseto saling berkunjung antara satu dengan lainnya. Saat berpapasan di jalan, mereka berhenti untuk menyapa dan mengobrol. Tetangga yang memasakkan untuk tetangganya di halaman belakang rumahnya. Rumah yang dihuni oleh tiga generasi keluarga; kakek-nenek, anak, serta cucu. Rasa hormat yang muda pada yang tua. Mereka berkumpul saat misa dan menjalin hubungan kemasyarakatan yang harmonis. Orang-orang kaya yang oleh lingkungan dibentuk untuk membantu warga yang kurang mampu—ingat, penelitian Wolf tidak menemukan adanya warga Roseto yang hidup di garis kemiskinan. 
Ini luar biasa, para peneliti itu mendapati suatu masyarakat yang hampir tidak bisa ditemui di bagian manapun di kota-kota Amerika. Dengan kata lain—merujuk kembali pada hadits nabi yang Saya tulis di awal—silaturahmi telah memperpanjang usia mereka, menyelamatkan mereka dari penyakit jantung dan penyakit lainnya.
Mengapa Silaturahmi?

Dan tentu saja, para ahli kesehatan lainnya yang membaca laporan hasil penelitian Stewart Wolf menertawakannya dengan sepenuh hati. Bagi mereka, kesehatan adalah buah dari bagusnya gen yang kita miliki, makanan sehat yang dikonsumsi, dan teratur serta cukupnya olah raga yang kita lakukan.
Pernyataan bahwa ngobrol di pinggir jalan dan tiga genarasi keluarga yang tinggal di bawah satu atap memberi sumbangsih yang amat signifikan bagi kesehatan benar-benar dianggap sebagai omong kososng pada saat itu. Tapi demikianlah faktanya, satu-satunya pembeda Roseto dengan Bangor dan kota-kota lainnya di Amerika Serikat adalah kentalnya hubungan keakraban yang terbangun dalam kota tersebut.
Sebenarnya keajaiban itu bisa dilihat dari sini, hubungan yang harmonis membantu terciptanya keadaan jiwa yang tenang dan nyaman—kebahagiaan. Ketika keadaan jiwa kita nyaman, maka seluruh anggota badan pun bisa bekerja dengan optimal dan menakjubkan. Anda tentu tahu bagaimana ilmu kedokteran telah membuktikan tertawa bisa membuat kita awet muda. Orang yang dalam hidupnya mendapat tekanan dengan intensitas yang tinggi cenderung lebih tua beberapa tahun dari usia semestinya. Ini bisa kita lihat pada siapapun di sekitar kita.
 Semua orang kini tahu betapa pentingnya pikiran yang lapang dan keadaan jiwa yang tenang serta nyaman dalam menghadirkan kehidupan yang awet, bebas stress dan atau depresi. Tekanan jiwa membuat jantung kita melemah. 
Kini semua menyadari betapa materi saja tidak mampu membeli sebuah kesehatan untuk kita. Lantas apa mata uang untuk membeli ketenangan?

Tentu saja, apa lagi kalau bukan silaturahmi itu sendiri. Silaturahmi; saling kunjung mengunjungi, menyapa, berbicara dengan tetangga atau kenalan di tengah jalan, memberi hati tersenyum pada siapa saja, sungguh itu adalah perkara-perkara yang memperkokoh tali silaturahmi. 
Orang ingat akan kisah dokter Mesir yang diutus tugas di Madinah pada masa Nabi. Selama tahun-tahun masa tuganya itu, dia tidak mendapati satu orangpun yang layak menyandang predikat sebagai pasien. Dengan terheran-heran, dia menanyakan keanehan tersebut kepada Rasulullah dan jawaban beliau adalah: penduduk Madinah tidak makan kecuali mereka lapar, dan berhenti sebelum mereka kenyang. Itulah jawaban beliau, tapi tentu kita kini menyadari bukan itu satu-satunya jawaban, karena beliau juga menyabdakan tentang silaturahmi yang memperpanjang usia, dan kenyataan bahwa pasa masa itu persaudaraan kaum muslim benar-benar mengagumkan, silaturahmi benar-benar tersambung dengan kuat
Kehidupan modern saat ini, telah menuntut kita untuk lari keluar rumah sebelum pukul tujuh pagi dan pulang pukul empat sore. Waktu yang sempit untuk bertandang ke rumah tetangga. Seringkali tidak sempat berhenti di jalan untuk mengobrol dengan orang yang kita berpapasan di jalan—atau karena memang tidak mengenalnya.
Bahkan yang tinggal tepat di sebelah rumah kita. Kita tahu wajahnya tapi tidak namanya. Kita hanya menyapanya dengan sapaan standar yang menyedihkan, mas-mbak, oom-tante, tanpa bisa merangkai lagi kalimat utama berikutnya. 
Hampir semua warga kota dewasa ini ketakutan tiap saat dibayangi terror serangan jantung? Setres? Depresi? Atau masalah-masalah psikis lainnya.

Yang berbeda dgn saudara ita yg tinggal di desa.
Memang tidak ada lagi orang yang tidak dituntut untuk keluar rumah pukul tujuh pagi, di manapun itu. Tapi, orang desa punya kualitas yang tidak dimiliki oleh saudara-saudaranya yang tinggal di kota. Mereka mengenal hampir semua nama dan wajah di desanya, mereka tahu di mana letak rumah mereka dan tidak segan-segan untuk berkunjung ke sana kapanpun saja. Mereka berhenti jika berpapasan di jalan, berbincang ringan dan baru kemudian melanjutkan perjalanan. Senyum dan tegur sapa bukan sesuatu yang mahal atau sulit 
Semoga kita semua jamaah wag Smansa tetap memelihara anjuran Rasulluloh untuk tetap bisa memelihara Silaturahmi.

Menjadi Promotor dan Pejuang Silaturahmi dilingkungan dimana ia berada. Bagi dunia yg lebih indah.dan penuh harmoni
Dengan Silaturahmi yg tulus, semoga kekuatan Cinta, lebih kuat dari kebencian yg membuncah yg dibawa oleh segelintir orang yg ingin eksis dengan menebar terordan ketakutan. Semoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: