Dreaming of the Past!

…All of these very basic infrastructures vanished as “modernization” took place. The interconnection of water systems to Pejompongan left thousands of household in Salemba, Menteng, and other central areas out of drinkable water. While the introduction of modern electricity washed out all of antique designed of gas street lights along Gajahmada streets. One who want to see how the street lights tower looks like could approach to the PT. PGN headquarter main building in Kota area. And not easily to forget is the trams. A very nice design trams that we ride in Boston, Brussel, Amsterdam is now a BIG DREAM in Jakarta. The “dream” we have lost in to the past.

Read more…

An Arab & A Jew

An Arab is going to have open-heart surgery. The doctor is preparing the blood transfusion.  Because the gentleman had a rare type of blood, it couldn’t be found locally. So the call went out to a number of countries.

Finally, a Jew was located who had the same blood type and who was willing to donate his blood to the Arab. After the surgery, the Arab sent the Jew a thank-you card for giving his blood along with an expensive diamond and a new Rolls Royce car as a token of his appreciation.

Selengkapnya…!

It’s the gas do matter, Sir!

That’s fine you build others new factories, but just make sure that all the required gas supplied is secured. Otherwise, it will be just like other plant. 

Bagaimanapun juga komitment Gas kita (DMO) harus ditegakkan, semoga bisa!

Regards,

Eddy


+++++++++++++

Thursday, January 05, 2012 11:52 AM

BUSINESS

Pusri allocates Rp 24t to build 4 fertilizer factories

The Jakarta Post | Thu, 01/05/2012 10:13 AM

State-owned fertilizer company PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) plans to build four new factories worth Rp 24 trillion to increase its fertilizer production.

The new factories were expected to begin operating in 2015, the company’s president director Arifin Tasrif said Wednesday night as reported by kontan.co.id.

Two of the four factories, which will each have the capacity to produce one ton of urea per year each, will be located on land belonging to PT Pupuk Kujang in Bojonegoro and PT Petrokimia in Gresik, respectively, both of which are based in East Java. They have signed an agreement with Mobil Cepu to receive gas supplies as Pusri will need 170 million standard cubic feet per day (mmscfd) of gas to operate the factories.

Whose side are you on? In-flight Wi-Fi.

Apakah anda termasuk orang yang maniac harus terhubung ke Internet, sehingga ketika sedang terbangpun anda tetap ingin “being connected”? Itu adalah pilihan anda.  Ada yang senang 24/7 terhubung, tapi juga ada yang menjadikan pesawat terbang adalah tempat “get out” terbaik dari rutinitas. Silakan menyimak, semoga berguna.

++++++++++++

The continued unpopularity of in-flight Wi-Fi

Dec 31st 2011, 13:43 by N.B. | WASHINGTON, D.C.

GOGO, which provides in-flight Wi-Fi to many American airlines, recently filed for an initial public offering. But as Dan Frommer, a tech writer, reminds us (via Slate‘s Matt Yglesias), in-flight Wi-Fi is still quite unpopular: just 4% of passengers on flights that offer Gogo Wi-Fi actually pay for the service. (Gulliver wrote about air travellers’ unwillingness to pay for Wi-Fi service way back in 2009.)

Mr Frommer believes that the 4% statistic is a sign that a very small base of Wi-Fi users (probably business travellers and bloggers like Mr Yglesias and your correspondent) provide the majority of Gogo’s revenue. But Mr Yglesias argues that the low purchase rate “casts the sometimes questionable quality of the service in a stark light” and compares Gogo to the truly abysmal Amtrak Wi-Fi, which I’vecriticised in this space before. (Perhaps part of the problem is that many employers will not reimburse for in-flight Wi-Fi.)

Ultimately, Gogo’s business model could be threatened by the fact that using cell phones and wireless modems on an aeroplane probably won’t cause you to plummet out of the sky. (It can, however, interfere with ground-based networks and unshielded aeroplane instrumentation.) A more enlightened airport security regime and technological progress might eventually allow passengers to use their own wireless modems while airborne. If that happens at some point in the future, Gogo would be in big trouble. In my experience, the service isn’t good enough to realistically compete with the speeds offered by a 3G wireless modem.

The bigger problem for Gogo and other in-flight Wi-Fi providers is that most people aren’t willing to pay for what is usually a slow, unreliable internet connection unless they absolutely must. There’s plenty of work that even a blogger can do without an internet connection, and a plane is often the best place to do that sort of work. And if more people did start using the in-flight service, that would make it even slower. But perhaps I’m being too pessimistic about Gogo’s prospects. Mr Frommer has a lot more points to consider; his piece is definitely worth the click-through.

http://www.economist.com/blogs/gulliver/2011/12/flight-wi-fi?fsrc=scn/tw/te/bl/continuinedunpopularity

Wa Ode Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri!

Wa Ode Sistem di DPR Sangat Burukr

Sungguh tragis, ketika nurani ingin bicara, sekeliling malah mencoba membungkam. Begitulah sulitnya memperbaiki suatu sistem di Indonesia. Saya yakin masih banyak yang seperti Wa Ode. Kita yakini tidak mungkin semua orang mencari makan dengan jalur pemanfaatan APBN, apakah itu sekedar gaji atau tunjangan, tidaklah mungkin bisa steril dari “kongkalingkong!”

Selengkapnya….

 

Bandara Ngurah Rai Amburadul!

… ”Ini lumayan pak, tadi siang ada yang berantem!” kata porter yang saya membantu saya menjelaskan bahwa tadi siang saat jam sibuk banyak orang yang berantem karena rebutan maupun karena mobilnya tertabrak mobil lain.

Selengkapnya!

Inilah Manfaat Internet bagi Ekonomi Indonesia

Tulisan di Kompas.com ini semoga bisa membuka mata elite bangsa ini untuk lebih commit dalam membangun ICT di Indonesia dan tidak terus dinomorduakan setelah infrastruktur fisik lainnya. Juga leadership dan keseriusan pemimpin tertinggi juga mampu memanfaatkan kemajuan ICT, salah satunya Internet untuk mempercepat pengembangan ekonomi dan pengetahuan masyarakat luas di seluruh pelosok nusantara.
Semoga.
======
Didik Purwanto | Wicaksono Surya Hidayat | Selasa, 13 Desember 2011 | 16:15 WIB

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Internet dinilai mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Caranya, dengan menggunakan internet untuk membantu peningkatan bisnisnya masing-masing.

Dalam laporan “Peran Internet terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia” yang dirilis oleh Deloitte Access Economics mewakili Google Asia Pasifik, menjelaskan, kontribusi internet terhadap ekonomi Indonesia mencapai 1,6 persen atau sekitar Rp 116 triliun atau setara 13 miliar dollar AS dari total pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia di tahun 2011.

Dalam lima tahun ke depan, kontribusi internet akan meningkat tiga kali lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi Indonesia dan diharapkan mencapai 2,5 persen dari total  (PDB hingga 2016 atau mencapai Rp 324 triliun.

Direktur Deloitte Access Economics Ric Simes menyatakan, pertumbuhan internet tersebut justru mengalahkan pertumbuhan industri lainnya, seperti tekstil dan produk kulit olahan.

Dengan menggunakan internet, para pelaku bisnis atau individu yang melakukan usaha di internet dapat meningkatkan pendapatan bisnisnya. Manfaat internet yang dirasakan langsung oleh para pelaku bisnis di Indonesia adalah sebagai berikut.

  • Mampu menggarap peluang pasar lokal (dirasakan oleh 78 persen responden)
  • Biaya promosi yang murah (70 persen)
  • Sistem distribusi yang murah (65 persen)
  • Memperoleh pasar baru di Indonesia (60 persen)
  • Dapat mengakses pasar yang lebih luas (15 persen)

“Kontribusi internet terhadap ekonomi Indonesia itu angka yang positif. Nilai tersebut akan berdampak ke sektor ekonomi lainnya sehingga juga akan meningkatkan PDB Indonesia,” kata Ric di Jakarta, Selasa (13/12/2011).

Dengan kekuatan internet, pembelanjaan di dunia maya (e-commerce) diperkirakan akan mencapai Rp 2 triliun atau setara 230 juta dollar AS selama 2010 atau kurang dari 0,1 persen dari PDB.

Survei ini dilakukan Deloitte Access Economics terhadap 200 pengusaha usaha kecil dan menengah (UKM) di beberapa kota di Indonesia.

Referensi: http://tekno.kompas.com/read/2011/12/13/16152949/Inilah.Manfaat.Internet.bagi.Ekonomi.Indonesia

Just Leave Home Without It!

Pelajaran berharga terkadang dibayar harus cukup mahal, bukan hanya dengan uang tapi juga dengan rasa malu.

……Jelas suatu kesalahan fatal yang sulit dimaafkan dan sulit dibayangkan akal sehat bisa terjadi pada saya. Pak Haji malah lalai mematikan HP nya sendiri. Mana orang melek IT lagi. Begitu pikir saya.

Saya sudah pasrah. Setelah tadi saya coba memencet dari luar tidak bisa. HP nye memang terbungkus saring kulit cukup tebal. Saya memilih ikut diam saja menunggu salam dari Imam. Sementara suara Budi penyanyi “doremi” ini makin kencang.

Alhamdulillah, Sang Imam mengucap salam, pertanda akhir salat. Saya memilih segera berdiri, dan sambil mengucap maaf kepada jemaah sekeliling saya memegang kantong celana agar bunyi musik berkurang. Namun saya heran ketika saya tutup dengan tangan, suara lagu “Doremi” yang kocak itu bukan nya makin pelan. Justru bertambah kencang……

Selengkapnya…

Mobil Dinas Sebaiknya Tidak Dilarang Dipakai Mudik!

Di era reformasi yang diharapkan memberi keringanan dan kemudahan bagi orang-orang susah, justru banyak pemimpin yang lengah dan tidak mau memanfaatkan kesempatan membantu orang lain yang nota bene anak buah sendiri. Alih2 membantu meringankan, malah ada yang mengharamkan dan mengancam anak buahnya yang berani memakai kendaraan dinas untuk pulang mudik, ditengah kesulitan mencari alat transportasi dengan harga terjangkau dan tingkat keselamatan yang layak. Patut disesalkan jika kebijakan yang hanya menampakkan kemunafikan dalam wujud nyata ini dibiarkan tumbuh dalam pikiran orang2 yang sehari-harinya justru memanfaatkan kendaraan dinas untuk keperluan diri dan keluarga nya sendiri.

Ulasan dan berita lengkap dapat di Klik Disini.

DPR Nilai Smart Telecom Rugikan Rakyat

18 juli 2011

Investor Daily
Oleh Imelda Rahmawati
 JAKARTA – Komisi I DPR minta Kemenkominfo
segera menyelesaikan masalah tagihan biaya hak
penggunaan (BHP) frekuensi PT Smart Telecom.
Kemenkominfo harus bisa bersikap tegas, apalagi
tunggakan itu sudah berlangsung bertahun-tahun
dengan nilai Rp 1,1 triliun.
Intel Dukung Konten Lokal
JAKARTA – Intel Asia Pasifik terus
berupaya mendukung kemajuan
konten lokal dengan menyelenggarakan
kompetisi Intel Developer Apps
pada acara IDByte di Jakarta awal
pekan ini. Setelahnya mereka melanjutkan
promosi program ini di Bandung
dengan mengadakan Intel Developer
Day pada 13 Juli 2011 bagi
para pengembang setempat.
“Inisiatif ini merupakan bagian
dari komitmen Intel untuk memacu
kreativitas di antara para pengembang
aplikasi berbakat dan menampilkan
bakat mereka di dan ke luar
Indonesia,” ujar Direktur Asia Pasifik
Developer Relation Division Software
and Service Intel Corporation Narendra
Bhandari dalam keterangan
persnya di Jakarta, Kamis (14/7).
Menurut dia, kebutuhan dan
kreativitas lokal akan mendorong perekonomian
internet berkembang lebih
cepat. Maka dari itu, ia menyatakan
bahwa kompetisi ini merupakan
kesempatan bagi para pengembang
untuk masuk pada bursa dan
ambil bagian dalam ekosistem App
Global.
Dia menambahkan, kompetisi ini
akan berlangsung dari 15 Juli-30 September,
2011 dan terbuka untuk siapa
saja yang tertarik dalam pengembangan
aplikasi. Setiap peserta dapat
dengan mudah bergabung dengan
mengakses http://appdeveloper.intel.
com dan mendaftarkan kar ya
aplikasi mereka. Selain itu, sepuluh
aplikasi terbaik akan mendapatkan
masing-masing US$500, sementara
tiga aplikasi terbaik akan menerima
US$ 1.000.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, kompetisi
tersebut mendukung para pengembang
konten lokal untuk
menciptakan dan menjual aplikasi
dalam berbagai perangkat dan platform
ini. Dukungan ini meliputi hadiah
senilai lebih dari US $250 juta,
serta termasuk perjalanan ke Kutub
Selatan dan Petualangan dengan Jet
Supersonic. Disamping itu, mereka
juga menyediakan labolatorium
untuk pelatihan langsung bagi para
developer seperti penyediaan hardware
dan Software Development Kit
untuk platform MeeGo.
“Selain itu, Intel AppUp menyediakan
kerangka etalase yang memungkinkan
ekosistem kuat bersama
jaringan OEM & pengecer.
Hingga saat ini ada lebih dari 18 toko
app rekanan yang menyediakan pengembang
dengan akses ke beragam
pasar melalui satu program,”
ujar dia. (c08)
XL Peduli
Head Of Corporate Communication XL Febriati Nadira menyaksikan Dokter dari tim IDI melakukan pemeriksaan kesehatan seorang
warga saat program layanan kesehatan gratis XL di Desa Cihideung Bandung, Sabtu (16/7). Pada kesempatan tersebut PT XL Axiata,
Tbk juga menyerahkan bantuan perangkat komputer.
Investor Daily/ist
“Pemerintah bisa saja mencabut
lisensi Smart kalau memang merugikan
negara dan rakyat,” kata anggota
Komisi 1 DPR Tantowi Yahya
ketika dihubungi oleh Investor Daily
di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Tantowi, permasalahan
ini seharusnya bisa selesai sebelum
akhir tahun. “Saya harapkan, masalah
ini secepatnya diselesaikan. Jangan
tunggu hingga akhir tahun karena
hal ini sangat merugikan rakyat,”
ujar dia.
Menurut Tantowi, masalah tunggakan
yang berlarut-larut otomatis
merugikan rakyat. Frekuensi yang
digunakan oleh Smart Telecom maupun
operator lain adalah kepunyaan
negara, yang tak lain adalah rakyat.
Penggunaannya diatur pemerintah.
Jika terjadi tunggakan BHP, masyarakatlah
yang dirugikan.
Sementara itu, anggota Komisi I
DPR Roy Suryo menyatakan, DPR
telah mengamati kasus ini sejak lama.
Sekitar dua bulan lalu, Komisi I DPR
pernah menanyakan masalah itu
kepada Menkominfo dan pihak Smart.
Dalam pertemuan kala itu ditemukan
fakta bahwa pihak Smart Telecom
memang belum membayar BHP di
frekuensi yang ditempatinya. Roy
menyatakan, kala itu kedua pihak
masih tetap pada pendirian masingmasing
dalam jumlah tagihan BHP itu.
Roy mengatakan, pihaknya akan
kembali menanyakan penyelesaian
masalah tersebut pada rapat dengar
pendapat (RDP) selanjutnya. “Meski
RDP selanjutnya belum dijadwalkan
tetapi sekitar sesudah bulan Puasa
kami akan panggil kembali Menkominfo
dan menanyakan masalah tersebut,”
ujar Roy.
Menurut Roy, pemerintah serius
menyelesaikan masalah itu. Operator
telekomunikasi mempunyai kewajiban
setoran dana kewajiban pelayanan
umum (USO) yang akan digunakan
untuk rakyat. Jika kewajiban
tersebut tidak dibayar, berarti merugikan
rakyat.
“DPR serius mengatasi masalah ini.
Bahkan kami mengharuskan kepada
Kemenkominfo agar masalah tersebut
selesai tahun ini sekaligus masalah
tentang penataan frekuensi,” kata dia.
Selain itu, Asdep Telematika dan
Utilitas Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian Eddy Satriya
menyatakan, permasalahan yang sudah
berlarut hingga bertahun-tahun
tersebut bisa menjadi penilaian yang
jelek bagi kinerja Kemenkominfo.
Senada dengan Tantowi dan Roy,
Eddy pun mengajurkan agar masalah
ini diselesaikan sebelum akhir tahun.
Ia pun menyambut baik jika nanti
Kemenkominfo benar-benar akan
meneruskan masalah tersebut ke
Panitia Urusan Piutang Negara
(PUPN) Kementerian Keuangan.
“Tetapi jangan sampai lempar badan
terhadap masalah ini. Saya anjurkan
Kemenkominfo untuk berusaha sebaik-
baiknya dahulu, namun jika memang
tidak ada jalan lain barulah bisa
meminta bantuan PUPN,” kata dia.
Meskipun begitu, ia menilai Kemenkominfo
belum perlu mengambil langkah
sampai mencabut lisensi Smart
Telecom. Itu bukanlah langkah yang
bijak. Kedua pihak harus terlebih dulu
menempuh cara lain yang lebih hatihati
dan bijaksana. Jika masih belum
bisa terselesaikan, itu akan
merugikan kedua belah pihak.
“Efeknya bagi Smart, mereka tidak
bisa menjadi operator yang berkembang
dan menawarkan layanan
yang bagus bagi masyarakat. Sementara
bagi Depkominfo, akan muncul
penilaian yang buruk baik dari
pemerintah maupun masyarakat,”
ujar dia. (c08)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.