wow…sarat sejarah!

Surat Terbuka
untuk Presiden Republik Indonesia

Luhak Agam, 18 April 2018

Kepada Yth. : | Presiden Joko Widodo
Bapak Presiden Republik Indonesia
Ir. Joko Widodo
di Jakarta

Dengan hormat,
Assalamualaikum wr.wb

Bapak Presiden, harapan dan doa kami kiranya Bapak selalu sehat dan dilindungi Yang Maha Pelindung dalam memimpin Republik ini. Amin.

Bapak Presiden, Senin pagi, 30 Oktober 2017 lalu, Pusat Pertokoan Pasar Atas, Bukittinggi, Sumatera Barat terbakar. Musibah itu membuat 673 orang pedagang pemilik toko tidak bisa lagi berusaha.

Perhatian dari pemerintah pusat untuk segeranya Pusat Pertokoan Pasar Atas Bukittinggi dibangun sangat menggembirakan sehingga perekonomian masyarakat bisa segera bangkit. Home-Industry dan UKM/UMKM bisa berproduksi kembali.

Bapak Presiden, kami membuat surat ini karena adanya keresahan Niniak Mamak Pemangku Adat dari 40 Nagari yang ada di Luhak Agam (Kabupaten Agam, Sumbar sekarang). Masalahnya adalah, sekarang Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi tanpa proses bermusyawarah melakukan tindakan sepihak menguasai lahan eks. Pusat Pertokoan Pasar Atas Bukittinggi, seluas 1,8 haktare. Cara menguasai lahan tersebut dengan meminta Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Bukittinggi menerbitkan Sertifikat tanah atas nama Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi. Padahal lahan/tanah tersebut bukan milik pemerintah. Tanah tersebut adalah lahan/tanah Hak Ulayat Adat bersama/serikat 40 Nagari di Agam, Sumatera Barat sesuai Undang Adat Minangkabau.

Niniak Mamak Pemangku Adat dari 40 Nagari Agam telah menyampaikan dua pucuk surat yakni berupa pemberitahuan dan berupa keberatan kepada BPN Bukittinggi, yang ditembuskan juga kepada Kepala BPN Provinsi Sumatera Barat dan Menteri Agraria/BPN R.I.

Tetapi surat keberatan Niniak Mamak Pemangku Adat dari 40 Nagari, yang mengingatkan dan keberatan tanah tersebut dikeluarkan Sertifikat-nya dalam bentuk apapun untuk Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi, tidak diindahkan oleh BPN. BPN tetap mengeluarkan Sertifikat untuk Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi.

Surat pertama: Nomor: 001/Agam Tuo/XII-2017, bertanggal 27 Desember 2017 berupa pemberitahuan kepada BPN bahwa tanah eks. Pertokoan Pasar Atas yang terbakar tersebut adalah Tanah Hak Ulayat 40 Nagari Agam. Atas surat pemberitahuan itu, BPN Bukittinggi membalas dengan surat No; 104/13-.13.75/
II/2018, bertanggal 23 Februari 2018. BPN meminta Niniak Mamak Pemangku Adat 40 Nagari Agam menjelaskan alasan keberatan.

Melalui surat kedua: Nomor: 3/Agam Tuo/III-2018, bertanggal 10 Maret 2018, Niniak Mamak Pemangku Adat 40 Nagari Agam memaparkan sejarah dan kronologi Tanah Hak Ulayat 40 Nagari Agam dimaksud, sebagaimana kami paparkan di bawah ini:

Lahan Pasar Atas Eks. Pusat Pertokoan Pasar Atas Bukittinggi yang terbakar 30 Oktober 2017, yang terletak di Kelurahan Aua Tajungkang Tangah Sawah (ATTS), Kecamatan Guguak Panjang Bukittinggi tersebut berada di bawah Hak Ulayat Adat secara kolektif sebagai lahan/tanah milik bersama Serikat 40 Nagari Luhak Agam.

Dalam adat Minangkabau, harta adat termasuk dalam bagian hak asal usul atau hak tradisional nagari, yang diakui dan dihormati UUD 1945. Pada pasal 18B ayat 2 UUD 1945 (amandemen 4), yang berbunyi;

“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”

Kesatuan masyarakat hukum adat Minangkabau sampai saat ini tetap hidup. Di mana Adat Minangkabau memiliki aturan, dan ketetapan berkaitan kehidupan bermasyarakat. Semuanya diatur dengan Undang Adat Minangkabau, yang sifatnya permanen dan turun-temurun. Salah satu ketentuan berkaitan dengan harta berlandaskan Hukum Adat yang ketetapannya diatur dalam Undang Adat Minangkabau, baik berupa harta kolektif, harta pusaka bersama, aktivitas kolektif (bersama) masyarakat adat, yang dapat diterang-jelaskan sebagai berikut:

PERTAMA: Pada tahun 1403 M atau 804 H, niniak mamak Minangkabau inti (Minangkabau al-Bittah) yakni Luhak Tanahdata, Luhak Agam dan Luhak 50 Koto (dikenal dengan Luhak nan Tigo) bermusyawarah dan melahirkan kesepakatan kolektif tentang Undang Adat Minangkabau. Dalam kesepakatan itu juga ditetapkan falsafah Minangkabau: ‘Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah’ yang dikenal dengan Sumpah Satie Marapalam.

KEDUA: Pengaturan dan kesepakatan tentang perekonomian juga ditetapkan dalam Sumpah Satie Marapalam sebagai menyempurnakan aktivitas ekonomi masyarakat dalam bentuk PAKAN (Pasa atau Pasar, tempat bertemunya penjual dengan pembeli barang atau transaksi jual-beli) di Minangkabau. Keberadaan atau pembangunan PAKAN atau Pasar diatur secara adat karena ditetapkan melalui musyawarah niniak-mamak pemangku adat.

Niniak Mamak di Luhak Agam, juga di Minangkabau, bermusyawarah menyepakati untuk membuat Pakan, Pasa atau Pasar di nagari-nagari. Begitu juga di Luhak Agam. Sampai sekarang, penamaan nama Pakan dan nama Nagari banyak yang identik, misalnya Pakan Sinayan, Pakan Silasa, Pakan Raba’a, Pakan Kamih, Pakan Akaik. Nama Pakan memakai nama hari, di mana pada hari tersebut pedagang menggelar dagangan. Ada juga Pakan (Pasar) yang tidak mamakai nama hari seperti Pakan Kurai di Gurun Panjang di Nagari Kurai; Pakan Ladang di Nagari Ampang Gadang; Pakan Biaro di Nagari Biaro.

Selain menetapkan Pakan (Pasa, Pasar) di nagari, niniak mamak dari beberapa nagari juga bermusyawarah dan bersepakat mendirikan Pasar Serikat secara bersama beberapa nagari. Di Luhak Agam, Pasa Baso merupakan Pasar Serikat beberapa nagari di Baso, Pasa Lasi (bernama Pakan Silasa, Lasi) adalah Pasa Serikat beberapa Nagari di Canduang, Pasa Padanglua adalah Pasar Serikat beberapa nagari di Banuhampu dan pakan lainnya.

Pasar Serikat milik nagari-nagari yang lebih besar juga didirikan di Padang Panjang (Luhak Tanah Datar) berdasarkan musyawarah masyarakat diwaliki niniak mamak X Koto dan Batipuah. Juga ada Pasar Serikat milik bersama nagari-nagari di Payakumbuh (Luhak 50 Koto), didirikan Pasar Serikat oleh Niniak Mamak Koto nan Ampek, dan Koto nan Gadang. Di Luhak Agam, niniak mamak pemangku adat 40 Nagari di Agam, melalui musyawarah bersepakat mendirikan Pasar Serikat milik nagari-nagari berlokasinya di Nagari Kurai yang merupakan salah satu nagari di antara 40 Nagari di Agam Tuo. Berdasarkan kesepakatan niniak mamak di Minangkabau, Pasar Serikat diatur dalam ‘Syarikat Haq Ummat’.

Pasar Nagari, Pasar Serikat beberapa nagari, dan Pasar Serikat banyak nagari (dalam cakupan Luhak) di Minangkabau secara langsung sebagai sarana ekonomi masyarakat. Manfaat lain Pasar adalah sebagai sumber pendapatan untuk pembangunan nagari, yang berasal dari penghasilan pasar yang dibagi ke nagari-nagari yang berserikat.

KETIGA: Salah satu dari beberapa bukit di Nagari Kurai yakni ‘Bukit Kubangan Kabau’ dibangun jadi pasar secara bersama-sama oleh 40 Nagari di Luhak Agam. Nagari Kurai Limo Jorong adalah salah satu dari 40 Nagari yang berada di Luhak Agam.

Kegiatan ‘manaruko’ (yakni bergotong-royong membuka lahan secara bersama-sama) dimulai pada pertengahan abad ke-18. Lahan yang dijadikan Pasar Serikat 40 Nagari Agam, sesuai undang adat Minangkabau: ‘setiap jengkal tanah di Minang’ ada yang punya.

Tidak hanya lokasi untuk pasar dibuka, dibenahi, juga dibangun/dibuat berbagai ruas jalan besar untuk akses (jalan) menuju pasar di Bukik Kubangan Kabau dengan cara bergotong-royong masyarakat dari 40 Nagari Agam.

Jalur jalan ke arah Pasar Serikat 40 Nagari dibuka/dibangun dari/ke arah Timur sehingga terbuka akses ke kawasan nagari-nagari Ampek Angkek, dari/ke Utara ke kawasan nagari-nagari Kamang, Tilatang Kamang, Magek, dari\ke Barat melalui Ngarai Sianok ke kawasan nagari-nagari Sianok, Koto Gadang, Ampek Koto dan sekitarnya serta ke Selatan ke kawasan nagari Sungaipua, dan ke arah Padang.

Pasar Serikat 40 Nagari Luhak Agam yang terletak di Nagari Kurai (Pasar Atas Bukittinggi sekarang) dibangun bersama-sama oleh Nagari-Nagari yang ada di Luhak Agam, yakni: 1. Nagari Biaro, 2. Nagari Balaigurah, 3. Nagari Lambah, 4. Nagari Panampuang, 5. Nagari Kurai, 6. Nagari Canduang Koto Laweh, 7. Nagari Sariak, 8. Nagari Sungaipua, 9. Nagari Batagak, 10. Nagari Batu Palano, 11. Nagari Padang Laweh, 12. Nagari Sianok, 13. Nagari Koto Gadang, 14. Nagari Guguak, 15. Nagari Tabek Sarojo, 16. Nagari Kamang, 17. Nagari Magek, 18. Nagari Simarasok, 19. Nagari Tabek Panjang, 20. Nagari Padang Tarok, 21. Nagari Koto Tinggi, 22. Nagari Kapau, 23. Nagari Gaduik, 24. Nagari Koto Tangah, 25. Nagari Kubang Putiah, 26. Nagari Ladang Laweh, 27. Nagari Cingkariang, 28. Nagari Taluak IV Suku, 29. Nagari Padanglua, 30. Nagari Pakan Sinayan, 31. Nagari Ampang Gadang, 32. Nagari Batutaba, 33. Nagari Pasia, 34. Nagari Lasi, 35. Nagari Bukik Batabuah, 36. Nagari Koto Tuo, 37. Nagari Koto Panjang, 38. Nagari Balingka, 39. Nagari Malalak, 40. Nagari Sungai Landia.

KEEMPAT: Pasar Serikat 40 Nagari Agam yang dibangun di Nagari Kurai dan kawasan sekitarnya, sudah ada jauh sebelum Bukittinggi menjadi kota. Artinya ketika itu masih berupa Nagari yakni Nagari Kurai. Juga sudah ada sebelum Indonesia merdeka 17 Agustus 1945.

Jika ditarik ke belakang, Kolonial Belanda baru masuk menjajah ke Luhak Agam sekitar tahun 1823. Kolonial Belanda menjadikan Nagari Kurai (kota Bukittinggi sekarang) sebagai basis dan membangun Benteng Fort de Kock, sebagai barak tentara Belanda tahun 1825.

Keberadaan Pasar Serikat 40 Nagari Agam dengan berbagai sarana dan fasilitas yang sederhana berada di Bukik Kubangan Kabau, Nagari Kurai, dikelola dengan membentuk Komite Pasar yang mewakili 40 Nagari yang berserikat. Sebelum memasuki abad ke-19, Pasar Serikat Agam tersebut sudah ramai sebagai sentral perdagangan hasil bumi di daratan tinggi pedalaman Minangkabau.

Pada tahun 1784, tepatnya 22 Desember 1784, di Pasar Serikat tersebut berlangsung suatu musyawarah Niniak Mamak 40 Nagari Agam. Musyawarah memutuskan mengganti nama lokasi pasar dari ‘Bukik Kubangan Kabau’ menjadi ‘Bukik nan Tatinggi’. Peristiwa itu dijadikan landasan historis oleh pemerintah (kota) sebagai titik bersejarah lahirnya nama Bukittinggi (dari bahasa Minang ‘Bukik nan Tatinggi’). Tanggal 22 Desember 1784 sebagai hari lahir Bukittinggi ditetapkan dengan Surat Keputusan walikota Kepala Daerah Kota Bukittinggi No. 188.45-177-1988 tanggal 17 Desember 1988.

KELIMA: Hasil Pasar Serikat Agam yang terletak di Nagari Kurai itu, setiap tahun dibagi kepada 40 Nagari di Luhak Agam yang berserikat. Untuk mengurus Pasar Serikat, niniak mamak mewakili 40 Nagari di Agam membentuk Pengurus Pasar, yang berkantor di sebelah Mesjid Raya Bukittinggi sekarang, terdapat bangunan kantor Pengurus Pasar Serikat Bukittinggi, di sebelahnya kantor Pasanggrahan Angku Palo/Wali Nagari dan pernah menjadi Kantor Walikota Administratif Bukittinggi setelah merdeka (Kantor KPU Bukittinggi sekarang, di depan Bioskop Gloria, tempat parkir motor saat ini).

Kantor Pengurus Pasar berdampingan dengan bangunan Pasanggrahan Angku Palo atau Wali Nagari. Bangunan Pasanggrahan disebut karena para Wali Nagari Agam Tuo yang datang ke Bukittinggi, singgah dan sering menginap untuk istirahat. Di dekat kantor itu ada jenjang sebagai akses jalan dari (sekarang Kampung Cina) ke Pasar Atas, diberi nama Janjang Pasanggrahan.

Pasar Serikat 40 Nagari Luhak Agam di Nagari Kurai, Bukittinggi, niniak mamak Luhak Agam ketika dibangun juga diberi tanda alam atau simbol atau penanda. Selain Janjang Pasanggrahan, Pasanggrahan Wali Nagari/Angku Palo, simbol/tanda yang dibuat adalah membangun jenjang yang diberi nama Janjang 40 yang menandakan 40 Nagari Agam.

Selain itu juga simbol berupa harimau yang dibuat dari semen berupa patung harimau, yang ditempatkan di setiap gerbang dan/atau jenjang; ada patung harimau ditempatkan di gerbang depan Jam Gadang, Janjang 40, Janjang Gudang dan di depan Pasar Ateh. Jumlah patung harimau itu berjumlah 8 (delapan) sebagai tanda delapan tokoh terkenal pejuang Agam Tuo yang dikenal dengan ‘Harimau nan Salapan’. Ingatan kolektif masyarakat Agam yang tidak bisa dihapus begitu saja adalah ‘Bukittinggi Koto Rang Agam’, yang menyiratkan dan menyatakan kondisi ibarat ‘kuku dan daging’.

KEENAM: Kolonial Belanda yang masuk ke Luhak Agam sekitar tahun 1823, lalu tahun 1827 Belanda membangun barak dan benteng di Nagari Kurai, di salah satu bukit yang sekarang dikenal dengan Benteng Fort de Kock. Setelah perang Paderi usai tahun 1843, Belanda yang menjajah ranah Minangkabau mulai mengatur-ngatur kehidupan orang banyak.

Antara tahun 1890-1900, Pasar Serikat Luhak Agam (di Bukittinggi sekarang) dibangun beberapa los (los adalah bangunan besar tanpa sekat) yang dikenal dengan nama Los Maninjau karena los tersebut dominan orang Maninjau berdagang, Los Galuang (karena bentuknya ber-gelung), los Ampek Angkek karena banyaknya orang Ampek Angkek berdagang pakaian. Selain sarana prasarana ditambah, jalan diperbaiki. Pasar ditambah dan dikembangkan sejalan kebutuhan dan peningkatan ekonomi. Dibuat Pasa Teleng, Pasa Bawah, Pasa Taranak, Pasa Burung.

Semua pembangunan itu dilakukan saat pemerintah Belanda berkuasa. Tetapi pembangunan tetap dilakukan di bawah organisasi Komite Pasar Sarikat 40 Nagari Agam, dengan biaya dari organisasi pasar yang disebut dengan nama Pasar Fonds. Juga ada dana yang dipinjam dari perusahaan atau maskapai keuangan swasta Belanda yakni Nederland Indishe Escompto Bank.

Pembangunan Pasar Serikat Agam di Bukittinggi itu disebut dalam buku-buku, seakan-akan dibangun oleh Belanda di bawah Controleur Westenenk antara tahun 1901-1908. Belanda waktu itu berkuasa, memerintah, membuat aturan dan masyarakat akan ikut aturan atau ketentuan. Begitu juga Pengurus Pasar Serikat membangun Pasar Atas Bukittinggi dan Pasar-Pasar lainnya mengikuti aturan Belanda sebagai pemerintah yang punya aturan tata-kota dan perizinan.

Controleur Westenenk berada di Fort de Kock (Bukittinggi sekarang) antara tahun 1901-1908 adalah pejabat pengawas pemerintah Belanda, sama dengan inspektorat atau pejabat inspeksi yang mengawasi masyarakat ketika membangun. Ketika Pasar Serikat 40 Nagari dibangun, memakai tenaga masyarakat dari 40 Nagari Agam, dipakai dana pinjaman dari perusahaan swasta Belanda, semuanya diawasi Westenenk sebagai aparat kolonial Belanda.

KETUJUH: Pasar Serikat 40 Nagari Agam di Bukittinggi, sejak dibangun tahun 1784, kemudian Belanda mulai masuk ke Bukittinggi tahun 1823 dan berkuasa sampai tahun 1942, Belanda tidak pernah menguasai Pasar Serikat Bukittinggi secara total. Belanda jika bersikap menguasai akan mendapat perlawanan dari masyarakat Minangkabau, Luhak Agam termasuk basis utama perlawanan terhadap Belanda. Perang dengan Belanda dilakukan masyarakat Agam, yang dicatat sejarah yakni Perang Paderi dalam tiga periode. Periode satu (1803-1821) Perang Tuak di mana kaum ulama memerangi beredarnya tuak, minuman keras di tengah-tengah masyarakat, dikenal dengan gerakan ‘pemurnian Islam di Minangkabau’ . Periode kedua (1821-1838) perang melawan Belanda, di mana masyarakat Minang bersatu memerangi Belanda. Periode ketiga: Puncak perang orang Minangkabau dengan Belanda antara 1838-1843 yang dikenal dengan Perang Batipuah. Juga terjadi Perang Kamang atau Perang Belasting dan Perang Mangopoh dikenal sebagai perang pajak melawan Belanda (1908).

Pasar Serikat 40 Nagari Agam di Bukittinggi pada zaman Belanda, tetap diurus oleh Pengurus Pasar di mana mereka ditunjuk melalui musyawarah niniak mamak 40 Nagari Agam. Belanda yang berkuasa sebagai pemerintah waktu itu hanya membuat aturan-aturan. Belanda bahkan tidak bisa melakukan pungutan atau pajak kepada masyarakat, termasuk kepada pedagang di Pasar Serikat Pasa Atas Bukittinggi dan pasar-pasar lain.

Pada tahun 1914, Belanda dengan niniak mamak Minangkabau mencapai kesepakatan. Kesepakatan itu adalah Belanda mengakui pemberlakuan Undang atau Aturan/Hukum Adat Minangkabau di nagari-nagari. Atas pengakuan Belanda itu, niniak mamak di Minangkabau, termasuk di Luhak Agam baru membolehkan pemerintah Belanda memungut pajak di Pasar Serikat Agam di Bukittinggi tersebut.

DELAPAN: Sejak awal Pasar Serikat dibangun, tahun 1784, pengurus Pasar Serikat 40 Nagari tetap ada. Bahkan sejak tahun 1914 ketika Belanda mulai mengurus pajak di pasar, Pengurus Pasar Serikat menerima pembagian dari hasil pajak Pasar Serikat yang diurus aparat Belanda.

Hasil dari Pasar Serikat Pasar Serikat (Pasar Atas Bukittinggi) dan pasar lainnya di Bukittinggi dibagi oleh Pengurus Pasar kepada 40 Nagari di Agam. Bagi nagari-nagari, pembagian hasil Pasar Serikat Bukittinggi tersebut digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana untuk keperluan masyarakat.

Setelah Belanda kalah (tahun 1942), Jepang berkuasa dari tahun 1942-1945, Pasar Serikat Agam di Bukittinggi diurus kembali oleh Pengurus Pasar Serikat tanpa campur tangan Jepang.

SEMBILAN: Pada masa awal kemerdekaan RI, di bawah pemerintah Republik, sampai tahun 1960, nagari-nagari di Agam masih mendapat pembagian dari hasil Pasar Serikat Agam yang ada di Bukittinggi tersebut. Setelah itu, sejak 1961, tidak ada lagi pembagian hasil Pasar Sarikat karena kondisi yakni: 1. Terjadinya Agresi Belanda tahun 1949-1951 di mana Pemerintah dalam keadaan Darurat (PDRI), 2. Meletusnya PRRI (20 Desember 1958 – 29 Mei 1961), 3. Meletusnya G-30-S PKI tahun 1965, 4. Perubahan Orde Lama ke Orde Baru, 1966, 5. Keluarnya UU No. 5 tahun 1979 tentang Desa, yang menetapnya sistem pemerintahan terbawah adalah Desa sehingga Nagari tidak ada lagi di Minangkabau, termasuk di Luhak Agam. Kondisi itu berlangsung sampai tahun 2002

Bapak Presiden yang kami hormati

Pada tahun 1972 Pasar Serikat Tradisional di Pasar Atas Bukittinggi terbakar besar-besaran yang membuat bangunan, los-los utama yang dibangun sejak zaman sebelum dan saat Belanda berkuasa yang mencirikan Pasar Serikat 40 Nagari hilang. Setelah terbakar, Pasar Atas Bukittinggi dibangun kembali dengan dana pinjaman BNI 46. Selama dua tahun pembangunan, tahun 1974 sudah bisa ditempati pedagang. Setiap pedagang membayar Rp4 juta ke BNI 46, ada yang membayar tunai dan ada yang mencicil selama 5 tahun. Para padagang pemilik toko, sampai tahun 1989 tidak dikenakan pajak atau retribusi oleh pemerintah kota karena dana pembangunannya tidak berasal dari dana Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi.

Tahun 1995, pusat pertokoan Pasar Atas Bukittinggi tersebut kembali terbakar meski tidak terlalu parah. Kemudian tahun 1997 kembali terbakar, lebih parah sehingga direhabilitasi berat. Melalui Kanwil PU Sumatera Barat turun dana Rp6 miliar untuk membantu pedagang pemilik toko untuk merehabilitasi Pasar Atas Bukittinggi. Tahun 1999 Pasar Atas Bukittinggi bisa kembali beroperasi. Tidak ada dana rehabilitasi bersumber dari dana APBD Kota Bukittinggi.

Pada tahun 2003, Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi baru melakukan pemungutan retribusi kepada pedagang pemilik toko Pasar Atas Bukittinggi dengan dasar hukum Perda Nomor 16 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Pasar.

Musibah kebakaran kembali terjadi 30 Oktober 2017. Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi merencanakan Pasar Atas Bukittinggi dibangun baru. Dana pembangunan bersumber dari APBN tahun 2018. Besar dana APBN melalui Kementerian PU sekitar Rp342 miliar.

Bapak Presiden yang terhormat

Kerisauan Niniak Mamak Pemangku Adat di Agam, Sumatera Barat berkaitan dengan beralihnya hak kepemilikan Tanah Milik Adat bersama 40 Nagari di Agam kepada Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi.

Kami sampaikan kepada Bapak Presiden, bahwa:

1. Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Bukittinggi menginformasikan bahwa Sertifikat Tanah Eks. Pasar Atas Bukittinggi yang terbakar itu telah diterbitkan BPN dengan bentuk Sertifikat Hak Pakai kepada Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi berdasarkan pengajuan yang dilakukan Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi kepada BPN Bukittinggi.

2. Kepala BPN Bukittinggi maupun BPN Sumatera Barat tidak menjadikan surat informasi dan keberatan dari Niniak Mamak Pemangku Adat 40 Nagari Agam sebagai pertimbangan penting untuk tidak mengeluarkan Sertifikat Hak Pakai kepada Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi karena tanah tersebut bukan tanah milik pemerintah. Selama ini telah 25 orang Walikota Bukittinggi (definitif, dan Plt.) berganti tidak pernah men-Sertifikat-kan tanah Pasar Atas tersebut karena tahu bahwa tanah tersebut adalah Tanah Hak Ulayat Adat Bersama 40 Nagari Agam.

Bapak Presiden yang kami muliakan

Kami mengetahui betapa Bapak memiliki perhatian besar terhadap hak-hak adat dan tanah ulayat adat di negeri ini. Sebagaimana pernyataan Bapak saat penyerahan SK Hutan Ulayat Adat kepada 9 Masyarakat Hukum Adat, Jumat, 30 Desember 2016 di Istana Negara, kami kutip dari setkab.go.id: “Pengakuan hutan adat, pengakuan hak tradisional masyarakat hukum adat, berarti adalah pengakuan nilai-nilai asli bangsa Indonesia.”

Dalam program Reformasi di Bidang Agraria, Bapak Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan telah dan akan menargetkan mengembalikan 12 juta hektare tanah yang selama ini dikuasai negara yakni berupa hutan ulayat kepada masyarakat adat untuk dimanfaatkan bagi kepentingan ekonomi masyarakat.

Dari paparan masalah yang kami sampaikan, harapan tertumpang kepada Bapak, untuk:

1. Kiranya Bapak Presiden dapat mengembalikan hak kepemilikan tanah eks. Pertokoan Pasar Atas Bukittinggi sebagai Ulayat Hak Adat kepada masyarakat/niniak mamak Pemangku Adat 40 Nagari Agam yang berserikat membuka dan membangun Pasar Serikat 40 Nagari Agam di Bukittinggi sejak abad 17 silam.

2. Kiranya Bapak Presiden menegaskan kepada Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi agar Pembangunan Pertokoan Pasar Atas Bukittinggi yang memakai dana APBN dapat direalisasikan dengan mempertimbangan Hak Masyarakat Adat 40 Nagari Agam sebagai pemilik tanah di mana pertokoan Pasar Atas Bukittinggi dibangun.

Terimakasih atas perhatian dan kemakluman Bapak Presiden.

Salam hormat,
ASRAFERI SABRI

Warga Agam
Alamat; Jl. Simber Raya, Nagari Pasia, Kec. Ampek Angkek, Agam

Cc.
Wakil Presiden RI – Jusuf Kalla
Kemenko Polhukam RI
Setkab RI
Kementerian Sekretariat Negara RI
Kementrian Agraria & Tata Ruang/ BPN RI
Kemendagri_RI
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI
Kantor Staf Presiden Republik Indonesia
Sekretariat Wakil Presiden RI

Advertisements

Mark is under fire..

Cyber Security and the advances

Ijin share SBG BAHAN KAJIAN DAN PENGETAHUAN, YG KITA LIHAT BUKAN PERTENTANGAN POLITIKNYA TETAPI NILAI AKADEMISI TTG PENTINGNYA MEMBANGUN TANNAS:
Copas dari Royke Tobing

*Prabowo, P.W Singer dan Eksistensi Indonesia di Masa Depan*

Selama berada di Birmingham, Alabama, hari-hari saya padat sekali dengan masalah Machine Learning, Artificial Inteligent dan Cyber Intelligence, saking padatnya sampai hari ini saya belum juga sempat pergi ke Museum Civil Right Movement dan 16th Baptist Church yang menjadi saksi Perjuangan Fred Shuttlesworth untuk persamaan hak Afro-Americans. Akan tetapi ditengah kesibukan yang padat ini saya tetap memantau seluruh berita di tanah air, dan sangat tergugah ketika membaca polemik terkait Pidato Pak Prabowo terkait masa depan Indonesia 30 tahun yang akan datang. Seperti biasa, peristiwa apapun yang terjadi dikedua sisi polarisasi indonesia, akan langsung menjadi polemik seru antara fanboy dan haters dari kedua sisi polarisasi ini. Kemudian hal ini diperburuk dengan komentar-komentar para politikus busuk, para *machiavellian* keparat dari kedua kutub polarisasi yang ingin mengambil keuntungan ataupun posisi politis dari polemik ini. Dan melihat ini semua sungguh sangat membuat saya prihatin.

Sebelum saya lanjutkan, saya ingin kembali menegaskan bahwa saya bukan Fanboy ataupun haters dari kedua belah pihak. Saya Rakyat Indonesia yang Cinta akan Bangsa saya sendiri dan muak dengan semua kebodohan dan perseteruan yang tak berujung, yang akan membawa Bangsa Besar ini ke jurang Self Destruction.

Bagi Fanboy Pak Prabowo maupun Fanboy Pak Jokowi yang saling berseteru dan belum juga move on dari Pemilu 2014 (dua-duanya sama saja) biasakan membaca secara utuh dan lengkap, jangan hanya membaca informasi dari media yang sesuai dengan preferensi politik masing-masing, dan langsung berpolemik dan berapologetika membela junjungan masing-masing. Setidaknya beli dulu Novel Ghost Fleet dari P.W Singer baru deh pada berpolemik. Jangan debat kusir pepesan kosong hanya karena Sentimen politik, sentimen agama, dan sentimen-sentimen lainnya tanpa memahami substansi permasalahan.

Semua berawal ketika Pak Prabowo menyampaikan pidato didalam sebuah acara, dalam pidato tersebut beliau menyebutkan bahwa “ada kajian diluar negeri yang menyebutkan bahwa Indonesia akan bubar di tahun 2030”. Sontak saja, pidato ini pun langsung menjadi polemik hebat, dan seperti biasa kembali langsung terlihat polarisasi nyata baik di media massa maupun di social media, antara fanboy Pak Prabowo dan Fanboy Pak Jokowi. Yang satu memainkan gerakan defensif aktif yang satu lagi memainkan gerakan ofensif dan bahkan cenderung ad hominem. Setelah beberapa lama maka diduga bahwa apa yang dimaksud dengan kajian dalam pidato tersebut adalah ternyata novel Ghost Fleet karangan P.W Singer, dan langsung saja Pak Prabowo dibully habis-habisan oleh para fanboy Pak Jokowi, dan semakin banyak cercaan yang sudah ad hominem.

Disisi lain maka fanboy Pak Prabowo pun bertahan habis-habisan, dan memainkan self defense mechanism yang juga tak kalah cantik. Sejujurnya, keduanya sama saja, saya yakin, tidak banyak bahkan mungkin tidak ada orang di kedua belah pihak yang sebelum menyerang atau membela sudah terlebih dahulu membaca buku-buku karya P.W. Singer, termasuk Ghost Fleet.

*Siapakah P.W. Singer ?*

Perkenalan pertama saya dengan P.W. Singer adalah melalui bukunya yang berjudul *“Cybersecurity and Cyber War”*. Buku itu saya Baca ketika saya akan mengambil beberapa sertifikasi internasional terkait cybersecurity dan cyber intelligence. Ini adalah Buku non fiksi, bukan fiksi seperti Ghost Fleet.

Dalam buku ini Singer menjelaskan banyak hal tentang bagaimana cybernetics telah merasuk ke seluruh sendi-sendi pertahanan Amerika, bagaimana negara tersebut membangun cyber resilience mereka, bagaimana serangan Stuxnet atas reaktor nuklir iran, dan bagaimana state sponsored hacker group menyerang amerika, serta bagaimana operasi NSA dalam mempertahankan cyber space mereka.

Buku ini pada dasarnya menjelaskan bagaimana cybersecurity dan cyber war dari sudut pandang kebijakan publik.
P.W. Singer bukanlah sekedar penulis biasa. Ia adalah salah seorang Senior Fellow termuda di Brookings Institution, sebuah lembaga riset prestisius sekaligus Think Thank di Washington, US.
Singer bahkan pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Analisa Keamanan dan Intelijen Abad 21 di Brookings Institution. Dalam pidatonya di TED, dia mengungkapkan bagaimana peranan Drone dalam dunia militer sekarang dan masa depan serta bagaiamna teknologi militer akan terus berevolusi di masa depan. Perlu diketahui sekarang sudah ada mini killer drone yang memiliki kecerdasan buatan untuk mencari dan membunuh targetnya sendiri berdasar facial recognizitiion.

Singer adalah seorang pemegang Phd. dari Harvard, seorang Sarjana dari Princeton. Sungguh seorang yang memiliki tradisi akademis yang sangat tinggi dan dihormati. Singer memiliki akses khusus ke Departemen Pertahanan, Badan Keamanan Nasional, Militer dan Komunitas Intelijen di Amerika. Dia benar-benar figur akademisi yang memahami Geopolitik, Keamanan dan Pertahanan serta Intelijen dan Kebijakan Luar Negeri. Dari sini sedikit banyak kita sudah dapat mengukur kredibilitas dia sebagai seorang akademisi dan peneliti. Tentunya dengan kredibilitas seperti ini dan budaya akademis yang dia jalankan , Singer tidak akan gegabah dalam mebuat setiap tulisan, baik itu jurnal penelitian, paper, buku non fiksi bahkan buku fiksi sekalipun seperti Ghost Fleet. Singer menulis beberapa buku yang menjadi rujukan buat para pembelajar dibidang Cyber Security dan juga spesialis dibidang Cyber Intelligence

Saya akan mencoba menggambarkan secara kontekstual, konsep Cyber War yang diungkap Singer dalam bukunya baik fiksi maupun non fiksi kedalam konteks Indonesia ditambah dengan analisa cyber threat intelligence saya sendiri. Saya akan memberikan gambaran skenario bagaimana jika Indonesia menjadi target sebuah negara untuk dihancurkan dan digulingkan pemerintahannya.

*Operasi Terhadap Indonesia diperkirakan dalam 3 tahap (lihat gbr ) :*

*1. Low Intensity Operation.*

a. Operasi di tahapan ini adalah operasi perang informasi dan operasi psikologis. Tujuan utamanya adalah untuk cipta kondisi. Kondisi apakah yang ingin diciptakan ? Polarisasi ditengah masyarakat, sebab dengan polarisasi maka kohesi masyarakat akan semakin renggang dan ketika semakin renggang maka perpecahan dan destabilisasi akan terjadi. Operasi ini akan sangat efektif dan masif efeknya karena bantuan social media. Setiap Aktor dan cyber persona disebar di kedua kutub polarisasi untuk terus memberikan dan menimbulkan situasi dan kondisi perpecahan.

b. Operasi ekonomi dan sosial kebudayaan juga dilakukan dengan sangat senyap, percayalah dunia intelijen bukan hanya sebatas yang digambarkan dalam film-film hollywood, ini adalah dunia yang sangat gelap dan misterius dan bisa melakukan operasi dari semua sisi untuk mencapai tujuan.

c. Dalam tahapan ini juga akan terus dilakukan operasi-operasi hacking untuk saling menjatuhkan elit dari kedua kutub polarisasi, membuat mereka berpikir bahwa yang menyerang mereka adalah pihak kontra mereka. Disini akan sering terjadi Doxing, Web Defacement, dll.

*2. Coup or Revolution ?*

a. Setelah kondisi yang dinginkan telah tercapai, maka Negara yang akan menyerang kita tinggal memilih apakah ingin menggulingkan pemerintahan yang ada dan meruntuhkan Indonesia dengan cara Coup d’etat ataukah Revolusi dengan people power. Semua pilihan ini tergantung pada operasi intelijen apa yang akan dilakukan selanjutnya serta apakah prasyarat operasi intelijen tersebut telah terpenuhi, dan bagaimana keuntungan dari setiap pilhan terhadap operasi berikutnya.

b. Apabila Coup tidak bisa dijalankan karena militer setia maka pilihan revolusi pun diambil. akan tetapi jika keduanya tidak memungkinkan dilakukan maka pilihan terakhir adalah invasi.

*3. Invasion*

a. Invasi yang dilakuan tentunya tidak lagi dengan cara konvensional, mengirimkan Kapal Induk dan Armadanya, Bombing besar-besaran menggunakan pesawat Stealth, Mengirimkan Pasukan Marinir untuk mendarat di pesisir kita atau pasukan komando untuk sabotase infrastruktur kritis kita. No Way, itu kemahalan dan akan sangat terlihat tidak relevan dengan investasi teknologi mereka.

b. Mereka akan memulai serangan ke sektor energi dan Finansial Indonesia. Semua Pembangkit Listrik kita Diserang sehingga Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Bagian Timur Indonesia tidak ada listrik. Apakah ini mungkin ? jawabannya adalah sangat mungkin. Ukraina pernah mengalami Mati listrik diseluruh wilayahnya, akibat operasi hacking dari suatu negara. Selanjutnya Semua Sektor energi lain selain Pembangkit LIstrik diserang, mulai dari Geo Thermal kita jadi berhenti operasi, sumber gas dan minyak kita juga, bahkan sampai ke kilang minyak yang kita operasikan, Semua Serangan ini dimungkinkan dengan menyerang ICS/SCADA dari sektor Energi tersebut dan operasi hacking lainnya. (Untuk Detinya lebih baik diskusi tatap muka langsung dengan saya. terlalu berbahaya dijelaskan disini)

c. Selanjutnya operasi hacking atas sektor Finansial, yang diserang terlebih dahulu tentunya BI, Kementrian keuangan dan BEJ. Hal ini akan menimbulkan kepanikan luar biasa dibidang ekonomi. Saya tidak akan bercerita lebih detil akan hal ini, karena sangat berbahaya. Tapi sekali lagi saya ingatkan potensi Serangan ini Nyata dan bisa dilakukan oleh “mereka”. (Untuk Detinya lebih baik diskusi tatap muka langsung dengan saya. terlalu berbahaya dijelaskan disini)

d. Serangan berikutnya adalah Dunia Transportasi dan Logistik kita, dengan prioritas utama serangan tertuju kepada Dunia penerbangan sipil kita, dan berikutnya memutus mata rantai transportasi logistik kita. Saya juga tidak akan menjelaskan lebih detil terkait hal ini.(Untuk Detinya lebih baik diskusi tatap muka langsung dengan saya. terlalu berbahaya dijelaskan disini)

e. Serangan terhadap Infrastruktur Telekomunikasi dan Penginderaan yang kita miliki, dengan target utama adalah setiap satelit yang kita miliki.(Untuk Detinya lebih baik diskusi tatap muka langsung dengan saya. terlalu berbahaya dijelaskan disini)

f. Setelah semua tahapan serangan diatas barulah invasi secara fisik dan konvensional dijalankan dengan lebih efisien dan murah.

Akan muncul pertanyaan, bagaimana sebenarnya kemampuan pertahanan Indonesia di Cyberspace, bagaimana Cyber Resilience kita, bagaimana Cyber Detterence kita ?

Dengan bersedih hati saya akan memberikan jawaban bahwa kita terlambat menyadari pentingnya membangun Cyber Resilience kita di Cyberspace. Kita terlambat beradaptasi dengan perkembangan pertahanan dan keamanan yang begitu cepat dan mengerikan. Sampai hari ini kita belum memiliki badan khusus untuk Computer Emergency Response Team (CERT) yang beroperasi efektif.

Memang beberapa tahun lalu ada dibentuk ID-SIIRTI, tapi menurut hemat kami , mereka juga belum benar-menjalankan fungsi CERT.

Seharusnya semua insiden cybersecurity nasional ada dalam operasi incident handling mereka dan bukan di wilayah kepolisian. BSSN juga baru dibentuk tahun lalu, dan sampai hari ini masih terus berjuang untuk membangun cyber resilience kita, belum pada tahapan sudah terwujudnya cyber resilience itu sendiri.
Hampir semua Kementrian dan Lembaga juga sangat rentan terhadap serangan hacking dan khususnya operasi social engineering atas pejabat eselon 3 keatas.

_Cybersecurity awareness_ juga sangat rendah di Indonesia. Inilah sekedar gambaran singkat kondisi pertahanan cyber kita.

Membaca skenario diatas tentunya sangatlah mengerikan, jangankan anda, saya saja yang sekian lama menganalisa ini semua masih terus jantungan rasanya. Akan tetapi sampailah kita kepada satu pertanyaan final, yaitu apabila akhirnya kita diinvasi dan semua yang dijelaskan diatas terjadi, dan Indonesia menjadi lemah, apakah Indonesia Bubar dan hilang dari peta dunia ?

*TIDAK AKAN.*
*INDONESIA TIDAK AKAN BUBAR ATAU HILANG DARI PETA DUNIA*

Kita bukan bangsa kemarin sore yang kemerdekaanmnya adalah pemberian dari kolonialis. Kita sudah terbiasa berjuang dengan kesakitan dan penderitaan. Negara yang MengInvasi kita tentunya akan babak belur oleh perang gerilya berani mati yang tidak berkesudahan, dan ini hanya akan menjadi neraka baru buat negara mereka.

Dan Lagi, dalam setiap analisa geopolitik tentang Indonesia, negara kita dianggap tetap harus ada sebagai penyeimbang dan penyangga di wilayah asia pasifik, yang mereka perlukan adalah kontrol total atas negara ini bukan invasi, tapi ini tentunya sama saja , kontrol total hanya menjadikan kita boneka. Tapi hingga hari ini apakah benar mereka bisa memiliki kontrol total atas negara kita ? TIDAK.

Akan tetapi semua operasi cyber warfare dan operasi intelijen berdasarkan kajian yang spesifik tentang Indonesia adalah ancaman nyata bagi bangsa ini, dan ini harus menjadi _warning_ peringatan buat kita semua. Jangan sampai kita men-simplifikasi masalah dengan mengatakan bahwa peringatan ini sebagai bentuk pesimisme belaka. Itu sangatlah absurd.

*_Kita semua terbuai dan lupa bahwa kita belum memiliki Cyber Resilience. Kita sibuk menghabiskan energi kita untuk pertarungan politik yang tidak perlu disemua lapisan yang ada._*

Sebenarnya apa yang disampaikan Pak Prabowo masih mengandung unsur kebenaran, hanya saja kesimpulan bahwa Indonesia akan bubar di 2030 itulah yang menurut saya fatal.

Bahwa ada kajian terkait ancaman cyber war dan perang asimetris terhadap Indonesia adalah benar. Bahwa PW Singer menuliskan berbagai kajian operasi militer dengan teknologi cyber War juga mengingatkan kita bahwa Cyber Threat adalah Imminent Threat terhadap Keamanan Nasional kita.
Akan Tetapi Sekalipun semua skenario diatas itu terjadi, Indonesia tidak akan bubar. *INDONESIA WILL PREVAIL!!!*

Masa depan Indonesia bukan berada ditangan negara lain, tapi berada ditangan kita semua. Saat ini dengan profesional Judgement saya, saya menyimpulkan bahwa Kita sudah berada ditahapan Low Intensity Operation seperti yang saya jelaskan diatas.

Polarisasi telah terjadi. Dan kita terus sibuk berkelahi satu dengan yang lainnya hanya untuk membela junjungan masing-masing.
Setiap hari terjadi perang apologetika untuk mempertahankan kebenaran kubu masing-masing. Ini semu adalah hasil Low Intensity Operation.

Information Warfare di Cyberspace yaitu social media dilakukan dengan sangat masif, terstruktur dan sangat canggih. Dalam teori operasi intelijen, operasi ini bertujuan untuk cipta kondisi demi mulusnya tahapan operasi berikutnya.

*_Sebagai informasi, dalam Pemilu US beberapa tahun lalu, pemenangan salah satu calon adalah hasil operasi yang melibatkan Rusia dan juga DIgital Army Sayap Kanan US yang ada dibelakang Cambridge Analytics dan facebooks. Sungguh sebuah operasi yang rumit dan rapih serta detil._*

*“The First Casualty of War is the truth”*

Kita mengorbankan kebenaran yang hakiki dalam berbangsa dan bernegara hanya karena asik ber- _apologetika_ membela kebenaran kita masing-masing. Kita terhanyut dan lupa bahwa kita sudah terlarut dalam permainan jahat para mastermind penguasa dunia. Hal ini diperburuk juga dengan banyaknya Machiavellian Keparat dan politikus busuk yang terus hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak perduli bahwa akar rumput akan saling memakan satu sama lain akhirnya nanti

Yang kita butuhkan sekarang adalah kerendahan hati dan kebesaran jiwa untuk rekonsiliasi nasional dan beranjak dari pertarungan politis yang sudah merobek kohesi kebangsaan. Apabila ini tidak kita lakukan maka kita sendirilah yang membubarkan Indonesia, bukan Pihak Asing.

Sebagai Anak Bangsa, saya Yakin teguh bahwa kita tidak akan Bubar asalkan kita mau berpegangan tangan dengan erat dan mesra untuk INDONESIA RAYA.

MERDEKA

Terawan

Tulisan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang dimuat di sejumlah media pada 18 Februari 2013 kembali jadi perbincangan setelah Dokter Terawan dipecat dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Tulisan itu dibuat Dahlan Iskan saat masih menjabat Menteri BUMN. Ia menuliskan pengalamannya saat menjalani terapi cuci otak di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Dahlan Iskan menggambarkan secara detil detik-detik dokter Terawan mencuci otaknya di ruang operasi. Berikut tulisannya.

Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak

Sambil mengambil pisau bedah, Dokter Terawan mulai menyanyikan lagu kesukaannya, Di Doa Ibuku. Suaranya pelan, tapi sudah memenuhi ruang operasi itu.

Saya berbaring di depannya, di sebuah ruang operasi di RSPAD Gatot Subroto Jakarta, Jumat pagi lalu. Peralatan operasi sudah disiapkan dengan rapi. Para perawat juga sudah berada di posisi masing-masing.

Sebenarnya saya tidak dalam keadaan sakit. Juga tidak punya keluhan apa pun. Hanya, saya memang sudah lama ingin melakukan ini: cuci otak. Sejak masih jadi direktur utama Perusahaan Listrik Negara dulu.

Keinginan itu tertunda terus oleh kesibukan yang padat, terutama setelah menjadi menteri BUMN. Bahkan, keinginan untuk coba-coba melakukan stem cell pun tertunda sampai sekarang.

Mencoba merasakan cuci otak ini bisa dianggap penting, bisa juga tidak. Saya ingin mencobanya karena ini merupakan metode baru untuk membersihkan saluran-saluran darah di otak. Agar terhindar dari bahaya stroke atau perdarahan di otak. Dua bencana itu biasanya datang tiba-tiba. Kadang tanpa gejala apa-apa. Dan bisa menimpa siapa saja.

Saya tahu, metode cuci otak Dokter Terawan ini masih kontroversial. Pendapat kalangan dokter masih terbelah. Masih banyak dokter yang belum bisa menerimanya sebagai bagian dari medical treatment.

Pengobatan model Dokter Terawan, ahli radiologi yang berumur 48 tahun, yang berpartner dengan Dokter Tugas, ahli saraf yang berumur 49 tahun, ini masih terus dipersoalkan. Dia masih sering “diadili” di rapat-rapat profesi kedokteran.

Saya terus mengikuti perkembangan pro-kontra itu. Termasuk ingin tahu sendiri secara langsung seperti apa cuci otak itu. Dengan cara menjalaninya. Kesempatan itu pernah datang, tapi beberapa kali tertunda. Sebab, ada pasien yang lebih mendesak untuk ditangani. Sebagai orang sehat, saya harus mengalah.

Kamis malam lalu kesempatan itu datang lagi. Seusai sidang kabinet di istana, saya langsung masuk RSPAD Gatot Subroto. Berbagai pemeriksaan awal dilakukan malam itu: periksa darah, jantung, paru-paru, dan MRI. Dan yang juga penting dilakukan Dokter Tugas adalah ini: pemetaan saraf otak.

Beberapa tes dilakukan. Untuk mengetahui kondisi saraf maupun fungsi otak.

Keesokan harinya, pagi-pagi, saya sudah bisa menjalani cuci otak di ruang operasi. Saya sudah tahu apa yang akan terjadi karena dua minggu sebelumnya istri saya sudah lebih dulu menjalaninya. Saat itu saya menyaksikan dari layar komputer.

Cuci otak ini dimulai dengan irisan pisau di pangkal paha. Saat mengambil pisau, seperti biasa, adalah saat dimulainya Dokter Terawan menyanyikan lagu kesukaannya, Di Doa Ibuku.

Perhatian saya pun terbelah: mendengarkan lagu itu atau siap-siap merasakan torehan pisau ke pangkal paha yang tidak dibius. Tiba-tiba Dokter Terawan mengeraskan suaranya yang memang merdu. Saya pun kian memperhatikan lagu itu.

Saat puncak perhatian saya ke lagu itulah, rupanya Dokter Terawan menorehkan pisaunya. Tipuan itu berhasil membuat rasa sakit hanya melintas sekilas.

Dan Dokter Terawan terus menyanyi:

Di waktu masih kecil

Gembira dan senang

Tiada duka kukenang

Di sore hari nan sepi

Ibuku berlutut

Sujud berdoa

Kudengar namaku disebut

Di doa ibuku

Sebuah lagu yang isinya kurang lebih saya alami sendiri saat saya masih kecil, sebelum ibu saya meninggal saat saya berumur 10 tahun. Otomatis perhatian saya ke lagu itu. Itulah cara Dokter Terawan membius pasiennya.

Saya jadi teringat saat memasuki ruang operasi menjelang ganti hati enam tahun lalu di RS Tianjin, Tiongkok. Ruang operasi dibuat ingar-bingar oleh lagu rock yang lagi top-topnya saat itu di sana: Mei Fei Se Wu, yang berarti bulu mata menari-nari. Sebelum lagu berbahasa Mandarin itu berakhir, saya sudah tidak ingat apa-apa lagi: Saya dimatikan selama 13 jam.

Demikian juga Dokter Terawan. Sambil terus menyanyikan Di Doa Ibuku, dia mulai memasukkan kateter dari luka di pangkal paha itu. Lalu mendorongnya menuju otak. Kateter pun terlihat memasuki otak kanan. “Sebentar lagi akan ada rasa seperti mint,” ujar Terawan.

Benar. Di otak dan mulut saya terasa pyar yang lembut disertai rasa Mentos yang ringan.

Itulah rasa yang ditimbulkan oleh cairan pembasuh yang disemprotkan ke saluran darah di otak. “Rasa itu muncul karena sensasi saja,” katanya.

Hampir setiap dua detik terasa lagi sensasi yang sama. Berarti Dokter Terawan menyemprotkan lagi cairan pembasuh lewat lubang di dalam kateter itu. Saya mulai menghitung berapa pyar yang akan saya rasakan. Kateter itu terus menjelajah bagian-bagian otak sebelah kanan. Pyar, pyar, pyar. Lembut. Mint. Ternyata sampai 16 kali.

Begitu dokter mengatakan pembersihan otak kanan sudah selesai, saya melirik jam. Kira-kira delapan menit.

Kateter lantas ditarik. Ganti diarahkan ke otak kiri. Rasa pyar-mint yang sama terjadi lagi. Saya tidak menghitung. Perhatian saya beralih ke pertanyaan yang akan saya ajukan seusai cuci otak nanti: Mengapa dimulainya dari otak kanan?

Usai mengerjakan semua itu, Terawan menjawab. “Karena terjadi penyumbatan di otak kiri Bapak,” katanya.

Hah? Penyumbatan? Di otak kiri? Mengapa selama ini tidak terasa? Mengapa tidak ada gejala apa-apa? Mengapa saya seperti orang sehat 100 persen?

Dokter Terawan, kolonel TNI-AD yang lulusan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta dengan spesialisasi radiologi dari Universitas Airlangga Surabaya itu, lantas menunjuk ke layar komputer. “Lihat sebelum dan sesudahnya,” ujar Terawan.

Sebelum diadakan pencucian, satu cabang saluran darah ke otak kiri tidak tampak di layar. “Mestinya bentuk saluran darah itu seperti lambang Mercy. Tapi, ini tinggal seperti lambang Lexus,” katanya.

Setiap orang ternyata memiliki lambang Mercy di otaknya. “Nah, setelah yang buntu itu dijebol, lambang Mercy-nya sudah kembali,” katanya sambil menunjuk layar sebelahnya. Jelas sekali bedanya.

Karena saluran yang buntu itu, beban gorong-gorong di otak kanan terlalu berat. “Lama-lama bisa terjadi pembengkakan dan pecah,” katanya. “Lalu terjadilah perdarahan di otak,” tambahnya.

Alhamdulillah. Puji Tuhan. Saya pun langsung teringat Pak Sumaryanto Widayatin, deputi menteri BUMN bidang infrastruktur dan logistik yang hebat itu. Yang juga ketua alumni ITB itu. Yang idenya banyak itu. Yang terobosan birokrasinya tajam itu. Sudah hampir setahun terbaring tanpa bisa bicara dan hanya sedikit bisa menggerakkan anggota badan.

Saluran darah ke otaknya pecah justru di tengah tidurnya menjelang dini hari. Saya sungguh menyesal tidak menyarankannya ke Terawan sebelum itu. Penyesalan panjang yang tidak berguna. Kini, setelah perawatan yang panjang oleh istrinya yang hebat, Pak Sum memang terlihat kian segar dan pikirannya tetap hidup bergairah, tapi masih perlu banyak waktu untuk bisa bicara.

Setelah cuci otak ini berhasil membersihkan gorong-gorong yang buntu, saya kembali ke kamar. Kaki tidak boleh bergerak selama tiga jam. Tapi, sore itu saya sudah bisa terbang ke Surabaya. Untuk merayakan Imlek bersama masyarakat Tionghoa dan besoknya mengadakan khataman Alquran bersama para hufadz di rumah saya.

Tiap hari Dokter Terawan sibuk dengan antrean yang panjang. Ada yang karena sakit, ada juga yang karena ingin tetap sehat.

Bagi yang cito, akan langsung ditangani. Tapi, bagi yang sehat, antrenya sudah mencapai tiga bulan. Sebab, hanya sekitar 15 orang yang bisa ditangani setiap hari. Lebih dari itu, bisa-bisa Terawan sendiri yang akan mengalami perdarahan di otaknya.

Belum diterimanya metode itu oleh dunia kedokteran di seluruh dunia membuat gerak Terawan terbatas. Misalnya tidak bisa secara terbuka mengajarkan ilmunya itu ke dokter-dokter lain agar antrean tidak terlalu panjang. Sampai hari ini, baru dialah satu-satunya di dunia yang bisa melakukan cara itu.

Kalau profesi dokter tidak segera bisa menerima metode itu, jangan-jangan Persatuan Insinyur Indonesia yang akan segera mengakuinya. Anggap saja Terawan ahli membersihkan gorong-gorong yang buntu. Hanya, gorong-gorong itu letaknya tidak di Bundaran HI.

BPK Beberkan ‘Salah Urus’ Impor Pangan Era Jokowi

https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20180404160843-92-288238/bpk-beberkan-salah-urus-impor-pangan-era-jokowi

Best Ten.

*Ranking 10 Perusahaan Terbesar dan Terbaik di Indonesia*

Perusahaan mana saja yang layak ditabalkan sebagai yang terbaik dan terbesar (greatest and biggest) di tanah air?

Berikut adalah daftar peringkat 10 besar perusaahaan paling fenomenal kinerjanya di Indonesia.

Daftar peringkat 10 perusahaan terbaik Indonesia ini layak dianggap sebagai potret wajah bisnis di Indonesia. Masa depan mereka adalah masa depan ekonomi bangsa juga.

Daftar peringkat ini disusun berdasar satu kriteria kunci yakni kemampuan mencetak laba bersih. PROFIT adalah ultimate goal yang pada akhirnya nyaris selalu menjadi tujuan utama sebuah perusahaan bisnis.

Profitability power pada sisi lain juga merupakan cermin elegan untuk menunjukkan profesionalisme sebuah bisnis dalam mengelola segenap proses didalamnya, baik yang menyangkut pengelolaan SDM, sumber daya finansial, dan strategi bisnis yang dilakoni.

Kemampuan sebuah bisnis untuk mencetak profit menunjukkan kecakapan mereka dalam merumuskan strategi dan arah bisnis perusahaannya.

Profit yang berkesinambungan (sustainable profit) juga indikator bahwa sebuah bisnis cakap dalam mengeksekusi segenap rencana strategis yang telah mereka rajut.

*Berikut adalah Daftar Ranking Terkini – 10 Perusahaan Terbesar dan Terbaik di Indonesia (berdasar jumlah profit di sepanjang tahun lalu).*

1. Pertamina – Laba bersih Rp 32 Ttriliun
2. Telkomsel/Telkom – Laba Bersih Rp 30 Triliun
3. BRI – Rp 29 triliun
4. BCA – Rp 23 triliun
5. Mandiri – Rp 20 triliun
6. ASTRA – Rp 19 triliun
7. BNI – Rp 13 triliun
8. Sampoerna – Rp 12,6 triliun
9. Gudang Garam – Rp 7,8 triliun
10. Unilever – Rp 7 triliun

Ada 3 catatan krusial yang layak di-dedahkan berdasar peringkat 10 perusahaan terbesar di Indonesia diatas.

*Catatan Bisnis # 1 : Telkomsel is Big Money Machine*

Kemampuan Telkomsel dalam mencetak profit tergolong amat fenomenal (Rp 30 triliun).

Angka ini makin fantastis jika mengingat jumlah karyawan Telkomsel hanya 5 ribu – bandingkan dengan jumlah karyawan Pertamina yang 27.000 (5 kalinya), namun labanya hanya sedikit diatasnya.

Sayang, 30% an saham Telkomsel ini milik Singtel, sehingga laba yang masuk ke induknya, yakni Telkom hanya sekitar Rp 20 triliun.

Laba Telkom total adalah Rp 22 triliun, dimana yang 20 triliun disumbangkan oleh Telkomsel.

Sebuah paradoks amazing terjadi : Telkom sebagai induk hanya generate laba Rp 2 triliun dengan 23 ribu karyawan, sementara sang anak menyusui induknya dengan Rp 20 triliun per tahun, meski hanya punya 5000 karyawan.

Dari data-data diatas, kita bisa melihat produktivitas SDM di Telkomsel jauh lebih tinggi dibanding di Telkom dan juga Pertamina.

Satu hal lagi, profit Telkomsel Rp 30 triliun itu adalah hasil dari total pendapatan sebesar Rp 93 triliun. Dengan demikian, profit margin Telkomsel adalah 32%, sebuah angka tertinggi di dunia untuk ukuran perusahaan sekelasnya.

Profit margin tertinggi di dunia ini mungkin juga cermin *“keserakahan kapitalisme”* seperti yang pernah saya ulas disini.

Apa boleh buat. Anda sebagai pelanggannya, terima saja dengan ikhlas.

*Catatan Bisnis # 2 : Bankers are Awesome Profit Maker*

Dari rangking diatas juga dapat dilihat ada 4 kuartet bank raksasa : BRI, BCA, Bank Mandiri dan BNI.

Total net profit dari 4 dewa perbankan ini adalah Rp 85 triliun per tahun, sebuah angka yang masif.

Industri keuangan perbankan memang salah satu sektor bisnis yang sangat legit di negeri ini.

Ingat, jumlah PDB (atau semacam total omzet bisnis) di tanah air sudah tembus Rp 14 triliun per tahun. Tentu sebagian besar dana ini perlu ditransfer via bank.

Dalam 15 tahun terakhir, industri perbankan juga terus melesat, tiap tahun laba-nya tumbuh 15 – 20%.

Namun hati-hati : ancaman distruptif dari para Fintech seperti Go Pay dan Peer to Peer Lending bisa pelan-pelan mengancam kenikmatan profit perbankan.

Kecakapan perbankan dalam melakukan tranformasi digital akan sangat menentukan masa depan mereka dalam membungkus profit triliunan.

*Catatan Bisnis # 3 : Cigarettes Keep Making Billions*

Dari data diatas juga terlihat adanya dua produsen rokok besar negeri ini, yakni Samporena (dengan profit Rp 12,6 triliun) dan Gudang Garam (7,8 triliun). Djarum yang tidak masuk dalam daftar diperkirakan memiliki net profit sekitar Rp 6 triliun.

Angka diatas memunculkan duka yang rada kelam : industri rokok yang destruktif bagi kesehatan, ternyata masih terus tumbuh di negeri ini. Faktanya, pertumbuhan jumlah penjualan rokok di kalangan remaja Indonesia termasuk paling cepat di dunia, sekitar 19% per tahun.

Jutaan anak remaja dan dewasa Indonesia menikmati kepulan asap semu, sembari memberikan profit puluhan triliun bagi para juragan rokok tanah air. Sedap.

Yang kelam, data dari Balitbang Kemenkes menghitung angka kerugian kesehatan akibat merokok di tanah air mencapai angka yang mind-blowing : Rp 500 triliun.

Angka ini mencakup bukan saja biaya pengobatan sakit akibat rokok (kanker, paru-paru, jantung), namun juga hilangnya produktivitas jutaan orang karena tak lagi bisa kerja gegara sakit, atau keburu meninggal sebelum usia 55 tahun.

(Fyi, tiga saudara saya meninggal akibat kanker paru-paru karena mereka semua perokok berat. Dan semuanya meninggal sebelum usia 50an tahun. Sebuah kisah lost productivity yang sangat muram.).

Jika Telkomsel layak disebut sebaga *Greedy Capitalism,* maka industri rokok di Indonesia mungkin layak disebut sebagai *Killer Capitalism.*

DEMIKIANLAH, tiga catatan bisnis ringkas yang layak dikenang dari data peringkat 10 perusahaan terbesar di Indonesia untuk tahun 2018.

Bagaimanapun harap dicatat juga : 10 perusahaan diatas telah menyumbang penciptaan lapangan kerja yang cukup masif di negeri ini.

Selain itu, pajak yang mereka bayarkan juga cukup epik jumlahnya. Pajak 10 perusahaaan ini telah ikut membiayai sekolah jutaan penduduk negeri ini, termasuk pendidikan Anda yang dulu lulus dari Sekolah Negeri.

*Perjalanan masa depan bisnis 10 perusahaan diatas pasti akan juga memberikan warna bagi lansekap ekonomi negri ini di masa mendatang.* (Yodhia Antariksa)

Watch “Dari JIPLAKAN Hingga Perkosa Bahasa – Puisi SUKMAWATI #VIRAL” on YouTube