Kisah Seorang Pemberontak yang Sial

Sejarah ditulis oleh para pemenang. Pahlawan atau penjahat bergantung pada siapa yang menjadi pemenang. Dalam sejarah nasional kita, ada sejumlah tokoh kontroversial yang dianggap pengkhianat, tetapi sekaligus dikagumi diam-diam dan memiliki banyak pengikut. Salah satunya adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (1905- 1962).

Sepenggal kisah hidup imam besar Darul Islam yang berupaya mendirikan sebuah negara teokrasi di Indonesia itu menjadi sorotan dalam buku puisi terbaru Triyanto Triwikromo, Kematian Kecil Kartosoewirjo (2015). Buku ini merupakan sebuah buku puisi utuh dengan satu kesatuan tema dan kisahan, bukan kumpulan sejumlah puisi dengan beragam tema seperti umumnya kumpulan puisi yang beredar dalam khazanah sastra kita. Ada 52 puisi di dalamnya yang berkisah tentang episode akhir kehidupan Kartosoewirjo sejak ditangkap oleh pasukan pemerintah pada 4 Juni 1962 di lereng Gunung Geber, Kabupaten Bandung, hingga saat eksekusi mati di Pulau Ubi, Jakarta, 4 September 1962.

Karno dan Karto: kawan atau lawan?

Sesungguhnya, pada mulanya Kartosoewirjo adalah kawan seperjuangan, bahkan teman serumah bagi Soekarno, proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia. Keduanya adalah murid salah satu pelopor pergerakan nasional Tjokroaminoto, sang guru bangsa yang pernah dijuluki ”Raja Jawa Tanpa Mahkota”. Salah satu ajaran Tjokro yang termasyhur adalah trisakti ”setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”. Dia juga berpesan kepada para muridnya, ”Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah sepertiwartawandan bicaralah sepertiorator.”

Kedua wasiat itu diamalkan baik oleh Karno maupun Karto. Keduanya tumbuh menjadi pemimpin yang fasih menulis dan berbicara. Bedanya, Karno tumbuh menjadi seorang pejuang nasionalis, sedangkan Karto kelak menjelma pemimpin Islam radikal.

Namun, kedua kawan itu lalu berpisah jalan. Saat Karno menjadi presiden pertama Republik Indonesia pada 1945, empat tahun kemudian Karto memproklamasikan Negara Islam Indonesia/Darul Islam (NII/DI) dengan didukung Tentara Islam Indonesia (TII) dan memberontak terhadap pemerintah yang sah.Ketika Karto tertangkap setelah belasan tahun bergerilya di hutan-hutan dan pegunungan Jawa Barat, dan Mahkamah Militer memutuskan hukuman mati baginya, Karno sebagai kepala negara harus menandatangani perintah eksekusi kawan lamanya itu.

Triyanto memotret dilema ini dengan cerdik dalam Prakisah buku puisinya.Menandatangani hukuman mati, misalnya, bukanlah pekerjaan yang memberi kesenangan kepadaku. Ambillah misalnya Kartosoewirjo. Di tahun 1918 dia kawanku yang baik. Di tahun 20-an di Bandung, kami tinggal bersama, makan bersama, dan bermimpi bersama-sama … Demikian Bung Karno menulis tentang betapa berat ketika dia harus menandatangani perintah eksekusi Kartosoewirjo.

Pemberontak yang sial

Ke-52 puisi dalam Kematian Kecil Kartosoewirjo dibagi dalam tiga fase: Awal (”Penangkapan”), Antara (berisi 50 puisi), dan Akhir (”Kesaksian”). Dalam puisi-puisi Triyanto, Kartosoewirjo tidak ditampilkan sebagai sosok ”penjahat” atau ”pengkhianat” seperti yang kerap disebut dalam sejarah. Dia disiratkan lebih sebagai pemberontak yang sial yang tak cukup beruntung memenangi perjudian takdirnya untuk mewujudkan impian membentuk sebuah ”Negara Islam Indonesia”. Yang makin membuktikan kesialannya, dia tertangkap secara tak sengaja oleh seorang tentara Siliwangi bernama Ara Suhara yang semula mengira dia seorang petani tua biasa. Ara yang diam-diam mengagumi sang pemberontak kemudian menamai anak lelakinya Sekar Ibrahim—dari nama depan Kartosoewirjo, ”Sekarmadji”, yang aslinya adalah Soekarmadji.

Melalui kata-kata Triyanto yang kadang bernuansa magis, Kartosoewirjo digambarkan sebagai manusia biasa yang punya rasa sedih dan dirundung harap-harap cemas, lengkap dengan sisi-sisi humanisnya, termasuk saat-saat getir ketika hendak menghadapi hukuman tembak mati di Pulau Ubi. Seperti tersurat dalam sebait puisi ini: Tetapi sungguh aku sedih. Aku tak tahu siapa nakhoda yang akan membawaku ke Pulau Kematian. Pulau di tepi surga yang dijanjikan. (”Nakhoda”). Di situlah Triyanto sanggup membuat kita merasa ikut sedih.

Tersirat simpati sang penyair kepada sang pemberontak yang sial. Sosok Kartosoewirjo kerap ditampilkan sebagai seorang hamba Tuhan yang pasrah. Puisi-puisi yang dinisbatkan sebagai bisikan hati Kartosoewirjo dikaitkan dengan beragam peristiwa historis dalam sejarah Islam yang menyebut-nyebut sang Nabi dan para khalifah semacam Abu Bakar. Misalnya dalam bait ini: Aku tak mendengar letusan itu. Aku bahkan tak merasa ada 12 penembak jitu mengacungkan senapan tepat ke jantungku. Sebagaimana Abu Bakar, aku justru mendengar pidato Nabi di mimbar. Kata Nabi, ”Ada seorang di antara hamba Allah yang diberi pilihan antara dunia ini dan pertemuan dengan-Nya, dan hamba tersebut memilih berjumpa dengan Tuhannya.” (”Aku Tak Mendengar Letusan Itu”).

Sementara, pada puisi berjudul ”Di Mobil Tahanan”, digambarkan Kartosoewirjo seakan berdialog dengan serdadu penjaga, mengisahkan riwayat hidupnya, bahkan kredo perjuangannya yang menjadi dasar perlawanan bersenjata terhadap kepemimpinan kawan lamanya, Soekarno, yang disebutnya ”Arjuna”: Bahkan embun pun harus berjuang untuk menegakkan Islam … Aku tak pernah ingin membunuh Sang Arjuna, kawan lamaku. Aku hanya ingin menyatakan padanya tanpa Islam negeri ini akan lemah.

Membaca buku ini, tersirat kegelisahan penulisnya atas sejarah kelam negeri ini yang kerap terkoyak pertikaian atas nama ideologi dan agama, dan upaya menyampaikan gugatan terhadap semua itu. Walau terkesan bersimpati kepada sosok sang pemberontak, Triyanto mampu menjaga diri sehingga puisi-puisinya tak terkesan sebagai propaganda dangkal atau sekadar pamflet yang sayu. Triyanto berupaya menyelami sisi batin Kartosoewirjo sebagai seorang manusia dengan berbagai seginya. Maka, buku puisi ini juga adalah semacam solilokui tentang kesepian, cinta, persahabatan, dan renungan spiritual. Berbeda dengan buku sejarah atau biografi yang cenderung kering, buku puisi ini bisa menampilkan sosok historis Kartosoewirjo dalam pendekatan yang berbeda dan kaya nuansa.

Seperti pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam satu esainya, setiap karya sastra sesungguhnya adalah autobiografi pengarangnya pada tahap dan situasi tertentu. Maka, ia adalah produk individu dan bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari sumbangan individu pada kolektivitas. Dalam hal ini, tugas sastrawan adalah melakukan gugatan kritis atas kemapanan di semua bidang kehidupan—termasuk membongkar historiografi resmi yang kerap menyembunyikan hal-hal kecil yang terabaikan; entah karena dianggap tidak penting atau sengaja dilupakan.

Sumber: http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150426kompas/#/27/

Gula Darah Terkendali Cegah Komplikasi

JAKARTA, KOMPAS — Pengendalian kadar gula darah adalah kunci untuk menghindari atau memperlambat munculnya berbagai penyakit komplikasi diabetes melitus. Namun, pengendalian gula darah itu masih sulit dilakukan sebagian besar penyandang diabetes di Indonesia.

Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Achmad Rudijanto, di Jakarta, Sabtu (25/4), mengatakan, rata-rata kadar gula darah selama 1-3 bulan (HbA1c) penderita diabetes di Indonesia pada 2012 mencapai 8,36 persen. Padahal, pada 2008 baru 8,16 persen. “Pasien diabetes Indonesia sulit menurunkan kadar gula darah HbA1c di bawah 7 persen sesuai ketentuan Perkeni,” ujarnya.

Makin tinggi kadar gula darah penyandang diabetes, itu berarti kian tinggi pula risiko mereka menderita sejumlah penyakit komplikasi, seperti buta, stroke, jantung, ginjal, dan kaki diabetes. Penyakit komplikasi itu akan mengurangi kualitas hidup dan meningkatkan risiko kematian.

Menurut Rudijanto, kesulitan pengendalian kadar gula darah umumnya disebabkan rendahnya kepatuhan dan kemandirian pasien mengontrol gula darah. Pemicunya, banyak terjadi kesalahpahaman tentang diabetes dan penatalaksanaannya.

Munculnya komplikasi juga memperbesar biaya perawatan. Di Indonesia, pada 2010 komplikasi meningkatkan biaya perawatan hingga 22,5 kali dibandingkan penyandang diabetes tanpa komplikasi.

Sebagai gambaran, penyandang diabetes yang mengalami gagal ginjal harus menjalani cuci darah minimal 2 kali seminggu. Biaya satu kali cuci darah Rp 500.000-Rp 700.000 dan di sejumlah tempat bisa lebih mahal. Artinya, satu pasien diabetes butuh Rp 52 juta-Rp 73 juta setahun hanya untuk cuci darah.

Ginjal diabetes

Sebelumnya, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Sri Ayu Vernawati, pekan lalu, menyatakan, kerusakan ginjal akibat kadar gula darah tinggi tak menimbulkan keluhan pada tubuh penderita. Padahal, kerusakan ginjal itu mulai terjadi setelah 5 tahun kena diabetes.

Namun, banyak orang tidak tahu sejak kapan mereka terkena diabetes. Enam dari 10 penderita diabetes di Indonesia tak sadar jika terkena diabetes. “Kerusakan ginjal hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan urine lengkap di laboratorium,” ujarnya.

Karena itu, kata Vernawati, saat seseorang terdiagnosis positif terkena diabetes, pemeriksaan menyeluruh terhadap semua organ yang terdampak tingginya kadar gula darah harus dilakukan, termasuk pemeriksaan urine lengkap. Mereka yang terkena diabetes dianjurkan periksa urine setiap 2-3 bulan. Namun, yang belum positif diabetes cukup dilakukan sekali setahun.

Keluhan akibat ginjal rusak biasanya muncul pada stadium 5 atau stadium tertinggi penyakit ginjal diabetes. Stadium tersebut biasanya terjadi 10-15 tahun setelah kena diabetes. Saat itu, pasien harus menjalani cuci darah.

Keluhan yang muncul umumnya berupa rasa mual akibat kadar ureum tinggi atau lemas akibat anemia. Selain itu, volume air kencing juga jauh berkurang.

Beberapa riset menunjukkan, memburuknya kondisi ginjal biasanya diikuti penurunan kondisi jantung penderita diabetes. Penyakit jantung dianggap sebagai tahap akhir berbagai komplikasi diabetes. Sebanyak 8 dari 10 penyandang diabetes meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.(MZW)

Sumber: http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150426kompas/#/9/ 

Mengapa kita kurang kreatif?

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller” (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:
1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron, atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran & sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/ diterima sebagai sesuatu yg wajar.
3. Bagi org Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus iImu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yg berbasis inovasi dan kreativitas.
6. Orang Asia takut salah (KIASI) & takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.
7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi selesai sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber utk minta penjelasan tambahan.
Dalam bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sbb:
1. Hargai proses. Hargailah org karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya
3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk A x B harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang. MENJADI DIRI SENDIRI
5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dgn bangga kalo KITA TIDAK TAU!
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orangtua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya & mendukungnya.
Bagaimana menurut Anda?

Have a nice warm, clear and breeze sunday afternoon.

My wife DOES NOT WORK!!

Conversation between a Husband (H) and a Psychologist (P):

🔸P : What do you do for a living Mr. Bandy?
🔹H : I work as an Accountant in a Bank.

🔸P : Your Wife ?
🔹H : She doesn’t work. She’s a Housewife only.

🔸P : Who makes breakfast for your family in the morning?
🔹H : My Wife, because she doesn’t work.

🔸P : At what time does your wife wake up for making breakfast?
🔹H : She wakes up at around 5 am because she cleans the house first before making breakfast.

🔸P : How do your kids go to school?
🔹H : My wife takes them to school, because she doesn’t work.

🔸P : After taking your kids to school, what does she do?
🔹H : She goes to the market, then goes back home for cooking and laundry. You know, she doesn’t work.

🔸P : In the evening, after you go back home from office, what do you do?
🔹H : Take rest, because i’m tired due to all day works.

🔸P : What does your wife do then?
🔹H : She prepares meals, serving our kids, preparing meals for me and cleaning the dishes, cleaning the house then taking kids to bed.

💯✔Whom do you think works more, from the story above???

🔱The daily routines of your wives commence from early morning to late night. That is called ‘DOESN’T WORK’??!!

🎋Yes, Being Housewives do not need Certificate of Study, even High Position, but their ROLE/PART is very important!

💝Appreciate your wives. Because their sacrifices are uncountable. This should be a reminder and reflection for all of us to understand and appreciate each others roles.

🎏All about a WOMAN ….
💛When she is quiet, millions of things are running in her mind.

💙When she stares at you, she is wondering why she loves you so much in spite of being taken for granted.

💜When she says I will stand by you, she will stand by you like a rock.

💚Never hurt her or take her wrong or for granted…

↪Forward to every woman to make her smile and to every man to make him realize a woman’s …!!!
❤💚💜💙💛💖

E-DAGANG Regulasi Ditargetkan Selesai Agustus

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah meminta masukan kepada pelaku perdagangan elektronik atau e-dagang untuk menyusun peta jalan e-dagang. Masukan ini akan digunakan pemerintah sebagai bahan penyusunan peta jalan berikut regulasi terkait yang diharapkan selesai pada Agustus 2015.

Demikian inti acara “Forum Usulan Roadmap E-Commerce Indonesia”, Senin (6/4), di Jakarta. Dalam acara tersebut dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Chris Kanter, Deputy Assistant Information Communication Technology and Utility Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Eddy Satriya, Ketua dan Co Founder Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) John Sihar, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI), Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo), perwakilan Kementerian Perdagangan, dan 130 anggota Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA).

“Ini adalah tindak lanjut rapat bersama kementerian di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bulan lalu. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri menyusun regulasi dan peta jalan e-dagang,” ujar Rudiantara. Masukan selama forum penting untuk mengetahui arah peta jalan ataupun regulasi yang bermanfaat untuk kemajuan e-dagang Indonesia.

Dia menyampaikan, pada Agustus 2015, pemerintah setidaknya sudah mempunyai substansi regulasi e-dagang. Pemerintah akan lebih sering mendengar masukan demi penciptaan yang tepat dan terarah untuk ekosistem e-dagang Indonesia.

Chief Marketing Officer OLX Alif Priyono menyampaikan, e-dagang bertumbuh pesat meskipun masih banyak konsumen yang belum teredukasi. Misalnya, konsumen belum mengetahui jenis-jenis berikut cara bertransaksi dalam jaringan. Soal keamanan membeli barang, mereka pun kurang memahaminya.

Dari sisi investasi, John mengatakan pentingnya mencari jalan tengah terhadap perdebatan penetapan daftar negatif investasi terhadap perusahaan e-dagang. “Investasi asing memang perlu, tetapi harus mengetahui untung ruginya bagi perusahaan lokal,” ucap John.

Founder iPaymu Riyeke Ustadiyanto menyebutkan perlunya pengaturan transaksi jual beli dalam jaringan yang aman dan nyaman. Sejauh ini, katanya, konsumen masih suka melakukan pembayaran dengan mengirim uang lewat rekening penjual. Lalu konsumen akan memotret bukti pengiriman uang untuk verifikasi data. Akibatnya, transaksi memakan waktu lama, tidak efisien, dan tidak jarang terjadi penipuan.

Vice President Sales and Marketing RPX Group Andry Adiwinarso menyoroti masih buruknya infrastruktur logistik di Indonesia. Luasnya geografis seharusnya berpotensi, tetapi belum ada pemain logistik yang mengampu optimal pengiriman barang melalui darat, laut, dan udara. (MED)

Sumber : http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150407kompas/#/17/

Artikel Menarik, “Kesehatan Sejati Ada di Dapur, Bukan di Restoran”

Organisasi Kesehatan Dunia memilih tema Hari Kesehatan Dunia 7 April 2015 ”Keamanan Pangan”. Hampir semua penyakit yang diderita orang saat ini—di mana pun di dunia—lebih karena yang orang makan makanan yang salah. Bukan saja penyakit metabolik, bahkan kanker pun faktor makanan menjadi pencetusnya.

Dunia memikul beban tingginya penyakit karena yang dimakan tidak bersih sehingga angka diare dan keracunan makanan masih tinggi. Selain itu bahaya pemakaian bahan tambahan pangan merajelela tak terkendali dalam industri makanan, dan celakanya selera lidah orang sekarang pada menu yang sudah kehilangan nutrisi.

Bersih, aman, bernutrisi

Keamanan pangan belum menjadi perhatian semua negara. Tidak semua makanan yang tiba di piring makan di rumah dinilai aman bagi tubuh. Bagaimana bahan makanan dibudidaya, diternak, dipupuk, dipestisida, diberi pakan, disembelih, dan didistribusi, belum semuanya aman selain belum tentu menyehatkan.

Sama-sama gado-gado, misalnya, betul bernutrisi, tetapi belum tentu juga sama bersihnya, atau sama aman semua bahan bakunya. Sayur-mayurnya apakah organik dan bukan dipupuk kimia? Kacang tanahnya sudahkah busuk oleh kapang sehingga mengandung aflatoxin, pencetus kanker hati? Tahu dan terasinya apa tidak dicampur formalin? Warna kesumba kerupuknya apa bukan pewarna tekstil rhodamin B yang bisa menjadi pencetus kanker juga? Masyarakat kita masih dikepung oleh itu semua, tanpa mereka tahu, apalagi menyadarinya.

Foodborne disease, penyakit yang ditularkan lewat makanan, masih menjadi beban pemerintah/negara dengan sanitasi buruk, dan standar kebersihan perorangan yang belum tinggi. Lebih 10 jenis penyebab diare mengancam masyarakat kita, bahkan di kota besar sekalipun, dari makanan dan minuman tercemar.

Kalangan kelas menengah kita pun, yang makan siang di warung nasi dan restoran, diragukan bukan saja nilai gizi dan kebersihannya, terlebih apakah aman sebagai menu. Taruhlah mereka bisa memilih yang lebih higienis, tetapi bagaimana minyak gorengnya, berapa dituangkan penyedapnya, dan seberapa asin, yang bila tidak menyehatkan dapat mencetuskan penyakit juga. Darah tinggi di kita, misalnya, lebih karena asupan garam dapur melebihi kebutuhan tubuh.

Menu tergolong tidak aman bila kurang steril, tercemar bibit penyakit lewat limbah dapur, atau tangan penjaja (food handler) karena disajikan pakai tangan. Buah dingin yang dijajakan rata-rata tercemar kuman coli dari air kali. Masih untung perut orang kita kebanyakan kebal, saking sering mengonsumsi pangan tercemar. Orang Singapura, terlebih Eropa yang perutnya steril, air minum kita saja berisiko bikin mereka mencret, apalagi makan ketoprak atau rujak cingur yang disajikan secara sembarangan.

Ngeri membayangkan sepuluh tahun ke depan nasib anak sekolah kita yang sehari-hari minum sirup warna kuning atau kesumba kinclong pewarnanyamethylene yellow dan rhodamin B berisiko bikin kanker. Boleh jadi juga mereka mengonsumsi jajanan dicampur pemanis buatan yang sudah dilarang, atau—seperti hasil investigasi yang ditayangkan sebuah program TV—jajanan anak sekolah dibuat dari sampah dapur restoran dan hotel, sungguh bikin kita miris. Alasan masuk akal adanya anjuran agar anak sekolah membawa bekal dari rumah.

Jajanan gorengan bukan hanya minyaknya yang tidak jelas apakah aman, terlebih bila minyak panasnya dicampur kantung plastik dengan tujuan agar garing. Bahan plastik bersifat karsinogen atau pencetus kanker juga. Kuah panas restoran pun diwadahi kantung plastik tergolong tak aman bagi kesehatan. Termasuk pemakaian styrofoam untuk makanan panas. Hampir tidak ada yang aman jajanan dan menu di luar rumah kita.

Lidah angkatan generasi XYZ (platinum generation) sekarang ini terbentuk oleh selera menu siap saji, menu ampas (junkfood), tak suka lodeh, pepes, dan lalapan seperti menu nenek moyangnya yang kini diakui lebih menyehatkan, diperkirakan melahirkan generasi kurang gizi tersembunyi (hidden hunger).

Badan mereka betul bongsor, tetapi bila diperiksa kekurangan sejumlah nutrien akibat menu hariannya cenderung menu ampas sebab kehilangan sebagian unsur nutrisinya. Begitu galibnya terjadi di masyakarat yang menunya kebarat-baratan. Di situ perlunya sejak kecil menciptakan lidah menu nenek moyang kita.

Investigasi Badan Pengawas Obat dan Makanan belakangan ini masih menemukan bahan berbahaya dalam makanan dan bahan makanan yang dijual di pasar. Mi, kikil, tahu, bakso, ikan laut, ayam tiren (mati kemaren), bahkan bubur ayam pun dicampur kimia pengental yang tak aman. Ikan asin disemprot obat nyamuk, sementara es batu dibuat dari air kali tanpa dimasak.

Masyarakat cerdas memilih

Tangan pemerintah kelewat pendek untuk menjangkau begitu luas masyarakat yang perlu dilindungi terhadap ancaman bahaya pangan tak aman. Bagaimana mungkin mengawasi luas dan banyaknya sebaran industri makanan dan minuman rumahan yang nakal. Restoran besar pun masih kurang terjaga higienisnya: menaruh es batu di depan lantai WC, mencuci piring dekat kamar mandi.

Belum semua masyarakat tertata pola hidup bersihnya. Mayoritas belum cukup wawasan gizi dan kemampuan mencegah infeksiya. Saatnya bagaimana membentuk kebiasaan makan dengan kepala, bukan dengan hati. Ia harus masuk kurikulum pendidikan kesehatan sekolah, sebagaimana silabus di semua negara maju: bahwa, makan tak cukup sekadar kenyang, terlebih harus bersih, aman, dan bernutrisi. Ini alasan lain bagi pekerja agar membawa bekal makan siang di kantor dari rumah.

Masyarakat perlu terus diedukasi. Kuncinya pada penyuluhan. Media massa, radio, dan TV paling tepat guna mengedukasi bagaimana memilih makanan minuman yang menyehatkan. Hanya bila masyarakat cerdas memilih, semua produk yang tidak aman, tidak bersih, dan tidak bernutrisi akan kehilangan pelanggan, lalu dengan sendirinya gulung tikar.

Namun, penjualan produk yang merugikan masyarakat itu akan terus berlangsung apabila masih tetap ada permintaan. Sebab, akibat ketidaktahuannya, masyarakat masih membeli yang serba tidak sehat itu. Sukar kalau hanya mengandalkan pemerintah merazia industri makanan ”nakal” tanpa dibarengi membangun masyarakat cerdas memilih pangan yang menyehatkan.

Dalam satu dasawarsa ke depan, dunia akan kehilangan 400 juta orang yang mati prematur, sebab keliru memilih gaya hidup (Sydney Resolution, 2008). Salah satu gaya hidup yang tidak tepat itu lantaran apa yang masyarakat makan salah. Menu lebih banyak daging (animal based diet) ketimbang sayur-mayur (plant-based diet) menambah penyakit metabolik, selain kanker, karena yang manusia makan menyalahi kodrat tubuhnya.

Kodrat tubuh manusia butuh lebih banyak sayur-mayur dan buah, sedikit saja daging (mediterranean diet). Namun, orang sekarang lebih banyakmakan daging ketimbang sayur-mayur dan bebuahan (tiger diet), karena itu dirundung penyakit yang menjadikan umurnya tidak sepanjang orang Okinawa, nelayan Jepang yang centenarian, berumur seratusan tahun.

Dari nelayan Okinawa dunia kedokteran (Harvard Medical School) belajar bagaimana bisa panjang umur. Ternyata bukan bistik, melainkan nasi, tempe, tahu, ikan, sayur lodeh, serta lalapan yang menyehatkan. Bukan donat melainkan ubi rebus. Bukan buah impor melainkan buah lokal. Bukan gula pasir melainkan gula jawa. Bukan terigu, tetapi gandum.

Dunia dirangsek oleh kian meningkatnya pemakaian ratusan bahan kimia industri makanan. Sukar mengelak dari aneka macam pencemar dan bahan berbahaya pada makanan dan minuman kita. Sikap kita seyogianya berpihak kepada pilihan mengolah menu harian sendiri. Jelas bahan bakunya berkualitas, jelas cara olahnya tanpa zat tambahan yang membahayakan, jelas pula cita rasanya. Bahwa sejatinya kesehatan itu ada di dapur dan bukan di restoran.

HANDRAWAN NADESUL

DOKTER, MOTIVATOR KESEHATAN

SUnber: http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150407kompas/#/7/

Kebijakan Penyehatan Ekonomi Diterbitkan

Kebijakan Penyehatan Ekonomi Diterbitkan

Restrukturisasi Akan Berlanjut

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah menggulirkan kebijakan guna memperbaiki defisit transaksi berjalan untuk menyehatkan dan memperkuat perekonomian. Kebijakan itu antara lain terkait transaksi pendapatan primer dan transaksi jasa, penyumbang utama defisit transaksi berjalan.

Dari kiri ke kanan, Menteri Keuangan, Bambang Brojonegoro, Menteri ESDM, Sudirman Said, Menko Perekonomian, Sofyan Djalil, dan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, seusai konferensi pres di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (16/3). Mereka mengumumkan paket kebijakan ekonomi untuk mengundang investor dan wisatawan datang ke Indonesia. Tiga kebijakan itu adalah, penggunaan biofuel, insentif pajak bagi industri dan bebas visa bagi wisatawan dari 30 negara.
KOMPAS/WISNU WIDIANTORODari kiri ke kanan, Menteri Keuangan, Bambang Brojonegoro, Menteri ESDM, Sudirman Said, Menko Perekonomian, Sofyan Djalil, dan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, seusai konferensi pres di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (16/3). Mereka mengumumkan paket kebijakan ekonomi untuk mengundang investor dan wisatawan datang ke Indonesia. Tiga kebijakan itu adalah, penggunaan biofuel, insentif pajak bagi industri dan bebas visa bagi wisatawan dari 30 negara.

Sejumlah kebijakan baru itu diumumkan Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil seusai rapat kabinet terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo, Senin (16/3), di Kantor Presiden. Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro, Menteri Pariwisata Arief Yahya, serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mendampingi.

Kebijakan yang diterbitkan ini, menurut Sofyan, merupakan kelanjutan dari kebijakan mereformasi fundamental ekonomi yang digulirkan pada awal 2015.

“Restrukturisasi ekonomi secara lebih fundamental ini akan terus dilakukan,” katanya.

Berdasarkan catatan Kompas, kebijakan yang diumumkan kemarin petang sudah beberapa kali disampaikan pemerintah. Kebijakan itu antara lain fasilitas keringanan pembayaran pajak (tax allowance) bagi perusahaan yang menginvestasikan kembali dividennya di Indonesia, menciptakan lapangan kerja, berorientasi ekspor, tingkat kandungan lokalnya tinggi, serta melakukan riset dan pengembangan.

Menurut Bambang, tambahan insentif diberikan bagi perusahaan yang melakukan riset dan pengembangan, serta perusahaan yang meningkatkan ekspornya minimal 30 persen dari produksi.

Pemerintah juga memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi industri galangan kapal, kereta api, angkutan udara, dan beberapa industri lain. Kebijakan anti dumping diterapkan melalui bea masuk anti dumping sementara dan bea masuk tindak pengamanan sementara.

“Tentu kami akan lihat dan selektif sehingga tidak ada industri yang terganggu oleh kebijakan ini,” kata Sofyan.

Pada 2014, defisit transaksi berjalan 26,233 miliar dollar AS. Penyumbang utamanya adalah defisit transaksi jasa 10,532 miliar dollar AS dan defisit transaksi pendapatan primer 27,822 miliar dollar AS.

Defisit transaksi jasa antara lain dipicu penggunaan kapal-kapal asing untuk angkutan ekspor dan impor. Adapun defisit pendapatan primer antara lain dari pembayaran bunga utang dan dividen perusahaan asing.

Berdasarkan data Indonesia National Shipowners Association (INSA), hanya 9,8 persen muatan ekspor-impor yang diangkut menggunakan kapal berbendera Indonesia. Selebihnya, muatan ekspor-impor diangkut menggunakan kapal asing. Akibatnya, jasa transportasi defisit 8,215 miliar dollar AS pada 2014.

Pemerintah juga merestrukturisasi dan merevitalisasi industri reasuransi domestik dengan menggabungkan dua perusahaan reasuransi milik negara menjadi sebuah perusahaan reasuransi nasional. Jasa asuransi dan dana pensiun, yang defisit 939 juta dollar AS pada 2014, menyumbang defisit transaksi jasa.

Kondisi defisit turut menekan rupiah. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kemarin, nilai tukar rupiah Rp 13.237 per dollar AS.

Pariwisata

Di sektor pariwisata, pemerintah menambah 30 negara dalam daftar bebas visa kunjungan singkat. Dengan demikian, ada 45 negara yang warganya bebas visa untuk mengunjungi Indonesia.

Tiga puluh negara yang baru mendapat fasilitas bebas visa itu adalah Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru, Meksiko, Rusia, Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, Italia, Spanyol, Swiss, dan Belgia. Ada juga Swedia, Austria, Denmark, Norwegia, Finlandia, Polandia, Hongaria, Ceko, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman, dan Afrika Selatan.

Arief Yahya mengatakan, kebijakan bebas visa itu merupakan cara termudah meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

“Dengan kebijakan baru ini, diharapkan ada tambahan 1 juta wisatawan asing dengan pemasukan 1 miliar dollar AS,” katanya.

Hal seperti ini sudah dilakukan Malaysia dan Thailand. Malaysia yang membebaskan visa bagi warga 164 negara menarik wisatawan asing hingga 27 juta orang setiap tahun. Adapun Thailand, yang membebaskan visa bagi 56 negara, menjaring hingga 9 juta wisatawan asing setiap tahun.

Energi

Mengenai energi, pemerintah memberlakukan kebijakan penggunaan bahan bakar nabati hingga 15 persen. Sebelumnya, porsi bahan bakar nabati 10 persen.

Sudirman Said mengatakan, tahun ini Kementerian ESDM menerbitkan aturan yang mewajibkan pencampuran biodiesel ke dalam 1 liter solar hingga 15 persen. Kebijakan ini akan mengurangi impor bahan bakar minyak 15 persen per tahun atau menghemat devisa negara sekitar 1,3 miliar dollar AS.

“Secara konsep, (peraturan menteri) sudah disiapkan. Tinggal pelaksanaannya,” ujarnya.

Pemerintah juga mengumumkan kebijakan penerapan letter of credit (L/C) untuk produk-produk sumber daya alam, seperti tambang, batubara, minyak dan gas, serta minyak kelapa sawit mentah (CPO). Khusus untuk kontrak minyak dan gas jangka panjang, L/C diberlakukan setelah kontrak selesai.

Dalam negeri

Selain transaksi yang berkaitan dengan ekspor-impor, transaksi jasa di dalam negeri, seperti sewa ruang perkantoran di lokasi premium dan bisnis, juga masih menggunakan dollar AS.

Padahal, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang mengatur kewajiban penggunaan rupiah dalam berbagai transaksi di pasar domestik.

Menurut Head of Research Savills PCI Research Anton Sitorus, saat rupiah melemah, penggunaan tarif sewa ruang perkantoran dalam dollar AS menyulitkan penyewa ruang lokal.

Transaksi terminal handling charge (THC) dan container handling charge (CHC) di pelabuhan juga masih menggunakan dollar AS. Mengenai hal ini, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan JA Barata menyatakan masih menunggu peraturan turunan dari UU No 7/2011 tentang Mata Uang.

(AHA/LKT/ARN/NAD/APO/WHY)

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150317kompas/#/1/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.