Para Troubadour Kesunyian

_Oleh : Emha Ainun Nadjib_

Pagi ini aku minum kopi pahit kesehatan. Suara lembut sahabat terkasih Yok Kuswoyo membasahi hatiku. Ia melantunkan lagu ciptaannya, dengan syair terjemahan Al-Fatihah, memetik gitar bolong, minimalis dan lembut. Aku merekamnya, membawanya ke manapun pergi. Kujadikan _jimat_ dzikir persahabatan, persaudaraan dan kesunyian.

Kemarin aku mendengarkan lagu-lagu kakaknya di Magelang, Nomo Kuswoyo, yang akan direkam dengan Kiai Kanjeng. Nomo, 83 tahun dan masih berteriak dan lari-lari ketika bernyanyi. Yok, 77 tahun. Aku sangat mencintai mereka, juga Yon, dan almarhum Tony yang kukagumi, pun Mury yang _marak ati_. 

Diam-diam memberat di hatiku rasa takut kehilangan mereka, sebagaimana beratnya penyesalan Tony kepada Allah dalam _“Andaikan Kau Datang”_. Seluruh duka derita kehidupan ini menindihkan pertanyaan, dan aku menirukan Tony bergumam: _“Jawaban apa yang kan kuberi….”_

Kemarin aku kehilangan saudara sunyiku, Leo Kristi Iman Sukarno, sebelum pernah tak bersedih mengenang Gombloh dan Franky Sahilatua yang tak kalah sunyi. Karya putra-putra Begawan Kuswoyo adalah wajah sederhana dan keringat rakyat Indonesia. Lagu-lagu Franky adalah keindahan-keindahan kecil kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Karya Leo adalah nyanyian tanah air tercinta, debur ombak, dedaunan hijau dan putih-putih seluas padang. Sedangkan karya Gombloh adalah darah kita semua, cahaya mercusuar di dalam jiwa kita.

Betapa aku bersyukur Allah menciptakan mereka untuk Indonesia. Pulau-pulau penggalan sorga ini menjadi lebih indah oleh lagu-lagu mereka. Tetapi nikmat syukur yang menyertaiku kapan saja menelusuri siang dan menembus malam, dibuntuti oleh rasa cemas, yang diwakili oleh puisi lubuk jiwa kakak kami Chairil Anwar: 

_“Kami cuma tulang-tulang berserakan, tapi adalah kepunyaanmu. Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan”_ 

Meskipun demikian, Chairil, penyair sejati, yang seluruh kosmos dan sistem nilai kejiwaannya adalah puisi, tidak _ngersula_: 

_“Sekali berarti, sesudah itu mati…”_

Kalau aku menatap wajah Indonesia hari ini: apa yang berarti baginya? Apakah ada apapun dan siapapun yang pernah benar-benar berarti bagi Indonesia? Siapa sajakah yang telah mati dari bangsa ini, yang kematiannya berarti bagi bangsanya? 

Bertanyalah kepada siapa saja di sekitarmu: Apa arti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Tjokroaminoto, Ki Hadjar Dewantoro dan sekian lagi? Berapa sentimeter hurup yang mereka deret dalam jawaban mereka? Apakah mereka tahu Muhammad Natsir, Kasman Singodimejo, Haji Agus Salim, Ali Sastroamijoyo, Haji Abdul Malik Karim Amrullah? 

Hari-hari ini gunung meletus tidak membangunkan bangsa Indonesia dari nyenyak tidurnya. Kalau Baginda Jibril datang menyamar, takkan lolos di pemeriksaan bandara. Jika Nabi Musa bertamu, akan dicurigai seperti teroris. Apabila Nabi Isa datang, semua akan mengenalinya sebagai gelandangan, karena tidak pakai alas kaki. Dan umpamanya Nabi Muhammad ke sini, Polsek akan segera mengamankannya karena dikawatirkan membawa aliran sesat.

Jangankan lagi Gombloh, turunan Arab asal Jombang. Atau Franky Ambon yang sangat _arek_ atau Leo yang sampai akhir hayatnya dipandang aneh oleh kebanyakan orang, karena beristiqamah membawa keyakinan kemanusiaan dan karakter keIndonesiaannya. Sampai-sampai aku, sepanjang hidupku hingga hari ini, menghabiskan waktu untuk berlatih tak diketahui orang. Membiasakan diri tak diakui. Mendadar diri difitnah dan disalah-pahami. Tekun berdzikir untuk selalu bergembira menjadi orang yang tak punya tempat duduk, tak berkoordinat sejarah, menikmati sunyi dan mentakabburi derita.

Anak-anak bangsaku juara dunia, merajai olimpiade ilmu pengetahuan apapun, dilimpahi _fadhilah_ genekologis yang luar biasa oleh Tuhan. Kemudian tatkala memasuki era remaja mulai retak kepribadiannya. Beranjak dewasa terpecah terkeping perjalanannya. Lantas begitu _menjadi orang_ mereka lenyap dirinya. Tersisih oleh managemen kenegaraan yang tak mengenali mereka, atau menemukan mereka sebagai ancaman peta baku perniagaan nasional dan global. 

_“Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku_

 _Katakan padanya padi-padi telah kembang._

 _Ani-ani seluas padang, roda giling berputar-putar siang malam_

 _Tapi bukan kami punya_

 _Kalau ke kota esok pagi, sampaikan salam rinduku_

 _Katakan padanya, tebu-tebu telah kembang_

 _Putih-putih seluas padang, roda lori berputar-putar siang malam_

 _Tapi bukan kami punya_

 _Anak-anak kini telah pandai, menyanyikan gema merdeka_

 _Nyanyi-nyanyi bersama-sama, di tanah-tanah gunung_

 _Anak-anak kini telah pandai, menyanyikan gema merdeka_

 _Nyanyi-nyanyi bersama-sama_

 _Tapi bukan kami punya_

 _Tanah pusaka, tanah yang kaya, tumpah darahku_

 _Di sana kuberdiri, di sana kumengabdi_

 _Dan mati, dalam cinta yang suci”_

Sekarang seluruh bangsa menyanyikan _”tapi bukan kami punya”_. Bukan hanya hamparan tanah-tanah di perkotaan dan desa-desa. Bukan hanya kekayaan bumi dan laut Nusantara. Bukan hanya hak-hak pengambilan keputusan nasional. Tapi juga diri mereka sendiri. Harga diri kebangsaan dan kemanusiaan mereka. Masa kini dan masa depan anak cucu mereka. Semakin terkikis. Bukan kami punya.

Apalagi yang sudah berpindah berkalang tanah. Yang masih ada di atas bumipun ditiadakan oleh kesadaran Indonesia. Yang menganugerahkan tanah air hamparan kekayaan darat dan laut saja tidak diingat ketika bersidang untuk mengurasnya. Tuhan, Nabi dan Agama pun diwajibkan taat kepada subyektivisme dan egosentrisme manusia Indonesia. Tatkala Chairil mengatakan _“Kami cuma tulang-tulang berserakan, tapi adalah kepunyaanmu”_ – ia benar di anak kalimat pertama, tapi salah besar di anak kalimat kedua.
Ketika saya menggeremangkan lagu Yok _“Bukan lautan, hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu…. Orang bilang tanah kita tanah sorga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”_ – Yok nyeletuk: “Itu duluuuuu”. 

Di akhir 1980an saya mendayung perahu di Waduk Kedungombo, memprihatini Pak Jenggot dan masyarakatnya yang gagap berhijrah dari masyarakat agraris menjadi nelayan tak bisa berenang. Entah siapa yang merasuki hati dan pikiran Franky, tatkala menyenandungkan indahnya tanah air, langkahnya tersandung oleh masa depan: 
_“Kepada angin dan burung-burung_

 _Matahari bernyanyi_

 _Tentang daun dan embun jatuh_

 _Sebelum langit terbuka_
 _Apakah angin tetap bertiup_

 _Bersama jatuhnya daun_

 _Apakah burung akan tetap terbang_

 _Di langit yang terbuka”_
Siapa atau apa daun yang jatuh itu? Apakah langit yang terbuka itu semacam gilasan global yang melanda Negeri? Seperti yang dikawatirkan oleh penyair Malioboro-ku, Umbu Landu Paranggi, di tahun 1974, tentang akan mengeringnya kemanusiaan oleh industri. Akan tersingkirnya manusia oleh kapitalisme global. Akan terjajahnya cinta sejati oleh hedonisme. Tentang termarjinalisasikannya nasionalisme dan patriotism oleh Iblis yang menyamar globalisasi: 
_“Apa ada angin di Jakarta_

 _Seperti di lepas desa Melati_

 _Apa cintaku bisa lagi cari_

 _Akar bukit Wonosari_
 _Yang diam di dasar jiwaku_

 _Terlempar jauh ke sudut kota_

 _Kenangkanlah jua yang celaka_

 _Orang usiran kota raya_
 _Pulanglah ke desa_

 _Membangun esok hari_

 _Kembali ke huma berhati”_
Jauh-jauh hari Umbu sudah wanti-wanti. Dini hari sebelum siang panas kehancuran, Umbu memanggil-manggil hatinurani: _Pulanglah ke desa, kembali ke huma…._ 
Tapi generasi ini tidak punya pengalaman huma, mereka dibesarkan di perumahan. Tak mengerti beda antara _home_ dengan _house_. Tak merasakan jarak antara hakekat desa dengan kota. Tak masuk Sekolah yang membedakan _keluarga_ dengan _rumahtangga_, antara _Negara_ dengan _Pemerintah_, antara _ekonomi_ dengan _kesejahteraan_, antara _Agama_ dengan _cinta_.
Pada 1976 saya menjadi Juri Lomba Teater Lima Kota di Surabaya. Duduk termangu dari pukul 20.00 malam hingga 03.00 dinihari, karena durasi pentas 3 grup dalam satu malam bisa hampir 3X3 jam. Lewat tengah malam tiba ada lelaki tinggi kurus rambut panjang datang menghampiri, mengambil gelas teh di meja saya, kemudian langsung meninumnya, lantas ngeloyor pergi tanpa sepatah katapun. Itulah perkenalan awal saya dengan Gombloh. Adegan radikal yang dilakukannya itu adalah kemesraan tingkat tinggi. Siangnya saya antar dia naik becak, sesudah keluar dari Pasar membeli sekitar 500 BH. Becak itu membawa kami berdua memasuki kompleks _Dolly_. Gombloh sangat sibuk melempari setiap wanita di sepanjang gang-gang itu dengan sedekah BH.
_“Kebyar-kebyar, pelangi jingga_

 _Biarpun bumi bergoncang_

 _Kau tetap indonesiaku_

 _Andaikan matahari terbit dari barat_

 _Kaupun tetap indonesiaku_

 _Tak sebilah pedang yang tajam_

 _Dapat palingkan daku darimu_

 _Kusingsingkan lengan_

 _Rawe-rawe rantas_

 _Malang-malang tuntas_

 _Denganmu …_
 _Indonesia …_

 _Merah darahku, putih tulangku_

 _Bersatu dalam semangatmu”_

_Yogya, 22 Mei 2017_

Don’t blame it on your charger nor your Mac

You failed to charge your Mac? Don’t get mad. Please check out your charging port carefully.

Left, small object oftens glued inside the port, as pictured.

When you are out of nowhere but has to use your Mac and no tools are available around, a pen can help.

Take out the spiral steel inside the pen and use it to get rid of small object.

But, please be carefull when unwinding the steel…it can hurt your finger tip.

Have a good day folks. 

Islam tidak mengusik (orang tidur)

Setelah seminggu di negeri uncle Trump, saya merindukan untuk kembali shalat berjamaah ke mesjid, sebagaimana di sunatkan dalam ajaran Islam. Kesempatan itu tidak sempat datang ketika saya sampai di Jakarta, karena sudah lewat tengah malam hari minggu baru mendarat. Juga tidak sempat untuk shalat subuh di Senin pagi, hanya di rumah. Setelah masuk kantor ternyata agenda terbang sudah menunggu lagi. Kali ini ke kota budaya Yogyakarta.

Setelah menikmati suasana malam Yogya dengan menyantap bakmie godok Mbah Hadi, saya pun beristirahat, meluruskan punggung dan seluruh tubuh yang 48 jam terakhir terbang terus mulai dari Chicago-San Francisco-Honolulu-Tokyo-Jakarta-Yogya.

Terbangun malam, dan kesempatan untuk ke mesjid pun tiba. Pucuk dicinta ulam tiba. Mesjid ada dekat hotel tempat saya menginap. Sekitar 400 m melewati gang di samping hotel Phoenix. Suara azan yang tidak begitu sempurna ucapannya, membuat saya jadi semakin terburu-buru bersegera memacu langkah ke mesjid.

Sesampai disana baru ada seorang ibu dan 2 orang jemaah laki-laki yang satunya ternyata muadzin. Masuk areal mesjid di sebelah kanan, di sebuah bangku kayu saya melihat seorang laki-laki agak gendut dengan baju yang sedikit terbuka, tertidur. Ia mendengkur. Suara adzan tidak mengusiknya. Dengkurannya semakin keras ketika saya dan beberapa jemaah sedang melakukan shalat sunat. Hati saya biasanya menuntut orang itu dibangunkan dan diajak shalat. Tapi kali ini, saya memilih diam. Ngapain mikirin orang lain? begitu kira2. Di sisi lain saya ingin membangunkan, tapi saya lihat para jemaah lain yang datang tidak ambil pusing. Si gendut tetap menikmati mimpi indahnya dan dengkurnya yang berirama.

Setelah qamat, shalat berjamaah kami pun dimulai. Bacaan imam juga kurang fasih. Namun mungkin dia yang paling rajin atau paling bagus untuk memimpin. saya tidak banyak protes, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Saya lakukan tugas saya saja kali ini. Karena saya tidak tahu siapa sebenarnya si Gendut yang tidur terus itu. Bisa saja dia tokoh pemuda disana.  Bisa saja dia baru selelsai ronda. Enggak tahulah.

Satu yang pasti, sampai saya ambil bbrp fotonya ia masih bermimpi dengan dengkur berirama. Mungkin jika saya datangi jam 8 nanti dia masih disana. Mendengkur berirama dan orang lalu lalang dengan urusannya. Dengan kata lain Islam tidak mengusik orang tidur. Tentu ada pendapat lain? Silakan.

Selamat pagi kawan. Assalammualaikum wrwb.

Di atasnya kali Code, Yogyakarta, 16 Mei 2017

Dubes yang punya value dan malu.

Luar biasa dubes Melba Pria yang sebelumnya kalau gak salah pernah jadi dubes di Indonesia, dengan sangat tepat bisa mengambil hati rakyat India dan bangsanya sendiri.

Tapi tentu menjadi sangat luar biasa adalah value yang ada dalam dirinya mampu dikeluarkan dan di implementasikan, bukan hanya dalam pikiran saja.

Mengingatkan saya ketika berantem dengan satpam hotel Aryaduta waktu menerobos hotel itu ketika masih di Bappenas dan harus presentasi dengan waktu yang sudah mepet. Di akhir 1990an ketika itu, bajaj belum dilarang masuk hotel, meski tidak direkomendasi dan ada pemeriksaan. Ok, kembali kepada kita, terutama para pejabat, do as you want and as you need, no matter how high you are.

Terkadang ojek sering menyelamatkan kita dari jadwal yang nge pass.

SO be yourself…., no matter what you do.

BUMDes dan Ekonomi Kreatif

Harapan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi agar semua desa di Indonesia memiliki badan usaha milik desa belum terealisasi.

Dari 74.250 desa di Indonesia, sampai akhir 2016 hanya sekitar 29 persen yang telah merintis berdirinya badan usaha milik desa (BUMDes). Dan, dari 29 persen desa yang telah merintis pembentukan BUMDes, hanya 39 persen yang BUMDes-nya aktif dalam kegiatan ekonomi produktif. Mayoritas masih BUMDes normatif, sekadar memiliki legalitas AD/ART dan baru terbatas ditopang alokasi penyertaan modal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang jumlahnya pun tidak signifikan.

Lambatnya progres pembentukan BUMDes disebabkan berbagai faktor, di antaranya kepala desa—representasi pemerintah desa—enggan mendirikan BUMDes karena dianggap jadi beban anggaran dan tidak memberikan keuntungan cepat dan praktis bagi pendapatan asli desa. Kepala desa yang pragmatis bahkan menolak merintis pendirian BUMDes karena dianggap belum cukup landasan yuridis. Mereka beralasan Permendesa tentang BUMDes kontradiksi dengan Permendagri. Sementara jajaran pemerintah desa yang konservatif juga tak serius membentuk BUMDes karena tidak dianggap  sebagai bagian dari tugas pokok dan fungsi pelayanan publik. Banyak pula desa yang gagal merintis pembentukan BUMDes karena keterbatasan SDM yang cakap dan paham hakikat fungsi ekonomi dan bisnis pedesaan.

Pembentukan BUMDes mengacu pada Permendesa No 4/2015. BUMDes didirikan dengan tujuan meningkatkan perekonomian desa, meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolaan ekonomi desa, dan meningkatkan pendapatan asli desa. Pertimbangan pembentukan BUMDes didasari oleh kemampuan potensi ekonomi desa, kapasitas sumber daya alam dan SDM di desa, dan inisiatif kreatif pemerintah desa. Sumber anggaran pembentukan BUMDes berasal dari penyertaan modal dari pemerintah desa dalam bentuk pembiayaan dan kekayaan desa yang diserahkan untuk dikelola dan dikembangkan.

Sementara jenis usaha yang diberi hak dan peluang untuk dikembangkan meliputi (1) bisnis sosial sederhana yang memberikan pelayanan umum kepada masyarakat; (2) penyewaan barang; (3) usaha perantara yang memberikan jasa pelayanan kepada warga; (4) bisnis yang berproduksi dan/atau berdagang barang-barang tertentu; (5) bisnis keuangan yang memenuhi kebutuhan usaha-usaha skala mikro; dan (6) usaha bersama sebagai induk dari unit-unit usaha yang dikembangkan masyarakat desa.

Perlu strategi jitu

Beberapa desa yang kini berhasil mengembangkan BUMDes  secara profesional memiliki strategi yang tepat dan dapat dukungan para pemangku kepentingan yang bergiat di ekonomi pedesaan. BUMDes Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, misalnya, berhasil memajukan sektor pariwisata desa dengan mengelola sumber daya air dan juga aktivitas produktif di sektor pertanian dan perikanan. Pengelolaan sumber daya air, yakni Umbul Ponggok, setiap tahun menyumbang pendapatan asli desa hingga Rp 5 miliar.

Strategi pengembangan BUMDes yang berhasil adalah, pertama, ketepatan dalam memilih unit usaha ekonomi kreatif. Unit usaha ekonomi kreatif yang dikembangkan BUMDes harus berdasarkan indikator ketersediaan sumber daya alam, embrio kegiatan ekonomi berbasis komunitas, dan juga program visioner dari pengelola. Banyak desa yang memiliki basis industri/ekonomi kreatif tak berkembang karena ketidakmampuan BUMDes melakukan perubahan manajemen usaha dan penguatan dari sisi aspek promotif.

Kedua, kemampuan menginvestasikan penyertaan modal  yang bersumber dari APBDes. Investasi yang sesuai program ekonomi pedesaan menghasilkan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan masyarakat desa. Desa yang kreatif mengembangkan BUMDes juga mampu merintis jejaring kemitraan dengan dunia usaha dan kantong ekonomi kreatif pedesaan.

Ketiga, penyelarasan program-program BUMDes dengan program pemberdayaan masyarakat desa. Program BUMDes seharusnya mendukung platform program pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat desa. Logikanya, jika pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat desa berhasil, maka akan menopang kemajuan unit usaha BUMDes.

Trisno Yulianto

Koordinator Forum Kajian dan Transparansi Anggaran (Forkata)

Sumber: https://kompas.id/baca/opini/2017/04/29/bumdes-dan-ekonomi-kreatif/

Terlambat Memberikan Kompensasi

Tampaknya sebuah konsensus baru telah muncul di antara para pemimpin dan elite pengambil kebijakan dunia mengenai bagaimana mengatasi serangan balik kubu anti globalisasi, sebuah isu yang dieksploitasi dengan baik oleh kalangan populis seperti Donald Trump.

Hilang sudah keyakinan bahwa globalisasi akan mendatangkan manfaat bagi semua orang. Saat ini kalangan elite mengakui kita harus menerima kenyataan bahwa globalisasi tidak hanya menghasilkan ”pemenang” (mereka yang diuntungkan globalisasi), tetapi juga ”pecundang” (mereka yang dirugikan oleh globalisasi).

Respons yang benar adalah tidak dengan membalikkan arah globalisasi, tetapi memastikan bahwa orang yang dirugikan mendapat kompensasi.

Konsensus baru ini diutarakan oleh Nouriel Roubini: penolakan terhadap globalisasi ”dapat diredam dan dikelola melalui kebijakan yang memberikan kompensasi terhadap kerugian dan biaya yang harus ditanggung para pekerja”. ”Hanya dengan menerapkan kebijakan seperti itulah kelompok yang dirugikan dalam globalisasi akan merasa bahwa mereka juga pada akhirnya akan diuntungkan.”

Argumen ini terdengar sangat masuk akal, baik secara ekonomi maupun politis. Ekonom tahu betul bahwa liberalisasi
perdagangan akan menyebabkan redistribusi pendapatan dan kerugian absolut bagi kelompok masyarakat tertentu meski secara keseluruhan kue ekonomi negara tersebut membesar.

Oleh karena itu, perjanjian perdagangan hanya dapat meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa jika orang yang diuntungkan globalisasi bisa mengompensasi mereka yang dirugikan. Pemberian kompensasi juga menjamin adanya dukungan terhadap keterbukaan perdagangan dari konstituen yang lebih luas dan ini merupakan hal yang baik dalam sudut pandang politik.

Negara kesejahteraan

Sebelum munculnya konsep negara kesejahteraan (welfare state), ketegangan antara keterbukaan dan redistribusi diselesaikan melalui emigrasi pekerja dalam skala besar atau dengan menerapkan kembali kebijakan proteksi dalam perdagangan, khususnya di bidang pertanian.

Munculnya negara kesejahteraan, hambatan ini kian mengecil sehingga liberalisasi perdagangan dapat dilakukan dengan skala lebih besar.

Dewasa ini, negara maju yang paling terpapar perekonomian global adalah juga negara yang paling ekstensif menerapkan program jaring pengaman dan asuransi sosial atau disebut negara kesejahteraan. Penelitian di Eropa menunjukkan, negara yang mengalami kekalahan dalam globalisasi cenderung menerapkan program sosial yang aktif dan intervensi di pasar tenaga kerja.

Jika penolakan terhadap perdagangan bebas di Eropa belum begitu terlihat, hal ini lebih karena perlindungan sosial masih sangat kuat meski kian melonggar dalam beberapa tahun terakhir. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa negara kesejahteraan dan perekonomian terbuka adalah dua sisi dari koin yang sama di hampir sepanjang abad ke-20.

Dibandingkan dengan kebanyakan negara Eropa, Amerika Serikat (AS) adalah pemain baru globalisasi. Hingga baru-baru ini pasar domestik AS yang besar dan wilayah geografisnya yang cukup terisolasi menerapkan kebijakan proteksi yang relatif ketat dari impor, khususnya impor dari negara berupah buruh murah. Secara tradisional, AS termasuk dalam negara kesejahteraan yang lemah.

Ketika AS mulai membuka diri terhadap impor dari Meksiko, China, dan negara berkembang lainnya pada 1980-an, banyak yang mengira bahwa mereka akan menjadi seperti Eropa. Namun, karena pengaruh paham Reaganite dan ide fundamentalisme pasar, AS justru berkembang ke arah yang berlawanan dengan Eropa.

Seperti dikatakan Larry
Mishel, Presiden Economic Policy Institute, ”Mengabaikan kelompok yang dirugikan oleh globalisasi adalah sebuah tindakan yang disengaja.” Pada 1981, bantuan penyesuaian perdagangan (TAA) adalah salah satu program yang diserang oleh Reagan dengan cara memotong pembayaran kompensasi mingguan program tersebut.

Hal itu berlanjut pada pemerintahan berikutnya di bawah Partai Demokrat. Mengutip
Mishel, ”Jika para pendukung perdagangan bebas betul peduli kepada pekerja, mereka akan mendukung serangkaian kebijakan yang mendukung pertumbuhan gaji yang kuat seperti menumbuhkan lapangan kerja, perundingan bersama, standar kerja yang tinggi, pertumbuhan upah minimum, dan lainnya.” Dan hal ini bisa dilakukan ”sebelum memperluas kerja sama perdagangan dengan negara-negara dengan buruh murah”.

Membalik haluan?

Dapatkah AS mengubah arah dan mengikuti pemahaman umum yang belakangan ini muncul? Tahun 2007, ilmuwan politik Ken Scheve dan ekonom Matt Slaughter menyerukan perlunya ”sebuah Kesepakatan Baru (New Deal) untuk globalisasi” di AS, orang mungkin akan mengaitkan ”kerja sama dengan negara lain dengan redistribusi pendapatan yang substansial”. Di AS, menurut mereka, hal itu berarti memberlakukan sistem pajak federal yang jauh lebih progresif.

Slaughter adalah mantan pejabat di masa pemerintahan Presiden George W Bush dari Partai Republik. Ini adalah sebuah indikasi betapa terpolarisasinya iklim politik di AS. Terasa sulit untuk membayangkan proposal semacam itu bisa muncul dari seorang anggota Partai Republik pada saat ini.

Upaya Trump dan sekutunya di Kongres untuk menghapuskan program asuransi kesehatan yang merupakan program andalan Presiden Barack Obama adalah refleksi komitmen dari Partai Republik untuk mengurangi, bukan memperluas, perlindungan sosial.

Konsensus, terkait perlunya pemberian kompensasi kepada kelompok yang dirugikan oleh globalisasi, yang ada dewasa ini menganggap bahwa kelompok yang diuntungkan dalam globalisasi digerakkan oleh kepentingan pribadi. Bahwa membeli dari orang yang dirugikan oleh globalisasi adalah hal yang penting untuk mempertahankan keterbukaan ekonomi.

Pemerintahan Trump mengungkapkan sebuah persepsi alternatif di mana globalisasi, setidaknya dalam bentuk yang ada sekarang, cenderung mendukung kelompok yang memiliki keterampilan dan aset yang bisa mengambil manfaat dari keterbukaan perdagangan dan kian merongrong apa pun pengaruh yang dimiliki oleh kelompok yang dirugikan oleh globalisasi.

Trump telah menunjukkan bagaimana ketidakpuasan terhadap globalisasi dapat dengan mudah dimanfaatkan untuk mencapai agenda yang menjadi kepentingan kaum elite yang tak ada hubungannya sama sekali dengan perdagangan.

Politik kompensasi ini selalu menjadi subyek permasalahan yang oleh para ekonom disebut dengan ”inkonsistensi waktu”. Sebelum sebuah kebijakan baru diberlakukan, misalnya saja perjanjian dagang, maka penerima manfaat perjanjian cenderung menjanjikan kompensasi. Namun, setelah kebijakan ini berjalan, mereka tak lagi merasa berkepentingan untuk menindaklanjuti. Hal ini bisa saja mengingat ongkos mahal yang harus dibayar untuk membalikkan keadaan atau karena kini perimbangan kekuasaan berpihak kepada mereka.

Waktu yang tepat untuk memberikan kompensasi sudah terbuka dan kita sia-siakan. Kalaupun kompensasi adalah sebuah pilihan yang mungkin diambil dua dekade lalu, hal ini tidak lagi menjadi respons praktis terhadap dampak buruk globalisasi. Untuk bisa merangkul mereka yang dirugikan oleh globalisasi, kita perlu mempertimbangkan mengubah aturan globalisasi yang ada.

Dani Rodrik

Profesor Politik Ekonomi Internasional di Sekolah Pemerintahan John F Kennedy, Universitas Harvard, dan
penulis Economics Rules: The Rights and Wrongs of the Dismal Science

Sumber: Kompas 28 April 2017. https://kompas.id/baca/utama/2017/04/28/terlambat-memberikan-kompensasi/ 

Perubahan Keuangan Global

Ujung2nya, pak Anwar di bagian akhir tulisannya mengingatkan pemerintah dan kita semua akan masih jauhnya kesiapan kita untuk bersaing di era global.

——————————-

Oleh: Anwar Nasution

Pada tahun 2016, dunia menyaksikan perubahan mendasar sistem politik yang sangat memengaruhi sistem perdagangan dan keuangan internasional.

Pada pertengahan tahun itu, referendum di Inggris menghasilkan putusan keluarnya negara itu dari Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) yang tadinya ikut dibentuknya. Referendum itu menghasilkan Brexit-kependekan dari British Exit -dari MEE. Di Amerika Serikat, Donald Trump terpilih menjadi presiden dengan program yang populis anti-elite, nasionalistis, protektif, dan anti-imigran asing. Pemerintahan otoriter yang terpusat pada presiden kembali berkuasa di Hongaria, Polandia, dan Turki.

Amerika Serikat dan negara-negara Eropa berbalik menentang globalisasi produksi dan perdagangan internasional, sistem keuangan, dan tenaga kerja. Globalisasi perdagangan, keuangan, dan tenaga kerja dianggap merupakan faktor penyebab peningkatan tingkat pengangguran, hambatan mobilitas sosial, penurunan kualitas hidup, dan erosi nilai-nilai budaya tradisional. Padahal, justru Amerika Serikat dan Inggris-lah yang tadinya merupakan penggagas dan pelopor deregulasi dan liberalisasi internasional sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Liberalisasi sistem perdagangan dan keuangan internasional terjadi karena kombinasi antara kemajuan teknologi dan perubahan aturan pemerintah nasional. Kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi telah memperpendek waktu tempuh dan menurunkan biayanya. Rangkaian aturan pemerintah itu tadinya menghambat lalu lintas perdagangan serta mobilitas faktor produksi antarnegara, baik berupa tenaga kerja, modal, maupun teknologi. Liberalisasi sistem perdagangan, keuangan, dan tenaga kerja telah memungkinkan terwujudnya rantai pasokan global (global supply chains). Artinya, proses produksi suatu barang dilakukan melalui berbagai tahapan produksi suku cadang dan komponen di beberapa negara.

Telepon genggam dan komputer iPod dirakit di China dengan menggunakan suku cadang dan komponen yang diimpor dari 27 negara. IPod adalah produk perusahaan Apple milik Amerika Serikat yang memindahkan produksinya ke mancanegara untuk mengurangi ongkos produksi. Desain baju seragam tentara NATO yang dijahit di Solo dibuat di Eropa. Materialnya pun diimpor, sedangkan pengguntingannya dilakukan di Singapura atau Hongkong.

Melalui pemindahan fasilitas produksi ke luar negeri, Presiden Trump menuduh perusahaan multinasional dari negaranya mengekspor lapangan kerja ke negara lain, terutama Meksiko dan China serta negara Asia lainnya. Di satu pihak, migrasi perusahaan ke luar negeri mengurangi kesempatan kerja di Amerika Serikat. Di lain pihak, impor produk luar negeri menambah defisit neraca pembayaran luar negeri. Presiden Trump merasa terganggu oleh besarnya migrasi tenaga kerja kasar dari Meksiko yang ia sebut menambah kriminalitas. Inggris merasa terganggu oleh migrasi tenaga kerja dari Polandia dan negara-negara Eropa Timur lainnya.

Migrasi itu telah menyaingi tenaga kerja lokal dan menambah permintaan akan perumahan dan jasa-jasa sosial, seperti pemeliharaan kesehatan, sekolah, menambah kemacetan lalu lintas, serta mengganggu ketertiban dan keamanan. Migrasi dari beberapa negara Arab, pemeluk agama Islam, dihambat masuk ke Amerika Serikat karena alasan keamanan. Hambatan seperti ini justru merugikan negara itu sendiri karena mengurangi turisme serta kedatangan orang asing untuk tujuan berobat atau sekolah.

Akibat dari deregulasi, dewasa ini pedagang buah di Jakarta menjual jeruk dari Pakistan dan China. Sebaliknya, pisang dan salak dari Yogyakarta dan Bali merupakan barang mewah di China. Selain pakaian seragam tentara NATO, sebagian dari sepatu olahraga serta baju mahal yang dijual di toserba negara-negara maju dijahit di Indonesia. Orang asing pun membeli suku cadang dan komponen buatan Indonesia. Pembelian orang asing atas produk-produk Indonesia telah menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan penghasilan devisa ekspor bagi Indonesia.

Sementara itu, pemerintah membelanjai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)-nya dengan menjual Surat Utang Negara (SUN) dan obligasi sukuk di pasar keuangan dunia. Hampir sebesar 40 persen SUN dan sukuk yang dipasarkan di Bursa Efek Indonesia dibeli oleh modal asing jangka pendek. Ini terjadi karena Indonesia tidak punya perusahaan asuransi dan dana pensiun yang kaya maupun bank tabungan pos yang dapat menyerap SUN dan SBI. Pemasukan modal swasta asing berjangka pendek sangat rawan pada perekonomian karena mengandung dua jenis risiko, yakni risiko kurs dan risiko perbedaan jangka waktu kredit dengan pelunasannya.

Menggerakkan perekonomian

Kelompok negara G-20 dan Dana Moneter Internasional (IMF) menempuh kebijakan stabilisasi perekonomian yang bertolak belakang untuk mencegah kebangkrutan sistem ekonomi dunia setelah Lehman Brothers kolaps pada tahun 2008. Untuk mengobati krisis Asia tahun 1997, IMF mempersyaratkan agar negara-negara yang terkena krisis mengadopsi kebijakan stabilisasi yang terdiri dari: (1) kebijakan fiskal yang mengencangkan ikat pinggang; (2) meningkatkan tingkat suku bunga guna mencegah pelarian modal; (3) mendevaluasikan mata uang nasional guna merangsang ekspor dan membatasi impor; dan (4) melakukan deregulasi perekonomian untuk meningkatkan produktivitas dan produksi nasional.

Pertemuan puncak (KTT) G-20 di London pada tahun 2008 memberikan arahan yang bertolak belakang dari standar kebijakan IMF yang biasa. Dunia beruntung karena disertasi PhD Bernanke di Massachusetts Institute of Technology (MIT) adalah mengenai resesi ekonomi tahun 1930-an. Pada tahun 2008 itu, Bernanke menjabat sebagai Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat. Dalam KTT tahun 2008 di London, G-20 menambah dana IMF sehingga bisa memberikan bantuan lebih besar kepada negara yang mengalami kesulitan neraca pembayaran luar negeri agar tidak berlomba mendevaluasikan (competitive devaluation) mata uang nasionalnya.

Selain dari pinjaman kepada IMF, dana bantuan luar negeri diperbesar dengan adanya currency swap facilities dari sejumlah negara. AS memberikan fasilitas bantuan kepada 14 negara penting. Indonesia dibantu Jepang, Korea Selatan, dan China. Tersedianya fasilitas ini telah menghindarkan terjadinya perlombaan melakukan devaluasi, dan menurunkan pengeluaran negara, sehingga menambah instabilitas perekonomian internasional.

Upaya untuk menggalakkan perekonomian dunia dilakukan melalui empat cara. Cara pertama adalah untuk membangun kembali industri keuangan yang terpuruk dengan menambah modalnya dan membersihkan bukunya dari kredit bermasalah. Cara kedua, melalui kebijakan tingkat suku bunga yang rendah, adakalanya negatif. Untuk menurunkan tingkat suku bunga hingga di bawah nol persen, bank sentral di Jepang, Uni Eropa, dan AS memompakan likuiditas ke pasar uang dengan membeli surat utang negara (seperti SUN) ataupun surat-surat berharga (saham dan obligasi) yang dikeluarkan oleh badan usaha swasta.

Penurunan tingkat suku bunga diharapkan dapat merangsang investasi swasta ataupun konsumsi masyarakat atas barang-barang tahan lama (durable goods), seperti mesin cuci, kompor listrik, lemari es, dan sepeda motor. Cara ketiga adalah dengan ekspansi pengeluaran anggaran negara, seperti untuk proyek-proyek infrastruktur. Pada tahun 2008-2009, Indonesia dibantu oleh Jepang, Australia, dan Bank Dunia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan melakukan ekspansi pengeluaran negara. China juga membangun perumahan rakyat di semua pelosok ataupun industri besar padat modal.

Cara keempat, untuk menggalakkan perekonomian adalah melalui deregulasi perekonomian guna meningkatkan produktivitas dan produksi. Penyederhanaan perizinan, prosedur, dan aturan maupun hambatan perdagangan di dalam negeri dapat menekan ongkos produksi yang memurahkan tingkat harga-harga sehingga dapat bersaing di pasar dunia.

Cara keempat ini yang ditempuh Deng Xiaoping untuk memajukan ekonomi negaranya mulai tahun 1978. Pada waktu itu, ia meninggalkan ajaran komunis garis keras ala Mao Zedong yang anti-modal asing dengan mengundang mereka untuk menanamkan modalnya di Pantai Timur China. Hanya dengan sekejap mata, struktur ekonomi Pantai Timur China berubah dari tadinya pertanian komunal dengan produktivitas hampir sama dengan nol menjadi kawasan industri yang berorientasi pada ekspor dengan produktivitas yang lebih tinggi.

Belum mampu bersaing

Perubahan itu terjadi karena masuknya modal asing berbondong-bondong ke China membawa modal, teknologi, dan jaringan pasar internasional. Akibatnya, ekonomi China dapat tumbuh rata-rata 10 persen setahun secara terus-menerus selama 30 tahun terakhir, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan ekspor. Secara bertahap, China dapat meraih kemajuan teknologi dan kini negara itu merupakan negara eksportir dunia yang kedua setelah Jerman. Pada awalnya China hanya memproduksi barang-barang murahan berkualitas rendah. Sekarang, China mengekspor ponsel dan laptop dan kereta api supercepat dan membangun jalan tol di Inggris.

Strategi ini yang ditiru oleh India sejak era Perdana Menteri Manmohan Singh pada tahun 1990 yang diteruskan Perdana Menteri Modi sekarang ini. Seperti halnya Taiwan, India sekarang merupakan produsen dan eksportir penting dalam hal suku cadang serta komponen barang-barang elektronik dan otomotif.

Dalam dua tahun terakhir, pemerintahan Presiden Joko Widodo sudah mengintroduksi lebih dari 12 deregulasi perekonomian. Namun, hasilnya masih mengecewakan karena belum dapat merangsang investasi modal swasta dan penciptaan tenaga kerja. Pantai timur Pulau Sumatera tetap miskin dan merupakan sumber bahan baku serta tenaga kerja murah bagi Malaysia dan Singapura di seberang Selat Malaka yang sempit itu. Demikian juga Kalimantan di Indonesia yang tak bisa bersaing dengan negara bagian Malaysia yang ada di pulau yang sama, walaupun suku bangsa penduduknya, tanah, dan sungainya pun sama.

BUMN Indonesia masih tetap tidak berperan bagi pembangunan nasional. PT Perkebunan (PTP) belum mampu menyaingi perusahaan swasta untuk mengolah sawit dan memasarkannya di pasar dunia. Perusahaan kertas BUMN tidak dapat menyaingi swasta yang sudah merambah pasar Asia Pasifik hingga India. BUMN dan swasta nasional belum mampu memanfaatkan pasar Timur Tengah yang bisa digunakan untuk penetrasi pasar Afrika dan Asia Tengah. Indonesia adalah pengirim jemaah haji dan umrah yang terbesar jumlahnya di dunia. Namun, produsen pakaian untuk keperluan mereka adalah China: baju ihram, kopiah, kerudung dan baju kebaya wanita, sandal, tasbih, hingga tikar shalat. Indonesia pun tak berperan dalam bisnis transportasi ataupun penginapan jemaah dan pengemasan air zamzam.

Anwar Nasution

Guru Besar Emeritus Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Source: https://kompas.id/baca/opini/2017/04/18/perubahan-keuangan-global/