Ekonomi Digital

​*Ekonomi Digital Harus Bermanfaat Bagi Rakyat*
Menindaklanjuti visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi digital terbesar pada tahun 2020, Presiden Joko Widodo pada Selasa, 27 September 2016 di Kantor Kepresidenan Jakarta, memimpin rapat terbatas tentang pengembangan ekonomi digital yang sedang berkembang pesat. 
Dalam rapat tersebut, Presiden Joko Widodo meminta jajaran kabinetnya untuk memanfaatkan potensi yang ada guna meningkatkan pelaku ekonomi digital di Indonesia. Seperti diketahui, saat ini 93,4 juta dari 250 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet dengan jumlah penjualan melalui ‘e-commerce’ pada tahun 2014 mencapai USD 2,6 milyar.
“Potensi pasar yang sangat besar ini tidak boleh ditinggal begitu saja. Saya yakin potensi itu akan bisa menjadi fondasi bagi Indonesia untuk menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara,” ujar Presiden Joko Widodo.
Selain itu, Presiden Joko Widodo juga meminta ekonomi digital ini dapat membawa manfaat bagi rakyat, khususnya UMKM dan para pelaku bisnis pemula atau _start up._ 
“Kita harus bisa membangun _channel_ antara sistem _platform_ logistik dunia, dengan produk-produk yang berada di kampung-kampung, yang berada di desa-desa. Saya minta pelaku bisnis pemula atau _start up_ diprioritaskan dan difasilitasi untuk mendapatkan akses permodalan agar usahanya bisa tumbuh dan berkelanjutan,” imbuhnya.
*Deregulasi dan Pelatihan e-commerce*
Lebih lanjut Presiden Joko Widodo mengingatkan pentingnya dukungan pemerintah dalam upaya memperkuat pelaku ekonomi digital dengan melakukan deregulasi serta memberikan pelatihan pengembangan kapasitas untuk berkompetisi.
“Lakukan deregulasi besar-besaran untuk mendukung berkembangnya industri ‘e-commerce’. Satu hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah pelatihan untuk mengembangkan kapasitas bagi pelaku pemula e-commerce sehingga akan semakin mampu bersaing di dunia bisnis,” ucap Presiden Joko Widodo.
Selain deregulasi, pemerintah juga menekankan pentingnya penyediaan infrastruktur untuk mendukung pencapaian visi tersebut.
“Saya juga minta dilakukan percepatan jangkauan infrastruktur telekomunikasi yang dibutuhkan pelaku-pelaku ‘e-commerce'” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa layanan pesan instan dari Blackberry sudah dimiliki 100 persen oleh Indonesia sehingga bisa dijadikan platform asli Indonesia. 
“Kita harapkan nanti seluruh hal yang berkaitan dengan ‘e-commerce’ kita baik retail _platform_-nya, baik logistik _platform_-nya bisa nempel ke _blackberry messenger_ khususnya yang nanti betul-betul kita siapkan menjadi _platform_ asli Indonesia,” ujar Presiden Joko Widodo.
*Ekonomi Digital Pasarkan Produk UMKM*
Menutup sambutannya, Presiden Joko Widodo menekankan tekad pemerintah untuk mengembangkan ekonomi digital sebagai salah satu upaya memasarkan produk-produk UMKM.
“Saya kira perlu kita proteksi, perlu kita berikan dukungan sehingga ini betul-betul bisa kita dorong untuk nantinya memasarkan produk-produk desa, memasarkan produk kampung, usaha kecil, usaha mikro yang ada di negara kita,” tutupnya.
Hadir dalam rapat tersebut Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D. Hadad dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.
Jakarta, 27 September 2016

Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden
Bey Machmudin

Perilaku Korupsi Tak Berubah

Tidak perlu diherankan selagi masalah mendasar tidak pernah disentuh dan serius diperbaiki. Kejadian yang sejenis akan terus berulang dan kita akan benar2 tinggal dilandasan. Sementara negara lain benar2 tinggal landas.

—————-

Komisi Pemberantasan Korupsi Tangkap Ketua DPD Irman Gusman

JAKARTA, KOMPAS — Komisi Pemberantasan Korupsi kembali menangkap tangan pimpinan lembaga negara. Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman ditangkap Sabtu (17/9) dini hari di Jakarta. Penangkapan Irman menunjukkan pemberantasan korupsi di Indonesia belum berdampak.

Barang  bukti uang Rp 100 juta  hasil operasi tangkap tangan  ditunjukkan pada konferensi pers disaksikan  Ketua KPK Agus Rahardjo (kanan) didampingi dua wakilnya, Laode Muhammad Syarif (kedua kanan) dan Alexander Marwata (kiri), di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (17/9).  KPK menetapkan Ketua DPR   Irman Gusman sebagai tersangka dugaan suap terkait pengurusan kuota gula impor. Dalam operasi Sabtu dini hari, Irman ditangkap bersama  XSS, Direktur Utama CV SW, dan istrinya, MMI, serta adik XSS, WS.
KOMPAS/LASTI KURNIABarang bukti uang Rp 100 juta hasil operasi tangkap tangan ditunjukkan pada konferensi pers disaksikan Ketua KPK Agus Rahardjo (kanan) didampingi dua wakilnya, Laode Muhammad Syarif (kedua kanan) dan Alexander Marwata (kiri), di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (17/9). KPK menetapkan Ketua DPR Irman Gusman sebagai tersangka dugaan suap terkait pengurusan kuota gula impor. Dalam operasi Sabtu dini hari, Irman ditangkap bersama XSS, Direktur Utama CV SW, dan istrinya, MMI, serta adik XSS, WS.

Peristiwa ini kian menunjukkan potret buruk pejabat yang mestinya dipercaya sebagai penyampai aspirasi rakyat. “Kasus ini menunjukkan, sampai hari ini tidak ada perubahan yang sangat signifikan di negara kita dalam hal perilaku korup,” kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang di Yogyakarta.

Irman menjadi pimpinan lembaga negara kedua yang ditangkap KPK. Pada 2013, Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar juga ditangkap di rumah dinasnya seusai menerima uang 284.050 dollar Singapura dan 22.000 dollar Amerika Serikat untuk mengurus perkara sengketa Pemilihan Kepala Daerah Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Akil juga diketahui mengurus sengketa Pilkada Lebak, Banten. Belakangan, Akil diketahui disuap untuk mengurus pemenangan pihak yang bersengketa dalam sejumlah pilkada di MK.

“Perlu reformasi ulang untuk memperbarui sistem dan budaya politik di negeri yang serba boleh ini. Perlu juga ada gerakan kolektif untuk menegakkan moral pejabat publik agar kejadian semacam ini tidak terjadi terus-menerus,” papar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.

Menurut Haedar, sistem dan budaya politik yang ada saat ini memberi banyak peluang penyalahgunaan kekuasaan. “Politisi jadi pengusaha, pengusaha jadi politisi. Konflik kepentingan menjadi makin tinggi dan leluasa,” ujar Haedar.

Di Bandung, Presiden Joko Widodo menunjukkan kekecewaannya setelah mengetahui ada lagi pejabat negara yang ditangkap KPK. Raut muka bahagia setelah membuka acara pemberian makanan tambahan bagi bayi dan ibu hamil di Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mendadak berubah saat ditanya kabar tangkap tangan itu. Keningnya berkerut, mulutnya sedikit cemberut. Sebelum berbicara, ia menundukkan kepala dan menghela napas.

“Pada kesempatan yang baik ini, saya kembali menegaskan, siapa pun untuk stop korupsi. Sekali lagi stop korupsi,” kata Presiden dengan nada meninggi.

Impor gula

KPK menangkap Irman bersama Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto, istri Xaveriandy, yaitu Memi, dan adik Xaveriandy, yaitu Willy Sutanto. Penyidik KPK juga mengamankan uang Rp 100 juta yang dibungkus plastik berwarna putih.

Ketua Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Daerah AM Fatwa datang ke KPK, Jakarta, Sabtu (17/9). Kedatangan AM Fatwa terkait dugaan tertangkapnya Ketua DPD Irman Gusman dalam operasi tangkap tangan KPK pada Sabtu (17/9) dini hari.

Kompas/Lasti Kurnia
Barang bukti uang Rp 100 juta ditunjukkan dalam konferensi pers  KPK di Jakarta, Sabtu (17/9).  KPK menetapkan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman sebagai tersangka atas dugaan suap terkait dengan pengurusan kuota gula impor. Dalam operasi tangkap tangan pada Sabtu dini hari, Irman ditangkap bersama  XSS, Direktur Utama CV SW, dan istrinya yang berinisial MMI, juga WS yang merupakan adik XSS.

Kompas/Lasti Kurnia

Uang tersebut diduga merupakan suap dari Xaveriandy kepada Irman untuk pengurusan kuota gula impor yang diberikan Bulog.

Berdasarkan gelar perkara yang dilakukan pimpinan KPK dan penyidik, Irman, Xaveriandy, dan Memi ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara suap ini.

“Pemberian ini dimaksudkan agar Bapak IG (Irman Gusman) memberikan rekomendasi kepada Bulog supaya saudara XSS (Xaveriandy Sutanto) mendapatkan jatah untuk impor gula,” kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif ketika jumpa pers.

Awalnya, KPK menangani perkara lain milik Xaveriandy, yaitu penangkapan 30 ton gula pasir tanpa label Standar Nasional Indonesia (SNI) yang tengah berjalan di Pengadilan Negeri Padang. Dalam perkara tersebut, KPK pun menetapkan Xaveriandy sebagai tersangka karena diduga memberi suap Rp 365 juta kepada Farizal, jaksa dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sumbar Yunelda mengatakan, sudah mendapat informasi terkait penangkapan Farizal. Dia membenarkan bahwa Farizal merupakan jaksa penuntut umum dalam sidang kasus dugaan peredaran gula tanpa label SNI di PN Padang.

“Jaksa ini bahkan berperan seperti penasihat hukum. Ia diketahui membuat eksepsi terdakwa dan mengatur saksi yang meringankan,” ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata.

Lantaran hal ini, Xaveriandy dan Memi dikenai Pasal 5 Ayat 1 Huruf a atau Pasal 5 Ayat 1 Huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sementara itu, Irman dijerat Pasal 12 Huruf a atau Pasal 12 Huruf b atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tipikor, begitu pula dengan Farizal.

Pukulan berat

Setelah tertangkapnya Irman, DPD langsung mengadakan rapat panitia musyawarah (panmus) yang dihadiri seluruh pimpinan DPD beserta sekitar 20 perwakilan pimpinan alat kelengkapan DPD. Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad mengatakan, kasus yang menimpa Irman adalah pukulan berat bagi DPD di tengah perjuangan DPD memperkuat kewenangan kelembagaan.

Ia menegaskan, kasus yang melibatkan Irman tidak berhubungan dengan institusi DPD dan kewenangannya. Sebab, DPD tidak berwenang mengurus anggaran nasional sebagaimana DPR. “Kemungkinan (kasus) seperti itu hampir tidak mungkin dihadapi semua anggota DPD. Kebetulan, Irman Gusman ini pebisnis sehingga relasinya banyak,” kata Farouk.

Wakil Ketua DPD GKR Hemas meminta maaf kepada daerah beserta rakyat yang diwakili oleh DPD atas tertangkapnya Irman. Kasus tersebut otomatis akan memengaruhi DPD dalam penggalangan dukungan untuk mengusulkan amandemen Undang-Undang Dasar 1945 terkait penguatan kewenangan DPD.

Pekan depan, DPD akan merapatkan status kepemimpinannya sesuai mekanisme yang ada.

Penangkapan Irman menambah panjang daftar kasus korupsi anggota legislatif. Dalam periode 2014-2019, sudah tujuh anggota DPR ditangkap KPK dan ditetapkan sebagai tersangka akibat penyalahgunaan kewenangan legislatifnya. Namun, ini merupakan kali pertama anggota DPD ditangkap karena korupsi dan langsung menjerat ketua DPD.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, tertangkapnya Irman tidak akan memengaruhi citra lembaga tinggi negara, khususnya DPD. “Saya kira masalah perseorangan tidak bisa dilibatkan langsung ke lembaga itu,” kata Kalla kepada wartawan Kompas, Anita Yossihara, di sela-sela mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok di Venezuela.

Selain pimpinan lembaga tinggi negara, Irman, yang telah memimpin DPD sejak lembaga itu berdiri 12 tahun lalu, adalah pengusaha yang bergerak di sektor kehutanan. Selama ini, Irman dikenal sebagai sosok anti korupsi yang tegas mengkritik koruptor. Ia juga gigih menyuarakan penguatan kelembagaan KPK di tengah wacana revisi UU KPK dan konflik KPK vs Polri.

Irman bahkan pernah mengusulkan agar hukuman terhadap koruptor diperberat, jika perlu dihukum mati. Dalam berkali-kali kesempatan, Irman sering menyatakan bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa yang tidak bisa ditoleransi karena membuat hancur peradaban.

Waruno Mahdi: Saya Masih Bisa Hidup

 

MARTIN ALEIDA

Kompas/ 10 September 2016  

Berlin. Saya ingin menemui laki-laki yang paling direkomendasikan untuk diwawancarai. Alex Flor, Direktur Watch Indonesia! yang bermarkas di kota ini, mengatakan kepada saya, sedikit sekali eksil (exile) Indonesia yang kerja di bidangnya.

didie sw

Namun, yang satu ini mampu mengembangkan diri. Boleh dibilang semua eksil lulusan sejumlah perguruan tinggi di negeri-negeri sosialis tak diakui ijazahnya sehingga tak bisa bekerja sesuai keahlian. Sia-sia semua.

Yang saya buru adalah sarjana kimia lulusan Moskwa. Ia bekerja di lembaga penelitian Jerman yang terpandang: Max Planck Gesellschaft. Mantan direktur departemennya, Profesor Gerhard Ertl, begitu simpati pada nasibnya sehingga memasuki usia pensiun, dia masih dipertahankan. ”Dia menguasai sejumlah bahasa. Bahasa Jermannya lebih baik dari saya,” kata Alex.

Selain ahli rekayasa kimia, orang ini juga dikenal sebagai ahli bahasa dan kebudayaan rumpun Melayu. Kepintarannya membawanya berkunjung ke Indonesia. Dia seorang polyglot, tidak punya hambatan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Rusia. Dia juga memahami bacaan dalam rumpun bahasa Slavia, Perancis, Portugis, Spanyol, Italia, Vietnam, dan Mandarin.

Untuk menemui orang ini, saya mengabaikan gerimis musim semi yang menusuk. Keluar dari stasiun U-bahn Karl Marx Strasse, saya membelah terpaan angin menuju apartemen milik wanita-aktivis asal Toraja, yang berpasangan dengan pemuda Jerman. Di situlah saya berhadap-hadapan dengan lelaki yang saya cari: Waruno Mahdi.

Dia duduk membelakangi teras yang menghadap ke Richard Strasse di bawah sana, tempat dia menambatkan sepedanya. Tingginya nyaris 180 cm. Hidungnya lebih mancung dari rata-rata orang Indonesia. Wajahnya mirip Rock Hudson, aktor Hollywood. Ia pernah 20 tahun di Uni Soviet (12 tahun di Moskwa, 8 tahun di Voronezh).

”Saya bukan komunis,” katanya. Ya, dalam pertemuan sekejap itu, saya percaya dia bukan komunis. Dia internasionalis, anak manusia segala daratan. Waruno lahir 72 tahun lalu di Bogor. Usia tiga tahun, dia dibawa orangtuanya, diplomat, ke Singapura, kemudian ke Bangkok, Peking.

Kembali ke Indonesia 2,5 tahun, ia lalu menetap beberapa bulan di London, 20 tahun di Uni Soviet, sebelum akhirnya menjadi intelektual di Berlin.

Bagaimana kehidupan di Moskwa sampai kemudian lari ke Berlin Barat?

Saya datang dari kota kecil Voronezh di selatan Moskwa, tempat saya dibuang 8 tahun. Saya orang Indonesia satu-satunya di sana. Setelah lima tahun lulus di bidang kimia, terjadi peristiwa 1965. Ceritanya panjang, mengapa saya tak bisa pulang. Mereka—kelompok mahasiswa dan orang-orang politik Indonesia pro-Moskwa—tidak senang dengan kelompok kami karena tidak mau masuk kelompok mereka. Kami tidak mau masuk, takut kepribadian kami hilang.

Waktu itu muncul banyak kelompok. Kelompok kami tidak masuk komunis. Tidak masuk nasionalis walaupun tetap pro Soekarno. Tidak masuk mana-mana. Jadi, kami dibuang ke luar Moskwa. Ada yang berdua-dua. Saya sendirian di kota Voronezh.

Saya setahun menjadi asisten di universitas kota itu. Sesudah itu saya tidak diberi pekerjaan. Tidak bisa ke mana- mana. Akhirnya, saya jadi kuli semen. Tahu saya jadi kuli semen, orang-orang asing protes kepada pimpinan universitas. Kemudian, saya diberi pekerjaan sebagai insinyur di pabrik karet. Kami meninggalkan Uni Soviet tahun 1977 setelah tahu caranya.

Kami tidak mau pro Soviet. Juga tidak mau ke Tiongkok. Anak-anak muda Vietnam melindungi kami, mengajak kami bersama mereka. Mereka mengajari saya bahasa Vietnam.

Tahun 1975 atau 1976, muncul percekcokan antara Vietnam dan Tiongkok. Kemudian ada orang Indonesia meninggal. Di Soviet, kala itu, kalau ada yang meninggal, orang yang dibuang ke mana-mana boleh kumpul. Hari kemalangan seperti hari suci. Siapa saja boleh datang. Pertemuan itu, bagi mereka yang dibuang, merupakan kesempatan ngobrol satu sama lain, diam-diam membicarakan berbagai masalah.

Kami putuskan keluar ke Barat. Kami juga putuskan bagaimana caranya. Bagaimana caranya supaya Moskwa tidak tahu rencana kami? Keberangkatan diatur sekelompok-demi-sekelompok. Tiga-tiga orang lebih dulu. Di dalam gerbong, di coupe, bisa ditampung tiga orang. Dan kami bisa membawa koper dan barang sebanyak-banyaknya. Yang kami pikirkan adalah bagaimana berangkat ke Barat secara legal tanpa paspor. Keluar dari Soviet kami diberi exit visa. Visa keluar biasanya untuk komunis, misalnya Amerika Latin.

Memasuki Berlin, kami harus lewat Polandia dan Republik Demokrasi Jerman. Di dua negara itu kami katakan, ”Kawan Soviet memberi kami visa.” Dalam hitungan menit, kami bisa masuk. Petugas berpikir kami pemegang exit visa, jadi perlu dibantu.

Dari mahasiswa Afrika kami tahu bahwa naik kereta ke Berlin Barat, turun di stasiun Zoologischer Garten, tidak akan ada pemeriksaan paspor. Padahal, di mana-mana ada pemeriksaan paspor. Zoologischer Garten masuk bagian yang dikontrol Amerika Serikat. Jadi, kami berhasil memasuki Berlin Barat tanpa memiliki paspor.

Langsung bekerja

Begitu sampai di Berlin, setelah minta suaka, langsung cari kerja supaya bisa menyewa flat, rumah. Begitu dapat flat, kami langsung mengirim surat ke Timur. Kami bilang kelompok tiga orang berikut silakan datang.Dalam tempo 1,5 tahun semua anggota grup kami sudah di Barat.

Pekerjaan pertama di Berlin?

Penjaga malam! Satu bulan lamanya. Sebelum punya flat, kami menginap di rumah orang Indonesia. Dia meminta kami membawa buku-buku karena pernah belajar di Uni Soviet. Kami bawakan buku-buku kedokteran yang diminatinya. Sebagai ganti kami menginap di rumahnya.

Kami mencari pekerjaan terus. Dalam waktu dekat, kami dapat flat. Saya dapat pekerjaan di pabrik kimia. Menjadi buruh selama 10 bulan. Pekerjaan ketiga di institut tempat saya bekerja sekarang, Institut Frizt Haber yang masuk Max Planck Gesellschaft.

Bagaimana Bung mendapat pekerjaan di Max Planck?

Latar belakang pendidikan saya di Uni Soviet adalah kimia. Saya insinyur kimia. Mula-mula, kemahiran saya itu tidak diakui di sini. Namun, ketika saya ditetapkan pensiun, mereka mengakui ijazah saya. Saya dapat pekerjaan di institut dari Max Planck Gesellschaft karena institut perlu asisten dengan jenis pekerjaan khusus, yaitu bekerja dengan zat-zat yang tak boleh bersentuhan dengan oksigen. Di Uni Soviet saya bekerja di bidang tersebut.

Untuk mengisi lowongan ada 20 pelamar, kebanyakan orang Jerman. Hanya ada dua orang asing, termasuk saya. Dalam wawancara, saya tunjukkan bahwa saya banyak pengalaman dalam bidang yang ditawarkan. Senanglah yang mewawancarai.

Ada kritik yang menyebutkan social security corrupts (jaminan sosial) itu korup. Membuat orang terlena, puas diri, tidak mengembangkan diri secara maksimal. Sebagian dari eksil di Belanda, misalnya, tidak menggunakannya untuk mengembangkan diri. Mereka memilih menerima jaminan sosial.

Saya setuju dengan kritik itu. Saya bukan komunis. Kelompok saya di Uni Soviet bukan komunis. Saya tidak setuju dengan mereka yang di Belanda. Kelompok kami lain. Begitu sampai di sini, kami langsung cari kerja dan mau bekerja apa saja. Duit yang kami dapat bukan hasil meminta-minta.

Minat Bung di bidang bahasa?

Saya tidak belajar atau mengajar bahasa, tetapi memahami bahasa dalam pengertian teori. Publikasi saya banyak mengenai bahasa. Saya belajar sejarah bahasa dan kultur. Bahasa Indonesia, misalnya, berhubungan erat dengan budaya Indonesia dan Asia Tenggara.

Minat saya mulai muncul ketika saya masih di Uni Soviet. Waktu menjalani pembuangan di Voronezh, saya pikir, apa yang bisa dikerjakan. Saya punya kamus bahasa Madagaskar, yang masih serumpun dengan bahasa Indonesia. Berdasarkan kamus itu, saya mendalami dan menemukan kekhususan-kekhususan bahasa Madagaskar. Sampai di Jerman, penelitian saya publikasikan dalam bahasa Jerman, tahun 1988.

Maaf, jangan terusik dengan pertanyaan ini. Bung berkeluarga?

Tidak. Saya tak bisa. Bagaimana mengatakannya…. Saya tidak bisa bergaul dengan orang. Gara-gara latar belakang saya yang pernah tinggal lama di Uni Soviet. Kebanyakan orang tidak tahu. Tetapi, saya tahu karena saya anak diplomat. Bahwa setiap gerak kami dimata-matai. Malam, siang, pagi. Punya cewek pun dimata-matai.

Ketika saya dibuang ke Voronezh pun ada orang yang memata-matai saya. Jadi, kalau ada wanita yang mendekat, otomatis saya jadi enggan. Begitulah. Sudah di luar logika sehat.

Suatu waktu, ketika saya ditugaskan ke suatu tempat untuk penelitian, saya ditemani seseorang. Saya ditanya, bagaimana dengan wanita yang menemani itu. Saya katakan, terlalu kurus. Setelah itu, saya dicarikan wanita yang gemuk-gemuk he-he….

Di Jerman juga ada wanita yang berusaha memperkenalkan saya kepada seseorang yang persis seperti tipe wanita yang saya katakan (gemuk). Jadi, jelas wanita itu diberi tahu oleh KGB atau oleh siapa bahwa si Waruno senang wanita seperti ini.

Sejak itu saya pernah berhubungan dengan satu-dua wanita, tetapi tidak berdasarkan saling percaya. Untuk memercayakan rumah saya kepada dia, tak mungkin. Kalau sudah tak percaya, saya jadi tak bisa tidur. Jadi, sudah di luar logika. Saya menderita semacam penyakit psikologis, paranoia. Biarlah, yang penting saya hidup.

Saya punya lima adik perempuan. Empat di Belanda, satu di Kuba. Yang di Kuba menikah dengan orang Kuba. Bertemu ketika sama-sama belajar di Republik Demokrasi Jerman. Mereka menikah di Leipzig, Jerman Timur. Punya anak. Anak itu sekarang di Amsterdam. Yang di Bogor dan Jakarta hanya saudara sepupu saya.

Sudah pernah kembali ke Indonesia?

Baru dua kali. Sesudah saya menjadi warga negara Jerman, tahun 2000, saya pulang. Saya tadinya berharap bisa kembali menjadi warga Indonesia. Ketika utusan Gus Dur, Yusril Ihza Mahendra, menemui orang-orang yang dikatakan klayaban, saya juga datang ke Kedutaan Indonesia di Belanda. Namun, karena tak ada kelanjutan, saya putuskan jadi warga negara Jerman.

Tiga bulan setelah dapat paspor Jerman, bapak saya meninggal di Belanda. Karena dia memegang Bintang Gerilya, jenazahnya diongkosi untuk dibawa pulang ke Indonesia bersama keluarga, termasuk saya. Itulah kali pertama saya pulang ke Indonesia.

Kedua ketika saya diundang sebagai peserta workshop yang diselenggarakan Universitas Indonesia, 2004. Waktu itu, dibahas satu naskah kuno, dalam bahasa Melayu, dari tahun 1400-an. Ditemukan di Kerinci oleh Uli Kozok. Saya ikut membaca, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.Naskah itu belum menggunakan huruf Arab. Belum hurufJawi, masih kuno sekali. Naskah terbit di Singapura. Redakturnya, Uli Kozok, tinggal di Honolulu. Mengajar bahasa Indonesia di sana.

”…sejak Ibu saya harus pindah dari apartemen ke panti jompo, saya tak bisa lagi mengatakan di mana rumah untuk pulang. Sampai Februari 1967, paspor saya menyebutkan bahwa rumah saya di Indonesia. Sejak April 2000 rumah saya di Jerman. Tetapi, di antara dua kurun waktu itu, pasporku sekalipun tak bisa mengatakan kepadaku.” Begitu Bung menulis di blog. Jadi kalau ke Indonesia, Bung lukiskan sebagai apa?

Tidak pulang lagi, tetapi sebagai kunjungan. Saya tak punya tempat ke mana saya pulang. Di sini juga begitu…. Berangkat, ya, ke mana-mana….

Menyesalmenjalani hidup begitu?

Saya seorang realis. Saya senang dengan apa yang ada. Dan saya sudah terbiasa demikian.

Bung merasa kehilangan Tanah Air?

Ah… tadinya ya… Tetapi, setelah dua kali saya ke Indonesia, suasana di sana sudah tidak sama seperti yang saya kenal dulu. Saya memang lama berada di luar negeri. Seluruh waktu saya di Indonesia hanya lima setengah tahun.

Gaya hidup yang Bung tempuh?

Dalam hal makanan, saya hati-hati sekali. Minum kopi atau teh tak pakai gula. Untuk mencegah diabetes. Makanan yang mengandung banyak lemak saya hindari. Semua saya lakukan untuk mempertahankan profesi saya sebagai ahli. Saya tidak naik mobil. Saya bersepeda. Musim dingin, musim panas, saya naik sepeda. Kalau hujan, ya, saya ingat saya orang Bogor. Musim salju, saya ingat saya orang Rusia ha-ha-ha…. Begitulah selama 20 tahun.

Epilog

Berlin bukan Bogor si ”Kota Hujan”. Namun, di luar apartemen dua sejoli Toraja-Jerman ini gerimis terus membasuh kota. Sudah saatnya berpisah. Saya ikuti langkah Waruno menuruni tangga. Dia menenggelamkan kepala ke dalam topi dan mengayuh pedal, menerabas angin dan rintik hujan.

”Hati-hati. Jumpa lagi,” katanya melintas sambil menoleh.

MARTIN ALEIDA, MENULIS SEJUMLAH CERITA PENDEK, AKHIR FEBRUARI-MEI 2016 MERISET EKSIL INDONESIA DI LIMA NEGARA EROPA

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 September 2016, di halaman 7 dengan judul “Waruno Mahdi: Saya Masih Bisa Hidup”.

 

UBUNTU

*UBUNTU* – A very nice story from Africa …

The motivation behind the Ubuntu culture in Africa …

An Anthropologist proposed a game to the African tribal children. He placed a basket of sweets near a tree and made the children stand 100 metres away. 

Then announced that whoever reaches the basket first would get all the sweets in the basket.

When he said ‘ready steady go!’ …
Do you know what these children did?

They all held each other’s hands, ran together towards the tree, divided the sweets equally among themselves, ate the sweets and enjoyed it.

When the Anthropologist asked them why they did so,

They answered ‘Ubuntu’.

Which meant – “How can one be happy when the others are sad?”

Ubuntu in their language means:

“I am because we are!”

A strong message for all generations.

Let all of us always have this attitude and spread happiness wherever we go.

Let’s have an *Ubuntu* Life …

*I AM BECAUSE WE ARE*

Buku Kenangan PIM 2-XLIID

Teman2 PIM 2 angkatan XLII berikut buku kenangan semoga berguna.

cover-jpeg

Buku Kenangan Pim II XLII-D-editedbyEddySatriya

Puisi Terakhir Rendra

​HIDUPKU..

HIDUPMU..

HIDUP KITA..

*Puisi terakhir WS Rendra*……. Dibuat sesaat sebelum wafat_.

                            untuk menjadi renungan kita…….
Hidup itu seperti *UAP*,  yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !! 
Ketika Orang memuji *MILIKKU*,

aku berkata bahwa ini *HANYA TITIPAN* saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,

Bahwa rumahku adalah titipan-NYA, Bahwa hartaku adalah titipan-NYA, Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,

*MENGAPA DIA* menitipkannya kepadaku?

*UNTUK APA DIA* menitipkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku, 

apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,

_kusebut itu_ *MUSIBAH,*

_kusebut itu_ *UJIAN*,

_kusebut itu_ *PETAKA*,

_kusebut itu apa saja …_

Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah *DERITA*….

Ketika aku berdo’a, 

kuminta titipan yang cocok dengan

*KEBUTUHAN DUNIAWI*,

_Aku ingin lebih banyak_ *HARTA*,

_Aku ingin lebih banyak_ *MOBIL*,

_Aku ingin lebih banyak_ *RUMAH*,

_Aku ingin lebih banyak_ *POPULARITAS*,

_Dan kutolak_ *SAKIT*,

_Kutolak KEMISKINAN,_

Seolah semua *DERITA* adalah hukuman bagiku.

Seolah *KEADILAN* dan *KASIH-NYA*,  

harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku. 

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,

Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …

Betapa curangnya aku,

Kuperlakukan *DIA* seolah _Mitra   Dagang_ ku dan bukan sebagai *Kekasih!*

Kuminta *DIA* membalas _perlakuan baikku_ dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku …

_Duh TUHAN …_

Padahal setiap hari kuucapkan,

_Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya TUHAN, AMPUNI AKU, YA TUHAN …_

Mulai hari ini, 

ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur 

dalam setiap keadaan 

dan menjadi bijaksana, 

mau menuruti kehendakMU saja ya TUHAN …

Sebab aku yakin

*ENGKAU* akan memberikan anugerah dalam hidupku …

*KEHENDAKMU*  adalah yang ter *BAIK* bagiku ..

Ketika aku ingin hidup *KAYA*, 

aku lupa, 

bahwa *HIDUP* itu sendiri 

adalah sebuah *KEKAYAAN*.

Ketika aku berat utk *MEMBERI*,

aku lupa, 

bahwa *SEMUA* yang aku miliki

juga adalah *PEMBERIAN*.

Ketika aku ingin jadi yang *TERKUAT*, 

aku lupa, 

bahwa dalam *KELEMAHAN*,

Tuhan memberikan aku *KEKUATAN*.

Ketika aku takut *Rugi*, 

Aku lupa,

bahwa *HIDUPKU* adalah 

sebuah *KEBERUNTUNGAN*,

kerana *AnugerahNYA.*

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu *BERSYUKUR* kepadaNYA

Bukan karena hari ini *INDAH* 

kita *BAHAGIA*. 

Tetapi karena kita *BAHAGIA*,

maka hari ini menjadi *INDAH*.

Bukan karena tak ada *RINTANGAN* kita menjadi *OPTIMIS*. 

Tetapi karena kita optimis, *RINTANGAN* akan menjadi tak terasa.

Bukan karena *MUDAH* kita *YAKIN BISA*. 

Tetapi karena kita *YAKIN BISA*.!

semuanya menjadi *MUDAH*.

Bukan karena semua *BAIK* kita *TERSENYUM*. 

Tetapi karena kita *TERSENYUM*, maka semua menjadi *BAIK*,

Tak ada hari yang *MENYULITKAN* kita, kecuali kita *SENDIRI* yang membuat *SULIT*.

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar, cukuplah menjadi *JALAN SETAPAK* yang dapat dilalui orang.

Bila kita tidak dapat menjadi matahari, cukuplah menjadi *LENTERA* yang dapat menerangi sekitar kita.

Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang, maka *BERDOALAH* untuk kebaikan..𞍛𞠨

Why delay to help others?

“Your signature is your express ticket to heaven” (Satriya 2016, Jatinangor)