What next after the water law annulled | The Jakarta Post

Memang memprihatinkan ketiadaan peran pemerintah dlm pengelolaan sumber air, utamanya dalam penyediaan air kayak minum. Parahnya ini terbiarkan berlarut tanpa henti.

http://m.thejakartapost.com/news/2015/03/03/what-next-after-water-law-annulled.html

Memilukan penguasaan air kita, terbiarkan!

Negara Belum Siap Kelola Air

Pengusaha Minta Kepastian Hukum dari Pemerintah

JAKARTA, KOMPAS — Negara dan pemerintah hingga saat ini belum siap memenuhi kebutuhan air layak minum bagi seluruh rakyat. Peran swasta dalam pengelolaan sumber daya air pada beberapa tahun ke depan diperkirakan masih akan cukup besar.

Karyawan perusahaan air minum dalam kemasan sedang bersiap mendistribusikan ratusan galon air ke dalam truk pengangkut.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOKaryawan perusahaan air minum dalam kemasan sedang bersiap mendistribusikan ratusan galon air ke dalam truk pengangkut.

Saat ini, semua perusahaan air minum di Indonesia yang berjumlah 425 perusahaan, di bawah pengelolaan pemerintah daerah, melayani sekitar 10 juta sambungan rumah atau setara dengan 60 juta orang atau 25 persen dari total penduduk. Dari sisi volume, itu setara dengan 3,2 miliar liter pada 2013.

Bandingkan dengan volume penjualan air minum dalam kemasan milik swasta yang mencapai 20,3 miliar liter (2013). Tahun 2014, volumenya naik menjadi 23,9 miliar liter.

Data itulah yang antara lain memunculkan keraguan atas kesiapan pemerintah menyediakan air layak minum. ”Siap tidak siap, kalau sudah menjadi program pemerintah, kami harus siap,” kata Direktur Eksekutif Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia Subekti, di Jakarta, Senin (2/3).

Sebagai informasi, Mahkamah Konstitusi membatalkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (UU SDA) beserta enam peraturan turunannya, mengabulkan gugatan sejumlah pemohon organisasi dan perorangan. Kehadiran negara dalam mengelola sumber daya air, termasuk air layak minum, didesak untuk ditingkatkan lagi.

Di Jakarta, Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat mengatakan, pihak swasta tetap dapat berperan dalam penyediaan air minum. Namun, pemerintah harus tetap mengontrol penyediaan air minum bagi warga negara.

”Swasta dimungkinkan selama (penyediaan dan pengelolaan air) dikuasai negara. Dapat dikuasai melalui BUMN dan BUMD, jika ada sisa (kewenangan), dapat dikerjakan swasta,” ujarnya seusai diskusi di Gedung MPR/DPR.

content

Pendiri Indonesia Water Institute yang juga dosen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan, peran pemerintah harus diwujudkan dengan menekan harga air agar tidak mahal. Caranya, negara hadir melakukan investasi pada fasilitas pengolahan, transmisi, distribusi, dan sambungan rumah.

KOMPAS/JUMARTO YULIANUS
KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA

Jika akses air bersih layak minum saat ini tak terpenuhi, lanjut Firdaus, itu karena pengelolaannya buruk. ”Karena pemerintah tak menginvestasikan cukup, swasta memproyeksikan harga sesuai target keuntungan,” katanya.

Banyak kendala

Di sejumlah daerah, ketidakpuasan pelanggan masih mendominasi penanganan air bersih oleh PDAM. Di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, sekitar 17.500 pelanggan atau seperlima dari total pelanggan PDAM Balikpapan, kesulitan air bersih sejak lima hari lalu.

Pipa transmisi patah akibat longsor di lokasi pengembangan perumahan Grand City. Dampaknya, produksi air di Instalasi Pengolahan Air Minum Kampung Damai anjlok separuh, menjadi 200 liter per detik. ”Kami secepatnya memperbaiki,” ujar Gazali Rachman, Direktur Umum PDAM Balikpapan.

KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA

Di Nagari Kepala Hilalang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, sebagai bentuk protes, warga merusak pipa PDAM Padang Pariaman di Korong Pincuran Tujuh. Lubang besar sedalam 30 sentimeter digali sebelum melubangi pipa.

Sekitar 6.000 dari total 13.000 pelanggan PDAM di Padang Pariaman dan Kota Pariaman akhirnya tak mendapat aliran air bersih. ”Ini akar masalahnya bertahun-tahun,” kata Wali Nagari Kepala Hilalang Taufik Syafei.

Di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang dilintasi Sungai Kahayan, air PDAM mengalir, tetapi sering keruh karena terpengaruh tanah gambut. Warga harus lebih dulu menampung air agar kotoran mengendap.

”Kendati demikian, air itu layak. Hasil uji laboratorium, tidak ada ikutan bahan berbahaya,” kata Direktur PDAM Kota Palangkaraya Tridoyo Kertanegara.

Di luar masalah-masalah itu, sejumlah PDAM menyatakan kesiapan merespons tanggung jawab lebih membuka akses warga, di antaranya PDAM Tirta Dharma Makassar dan PDAM Surya Sembada Surabaya.

Layanan PDAM Tirta Dharma Makassar, Sulawesi Selatan, mencakup 72 persen atau 163.000 sambungan. Daftar tunggunya 70.000 sambungan pelanggan. PDAM itu punya lima instalasi pengolahan air dengan total debit air 2.850 liter per detik.

”Kami siap menambah jangkauan layanan bagi seluruh warga,” ujar Pejabat Sementara Direktur Utama PDAM Tirta Dharma Ibrahim Saleh.

Adapun layanan PDAM Surya Sembada Surabaya saat ini mencakup 92,6 persen dari total area, atau yang terbaik se-Indonesia. Area yang belum terlayani terkendala sengketa lahan atau terlalu jauh dari rumah pompa sehingga tekanan air tidak cukup.

”Kami berusaha sehingga sebelum tahun 2020 cakupan pelayanan kami 100 persen,” kata Manajer Sekretariat dan Humas PDAM Surya Sembada Ari Bimo Sakti. Total ada 527.000 pelanggan.

Untuk daerah yang belum terlayani, tahun 2015 akan dibangun rumah pompa. Total 16 tempat penampungan air akan dibangun mulai tahun ini. Kapasitas layanan air yang ada 10.000 liter per detik.

Tanggapan industri

Menanggapi kemungkinan pengurangan peran swasta dalam pengelolaan air, dunia usaha menyerahkannya kepada pemerintah. ”Berapa persen kami boleh mengakses, silakan pemerintah mengatur. Kami hanya mengikuti. Yang penting ada kepastian hukum,” kata Sekjen Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Suroso Natakusuma.

Kemarin, sejumlah asosiasi pengusahaan air bertemu dengan Kementerian Perindustrian. Mereka meminta pemerintah memperjelas dasar hukum di tengah kekosongan aturan teknis setelah pembatalan UU SDA.

Industri-industri pengguna air itu kemarin membentuk Forum Komunikasi Lintas Asosiasi Pengguna Air. Sementara ini terdapat 10 asosiasi yang bergabung, antara lain Aspadin, Asrim, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, serta Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi).

Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman mengatakan, pertemuan itu membahas UU SDA. Pelaku usaha memohon pemerintah memberikan kepastian berusaha setelah UU SDA dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK).

Secara khusus, Menteri Perindustrian Saleh Husin berharap segera ada peraturan pemerintah yang baru. ”Harus dikeluarkan secepatnya untuk memberikan kepastian hukum bagi industri. Di sisi lain, hak rakyat atas air juga harus terpenuhi,” ujarnya.

Sementara itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunggu sikap pemerintah.

”BKPM dan Kementerian Perindustrian sepakat, setiap investasi yang legal sebelum ada keputusan pembatalan UU SDA dari MK harus dilindungi. Namun, mekanisme apa setelah pencabutan, kami tidak bisa grusa-grusu(terburu-buru) mengeluarkan peraturan. Kami akan mengkaji,” kata Kepala BKPM Franky Sibarani.

Susun undang-undang

Secara terpisah, ahli hidrologi dari Universitas Diponegoro Semarang, Robert Kondiatie, menyatakan, pemerintah diminta segera menyusun undang-undang baru terkait pengelolaan air yang sejalan dengan tafsir MK, yaitu mengedepankan pengakuan hak setiap warga atas air.

”Prinsip dari undang-undang baru ke depan adalah mengembalikan air sebagai hak setiap warga sebagaimana diatur Undang-Undang Dasar 1945. Ini artinya, air tidak boleh dikomersialkan,” katanya.

Sejauh ini, rencana yang disiapkan pemerintah adalah menyusun rancangan peraturan pemerintah, bukan undang-undang.

(JOG/CAS/RYO/MED/ENG/ZAK/DEN/DKA/PRA/ESA/ETA/AIK/B07/GSA)

Hebat memang si Inarritu ini

ALEJANDRO GONZÁLEZ IÑÁRRITU

Kemenangan Strategi Meksiko

Salah satu momen paling kontroversial pada malam penghargaan Oscar 2015 adalah saat aktor Sean Penn memanggil peraih Oscar untuk film terbaik ”Birdman” atau ”The Unexpected Virtue of Ignorance”. ”Siapa yang memberi dia Green Card?” kata Sean Penn sebelum sutradara Alejandro González Iñárritu dan kru naik ke panggung.Celetukan yang dianggap menyinggung ras dan isu sensitif imigran yang dilontarkan kepada sutradara asal Meksiko itu dianggap menghina. Namun, di belakang panggung justru Alejandro yang mengapresiasi. ”Sean dan saya berteman secara brutal di mana kejujuran itu selalu ada,” katanya tentang aktor kawakan yang main dalam film besutannya, 21 Grams, tahun 2003.

Ucapan Sean itu justru semakin mengontraskan kemenangan strategi Meksiko dalam hegemoni industri film Hollywood. Tidak melawan secara frontal, tetapi berjalan bersama. Setelah Alfonso Cuaron menjadi sutradara Hispanik dan Meksiko pertama yang berhasil meraih Oscar dalam film Gravity tahun 2014, Alejandro mengukuhkan kemenangan Meksiko. Tahun ini, film Birdman menyabet Oscar untuk film terbaik, sutradara, dan skenario.

Alejandro, Alfonso, dan Guillermo del Toro adalah tiga sekawan sutradara Meksiko yang di Hollwood kerap dijuluki ”Three Amigos”. Alejandro selalu dipandang sebagai anak emas karena selain dianggap paling ganteng, dia juga paling sukses sebagai sutradara di masa awal karier mereka di televisi dan iklan di Meksiko.

Salah satu strategi mereka yang penting adalah kolaborasi mendirikan rumah produksi Cha Cha Cha. Rumah produksi ini digunakan ketiganya untuk meningkatkan posisi tawar dan menyatukan kekuatan ketiganya yang berbeda. Cha Cha Cha berhasil memasukkan ketiga sutradara nasional ini ke dalam film transnasional dengan menggaet Universal Pictures dan Focus Features untuk distribusi 21 Grams.

Hebatnya, kesepakatan ini diikat dengan klausul kebebasan kreatif bagi sutradaranya. Ini tentunya tidak lepas dari kepiawaian Alejandro membesut film Amores Perros pada tahun 2000 dan sepotong film 11 September. Kini, Cha Cha Cha sibuk menanam dan menyemai bibit-bibit baru sineas Meksiko untuk diorbitkan secara global.

Perjalanan hidup Alejandro membuatnya fasih dengan menjadikan film sebagai budaya transnasional, tidak sekadar mengutarakan masalah negaranya. Pada umur 17-19 tahun, ia bekerja di kapal kargo dan berkelana ke Eropa dan Afrika. Segmen-segmen yang dialaminya menjadi referensi dalam film-film berikutnya.

Latar pendidikan Alejandro sebenarnya bukan film. Sepulang berkelana, ia kuliah ilmu komunikasi di Universidad Iberoamericana, Meksiko. Kariernya cukup dikenal sebagai disc jockey di stasiun radio WMF di Meksiko sejak 1984. Latar musiknya ini kembali terasa dalam film Birdman yang kerap diisi dengan latar musik drum yang menurut Alejandro membuatnya merasakan tempo emosi dari film.

Baru pada 1990-an, Alejandro mendirikan rumah produksi Zeta Film di Meksiko. Ia mulai menulis dan memproduksi film pendek dan iklan. Ia lalu menambah ilmu filmnya kepada sutradara teater Polandia, Ludwik Margules, dan kepada Judith Weston di Los Angeles. Tahun 1995, Alejandro membuat film untuk televisi Meksiko, Behind the Money, dan membuat Zeta Film menjadi rumah produksi penting di Meksiko.

Karier internasionalnya untuk film panjang dimulai dengan Amores Perros tahun 2000. Film yang kental dengan situasi sosial Kota Meksiko itu memikat dengan jalinan plot nonliniernya yang menjadi tren baru dalam dunia film saat itu.

Film ini diputar di Festival Film Cannes dan mendapat perhatian dengan kemenangannya dalam Critics Weeks Grand Prize. Film ini membawa Alejandro eksis dalam film September 11 yang mengumpulkan sutradara muda terkemuka dari berbagai penjuru dunia untuk membuat secuplik interpretasi tentang serangan teroris 11 September.

Resep film yang sama dengan Amores Perros dipakai Alejandro dalam film panjang berikutnya, 21 Grams. Di film inilah Alejandro pertama kalinya mendapat dana untuk produksi bersama dengan rumah produksi film Amerika Serikat, dan yang paling penting adalah komitmen dengan perusahaan distributor Hollywood.

Film 21 Grams juga menggunakan aktor internasional, seperti Sean Penn, Naomi Watts, berdampingan dengan Benicio del Toro. Film ini menjadi salah satu nomine dalam kategori Film Asing Terbaik penghargaan Oscar 2004.

Pada tahun ini mulai terasa dampak strategi the Three Amigos. Mereka keluar dari tema yang merepresentasikan permasalahan di negaranya dan mulai mengadaptasi tema global.

Melawan tudingan bahwa sutradara Meksiko ini larut atau dikooptasi industri film Hollywood, Three Amigos mengajukan kekhasan persepsi mereka. Pendekatannya berbeda, seperti film-film Alejandro yang punya plot nonlinier, pendekatan yang satir terhadap masalah menjadikannya eksis dalam industri global yang predator.

Semakin menguat terlihat dalam film Alejandro, Babel, tahun 2006 yang menggugat globalisasi. Tema ini bisa dibilang mengakomodasi industri film Hollywood, tetapi juga pada semangat berbeda dari sutradara non-AS ini.

Film yang dibintangi Brad Pitt dan Cate Blanchett ini mengambil setting di beberapa negara dan secara kontras mengangkat konflik kontemporer dalam keluarga. Babel menang sebagai film terbaik Golden Globe dan menjadi nomine film terbaik Oscar tahun 2007. Yang menarik, film Alejandro berikutnya menggunakan bahasa Spanyol, Biutiful, tahun 2010.

Dalam Birdman, Alejandro menghadirkan tontonan yang secara teknis membuat terobosan luar biasa. Penonton awam pun bisa menikmati gerak kamera yang seakan satu kamera tak terputus dari awal hingga akhir film, seperti jadi penonton di dalam film. Terkait hal ini, Alejandro menolak membocorkan tekniknya, tetapi ia mengakui, sulit untuk menciptakan gambar yang seakan minim pemotongan itu. Film ini juga kaya secara emosi terkait dengan ego seorang aktor superhero yang mulai pudar.

Selain itu, film ini juga memadukan kenyataan dengan film. Salah satunya Michael Keaton sebagai pemeran utama. Ia aktor pemeran tokoh Batman (1989) dan Batman Returns (2002). Michael diikuti egonya yang berbentuk manusia burung berwarna hitam, mirip Batman.

Kepiawaian pribadi dan strategi bersama telah mengangkat Alejandro pada puncak Academy Award. Toh, ia lalu menggunakan acara itu untuk menyatakan opini politiknya, yaitu soal perbaikan imigrasi. Ia meminta agar Pemerintah Meksiko memerintah dengan lebih baik. Dan, kepada warga Meksiko yang kerap dipandang sebelah mata di AS, pernyataannya cukup keras. ”Saya berdoa mereka bisa diperlakukan dengan harkat dan martabat yang sama dengan para imigran yang sebelumnya datang ke negara para imigran ini,” katanya.

—————————————————————————
Alejandro González Iñárritu
♦ Lahir: Mexico City, 5 Agustus 1963
♦ Academy Awards:
-  2001: Film Berbahasa Asing Terbaik (Amores Perros-Meksiko, dinominasikan)
- 2007: Sutradara Terbaik (Babel, dinominasikan)
- 2007: Film Terbaik (Babel, dinominasikan)
- 2011: Film Berbahasa Asing Terbaik (Biutiful-Meksiko, dinominasikan)
- 2015: Sutradara Terbaik (Birdman atau The Unexpected Virtue of Ignorance)
- 2015: Skenario Asli Terbaik (Birdman atau The Unexpected Virtue of Ignorance)
- 2015: Film Terbaik (Birdman atau The Unexpected Virtue of Ignorance)

Harusnya ungkap, bukan singkap

Penggunaan kata singkap lebih banyak menyangkut fisik, bukan pemikiran atau non fisik. Jadi kata-kata yang lebih tepat rasanya adalah ungkap, mengungkap penyebab kekalahan, atau cukup juga dengan ungkap kekalahan. Semoga tidak diikuti oleh wartawan lain.

Pelatih City Singkap Penyebab Kekalahanya Atas Barcelona…

http://tv.detik.com/readvideo/2015/02/25/121002/150225018/080605361/pelatih-city-singkap-penyebab-kekalahanya-atas-barcelona?b99220270

That’ life. Let’s live

A Beautiful Message🌿

Arthur Ashe, The Legendary Wimbledon Player was dying of AIDS which he got due to Infected Blood he received during a Heart Surgery in 1983!
He received letters from his fans, one of which conveyed:
“Why did God have to select you for such a bad disease??”
To this Arthur Ashe replied:
50 Million children started playing Tennis,
5 Million learnt to play Tennis,
500 000 learnt Professional Tennis,
50 Thousand came to Circuit,
5 Thousand reached Grandslam,
50 reached Wimbledon, 4 reached the Semifinals, 2 reached the Finals and when I was holding the cup in my hand,
I never asked God “Why Me?”

So now that I’m in  pain how can I ask God “Why Me?”

Happiness keeps you Sweet!!
Trials keeps you Strong!! Sorrows keeps you Human!!
Failure keeps you Humble!!
Success keeps you Glowing!!
But only,
Faith keeps you Going!

Worth a Share :

Sometimes you are
unsatisfied with your life,
while many people in this world are dreaming of living your life..

A child on a farm sees a plane fly overhead & dreams of flying.
But, a pilot on the plane sees
the farmhouse & dreams of returning home.

That’s life!!
Enjoy yours…
If wealth is the secret to happiness,
then the rich should be dancing on the streets.
But only poor kids do that.👍

If power ensures security,
then VIPs should walk unguarded.
But those who live simply, sleep soundly.

If beauty and fame bring ideal relationships,
then celebrities should have the best marriages.

Live Simply.
Walk Humbly.
and Love Genuinely..!

Good morning 🌸 Happy Thursday

Senyum dulu friends

image — — Sent by WhatsApp

Kebebasan Berpendapat vs Kebebasan Berbuat.

Mencermati tajuk rencana Kompas di bawah ini memang menjadi persoalan mendasar adalah bagaimana kita menentukan batas. Batas antara kebebasan pers yang pantas dan patut menurut suatu tatanan komunitas, suku, negara, hingga dunia. Tentulah sangat tidak mudah. Ukuran Barat jelas tidak akan pernah bisa sama dengan Timur, dan seterusnya.

Di sisi lain, kebebasan bertindak juga tidaklah mudah dibatasi oleh berbagai aturan dan budaya. Memang aturan universal sudah tersedia, tetapi jika yang disinggung adalah masalah keyakinan, apalagi keyakinan menurut agama tertentu, jelas tidak bisa disamaratakan.

Komentar saya, satu yang pasti dalam kehidupan kita. “Tangan mencincang, bahu memikul!” Perdamaian dunia akan sangat indah jika bisa diwujudkan, namun selagi manusia dan kelompok tertentu tidak saling menghargai atau bahkan tega melecehkan dan meremehkan perasaan orang lain, jelas urusan nya tidak lagi urusan sepele.

—————————

JUMAT, 9 JANUARI 2015

TAJUK RENCANA

Tragedi ”Charlie Hebdo”

BAGAIMANA kejahatan kemanusiaan bisa dilakukan dengan begitu enteng, dengan begitu bebas, tanpa beban, dan tanpa ada perasaan bersalah?Pertanyaan itu kita ajukan di sini sebagai pembuka ulasan singkat ini, berkaitan dengan penyerangan bersenjata terhadap kantor majalah Charlie Hebdo, di Paris, Perancis, kemarin. Penyerangan yang dilakukan tiga orang itu menewaskan 12 orang dan melukai 11 orang, di antaranya kritis.

Apa pun alasannya, penyerangan bersenjata yang menewaskan sejumlah orang tersebut telah melukai rasa kemanusiaan. Barangkali, tidak hanya sekadar melukai rasa dan nilai kemanusiaan, tetapi bahkan mencampakkan nilai-nilai dan rasa kemanusiaan.

Itulah sebabnya, penyerangan bersenjata itu segera memunculkan reaksi dan komentar yang bernada menyesalkan, mengecam, prihatin, dan juga ungkapan perlawanan dari para pemimpin negara dari berbagai penjuru dunia, para pemimpin agama, berbagai lapisan masyarakat, termasuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon.

Tidak sedikit yang berpendapat bahwa serangan bersenjata ke kantor majalah satir—yang dikenal dengan kartun-kartunnya yang tajam, keras, keterlaluan, bahkan tidak jarang menyakitkan—itu sebagai penyerangan terhadap kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, yang merupakan batu sendi demokrasi. Bahkan, ada yang berpendapat sebagai serangan terhadap peradaban.

Memang, kemudian muncul pertanyaan, di mana batas antara kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi dan provokasi? Sebab, oleh karena alasan latar belakang kultur, ideologi, dan pandangan hidup, yang oleh satu pihak dianggap sebagai bentuk ekspresi kebebasan berpendapat, sebagai perwujudan dari nilai-nilai demokrasi, tetapi oleh pihak lain dianggap sebagai provokasi yang menyakitkan.

Benar bahwa pers adalah salah satu pilar demokrasi. Tanpa ada kebebasan pers tidak ada demokrasi. Namun, pemahaman, definisi kebebasan tersebut berbeda-beda di banyak negara. Bagi negara-negara Barat, mungkin, kebebasan adalah kebebasan; sementara kita di Indonesia menambahkan dengan kata ”bertanggung jawab”, jadi kebebasan yang bertanggung jawab.

Terlepas dari segala perdebatan dan beda pendapat itu, satu hal yang kita harapkan bahwa pihak berwenang di Perancis segera dapat mengungkap latar belakang penyerangan bersenjata yang menelan korban jiwa tersebut. Dengan demikian, semua menjadi terang benderang sehingga tidak menimbulkan berbagai ragam spekulasi yang bisa-bisa memperkeruh suasana, dan memancing tindakan-tindakan yang juga tidak bertanggung jawab.

Sebab, bukan mustahil tindakan semacam itu, yang oleh Presiden Perancis Francois Hollande disebut sebagai ”tindakan terorisme”, bisa muncul dan terjadi di mana-mana.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.